Wednesday, February 18th, 2009 20:53 by
agroindonesia
Print this pageJakarta– Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Iwantono Sutrisno mendesak pemerintah untuk segera menuntaskan permasalahan kelangkaan pupuk yang selalu dialami petani saat menjelang musim tanam.“Impor pupuk itu kan hanya seperti orang sakit diberi aspirin, hanya solusi jangka pendek. Ini tinggal political will pemerintah untuk menyelesaikannya,” kata Iwantoro di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, Indonesia mampu memproduksi pupuk sendiri tanpa perlu mengimpor. Bahkan, saat ini seharusnya pemerintah mendorong produksi dan penggunaan pupuk organik oleh petani untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
“Penyuluhan untuk membuat pupuk organik bagi rakyat mestinya dianggarkan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Anggota Komisi VI DPR, Ariabima juga sependapat dengan Iwantoro. Menurut dia, pemerintah seharusnya bisa mendorong peningkatan kapasitas produksi pabrik pupuk yang ada daripada mengimpornya.
“Pabrik AAF itu, misalnya, kan bisa didorong untuk berproduksi,” ujarnya.
Aria menambahkan, keputusan pemerintah untuk mengimpor tidak memiliki dasar yang kuat. “Kalau alasannya untuk mengantisipasi musim tanam tiga dan empat, kan tidak semua petani menanam sampai empat kali,” jelasnya.
Sebelumnya, dalam kunjungan ke PT Pupuk Kujang, Presiden Yudhoyono mengumumkan rencana impor pupuk sebanyak 500 ribu ton yang akan ditugaskan kepada PT Petrokimia Gresik dan PT Pupuk Kujang masing-masing 250 ribu ton.
Presiden mengatakan, keputusan impor pupuk itu merupakan upaya untuk menjamin ketersediaan pupuk urea di lapangan. Keputusan itu diambil pemerintah karena menyadari kapasitas industri pupuk di dalam negeri yang memiliki keterbatasan akibat sulitnya pasokan gas sebagai bahan utama pupuk urea maupun usia tua pabrik yang mengakibatkan efisiensinya berkurang.
Presiden mengatakan, pemerintah memperkirakan kebutuhan pupuk pada 2009 dan 2010 sebanyak tujuh juta ton dengan nilai yang semakin meningkat setiap tahun. Pemerintah telah menyiapkan anggaran hingga Rp17 triliun untuk subsidi pupuk bagi para petani pada 2009.
Selain menjamin ketersediaan stok pupuk dalam negeri dengan mengimpor, Presiden mengatakan, pemerintah akan mengambil langkah-langkah pengawasan agar penggunaan pupuk di lapangan optimal dan efisien.
Untuk itu, pemerintah berjanji memperbaiki masalah distribusi pupuk agar pupuk bersubsidi dapat tepat sasaran.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, Departemen Perdagangan saat ini tengah menjajaki kemungkinan impor pupuk urea dari negara-negara yang diperkirakan dapat memberikan harga yang tepat. Negara yang sudah dijanjaki, menurut Mari, antara lain China, Ukrania, dan beberapa negara di Timur Tengah. (antara)