Friday - February 20th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Ekspor Mebel Jatim Bakal Rontok 20%
Post Info Friday, February 20th, 2009 14:55 by agroindonesia Print Print this page

Surabaya– Nilai ekspor industri mebel Jawa Timur pada tahun ini dperkirakan menurun 15%-20% dari pencapaian nilai ekspor tahun 2008, yang pada tahun lalu menyumbang 35-40 persen dari total nilai ekspor nasional saat itu sebesar 2 miliar dolar Amerika Serikat (AS).“Penurunan nilai ekspor ini, dikarenakan adanya krisis ekonomi global tahun 2008, sehingga mengurangi pembelian dari negara tujuan ekpor utama Jatim, seperti AS dan beberapa negara Eropa,” kata Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komda Jatim, Oetarjo Hariohoedojo, di Surabaya, Jumat.
Hal ini, kata dia, karena industri mebel saat ini masih perlu dukungan melalui upaya menembus pasar ekpor yang lebih baik. Upaya itu bisa dengan peningkatan daya saing melalui sertifikasi VLO, CoC-FSC. Apalagi, sekarang sertifikasi adalah syarat wajib bagi perusahaan mebel yang berorientasi ekspor.
“Di Jatim, saat ini hanya ada 14 perusahaan yang memiliki orientasi ekspor. Jika mereka telah memiliki sertifikasi itu, maka nilai impor AS sebesar 80 miliar dolar AS setahun dapat terserap ke industri mebel Jatim,” katanya.
Di sisi lain, ia tidak terlalu optimistis mengejar nilai impor AS tersebut. Pihaknya berharap, dengan sertifikasi itu, pada tahun ini industri mebel di Jatim dapat memperoleh 1 miliar dolar AS dari sektor ini.
“Jika hal itu dapat dicapai, pabrik mebel di Jatim akan mengalami order berlebih selama 2009,” katanya.
Saat ini, kata dia, penyebab turunnya nilai ekspor ke AS karena semakin banyak aturan yang memberatkan industri mebel. Selain itu, karena mahalnya biaya tes komponen dari produk yang akan dieskpor ke pasar internasional.
Semisal, untuk produk ekspor “baby furniture”. Pembeli pasti akan meminta semua komponen produk dites dan dicek. Mulai dari bahan cat yang digunakan, apakah mengandung timbal atau tidak.
“Padahal, tes komponennya memerlukan waktu lebih dari enam pekan. Sementara, badan veritas yang ada saat ini, belum tentu bisa melakukan semua komponen tes. Akhirnya, tes ini harus dilakukan ke negara lain, misalnya, Hongkong, Cina, dan AS,” katanya menjelaskan.
Menurut dia, untuk biaya tes komponen saja, satu pabrik produk “baby furniture” yang beriorientasi ekspor harus mengeluarkan sekitar 4.000-5.000 dolar AS.
“Biaya itu nisbi tidak murah dan membuang banyak waktu kami untuk memasarkan produk. Di sisi lain, potensi pasar produk ini cukup besar, di AS tiap tahun bisa lahir empat juta bayi,” katanya menyebutkan.
Ia mengakui, pasar produk mebel dalam negeri di pasar internasional cukup besar. Awal tahun 2009, sudah banyak calon pembeli dari luar negeri yang menjajaki produk mebel nasional. Namun, mereka belum melakukan “rising order”.
“Fase penjajakan pembeli luar negeri itu sekitar tiga bulan. Pembeli yang telah datang melakukan penjajakan yaitu AS dan negara-negara Eropa. Bahkan, mereka sempat meminta kami untuk memberi harga jual produknya dengan diskon lima persen,” katanya.
Hal lain pendukung pasar industri mebel ini, pemerintah perlu memperpendek proses pengurusan restitusi pajak. Karena, selama ini proses restitusi pajaknya menghabiskan waktu antara lima sampai enam bulan.
“Waktu ideal proses tersebut, seharusnya cukup dua bulan. Hal ini karena sangat mempengaruhi besaran aliran dana perusahaan,” kata Oetarjo menambahkan. (antara)

Leave a Reply