Padang– Harga bahan olah karet (bokar) di sentra kebun karet rakyat di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat (Sumbar) memasuki pekan ke tiga Pebruari 2009 kembali anjlok dan penurunannya rata-rata Rp1.000/kg.Data dihimpun pada tingkat petani di sentra itu, Kamis (19/2), menyebutkan, posisi harga bokar mengalami turun sejak akhir bulan lalu, kini untuk kualitas bagus posisi harga Rp4.700/kg untuk kadar kering 60 persen.
Sementara itu, posisi harga bokar kualitas sedang menjadi Rp3.500/kg dan awal bulan ini masih pada kisaran Rp4.500/kg di nilai pedagang pengumpul setempat.
Suhaini, petani juga pengurus Kelompok Tani di sentra Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, menyebutkan, harga bokar kian melemah di tengah sejumlah kebutuhan pokok membumbung.
Meski petani sejak sebulan terakhir mulai kembali normal menyadap karet, namun hasil diraih belum seimbang dengan pengeluaran keluarga.
“Curah hujan belakangan sudah mulai berkurang, tetapi harga karet malah anjlok. Ini pukulan bagi petani di tengah biaya hidup tetap tinggi,” katanya.
Kondisi itu, menyebabkan sebagian petani kurang bergairah menyadap pohon karetnya, bahkan ada yang beralih ke usaha lain, menjadi buruh panen dan perawatan kelapa sawit.
Ia juga menyebutkan, komoditi lainnya juga mengalami turun seperti biji pinang dari Rp3.800/kg menjadi Rp3.500/kg untuk kadar kering 80 persen.
Hal yang sama juga dialami harga kakao turun menjadi Rp20.000/kg dari sebelumnya Rp23.000/kg di tengah produksi tergolong baik.
Dalam kesempatan terpisah, Zubir (50) pedagang pengumpul Bokar di sentra itu, menyebutkan, sepekan terakhir posisi harga bokar kembali turun di tengah hasil produksi petani masih terbatas.
Turunnya harga tingkat petani, guna penyesuaian harga pada tingkat industri di Kota Padang.
“Pedagang pengumpul tentu menyesuaikan harga beli tingkat industri, maka dampaknya harga tingkat petani menjadi rendah,” ujarnya.
Data Dinas Perkebunan Kabupaten Dharmasraya, luas areal kebun petani yang produksi mencapai 47.356 hektar dengan produksi 24.100/tahun dan masih banyak sedang dikembangkan petani setempat.
Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Cabang Padang, Djaswir Loewis, menyebutkan, pasokan bokar produksi kebun karet rakyat di sentra Sumbar ke tingkat industri di Kota Padang, terus berkurang di tengah harga beli tingkat petani rendah.
“Sejak tiga bulan terakhir pasokan bahan baku industri karet di Kota Padang mengalami penurunan sekitar 50 persen, sehingga hampir kehabisan bahan baku,”katanya.
Kendati, dua bulan di penghujung tahun lalu hingga kini sejumlah industri karet, operasinya tidak maksimal karena pasokan bokar terus berkurang.
Terkait, saat posisi harga rendah menyebabkan minat petani berkurang untuk menyadap pohon karetnya, meskipun ada kemungkinan pedagang pengumpun menahan stoknya menunggu pergerakan harga.
Industri sudah mulai membayar gaji pekerja, meski tak beroperasi, sehingga biaya yang dikeluarkan perusahaan tetap besar.
Menurut dia, kondisi ini terjadi satu bukti sudah mulai secara bertahap dampak krisis keuangan global dirasakan industri karet. Hal ini, tambahnya, diperparah permintaan negara tujuan ekspor juga makin melemah, karena mereka lebih mengolah stok yang ada. (antara)