Wednesday - February 25th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Target Tanam 100 Juta Pohon Tercapai
Post Info Wednesday, February 25th, 2009 17:19 by agroindonesia Print Print this page

Menhut MenanamIndonesia secara impresif berhasil mencapai target aksi penanaman sebanyak 100 juta pohon. Untuk tahun 2009, Indonesia akan fokus untuk kegiatan aksi penanaman One Man One Tree (Satu Jiwa Satu Pohon).

Aksi tanam serentak 100 juta pohon dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada melalui kegiatan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional akhir tahun 2008.
“Dari laporan yang masuk, target yang dicanangkan telah tercapai. Sampai saat ini jumlah pohon yang tertanam telah terealisasi sekitar 109 juta pohon atau lebih dari 100%,” kata kepala Pusat Informasi Departemen Kehutanan Masyhud, pekan lalu.
Dia juga menjelaskan untuk Gerakan Perempuan Tanam dan Program Ketahanan Pangan yang menjadi bagian integral dari aksi penanaman serentak realisanya juga telah mencapai 100%. Dari 5.010.000 pohon yang direncanakan untuk ditanam, telah tertanam pohon sebanyak 5.083.467 pohon
“Hasil tersebut tak lepas dari peran masimal seluruh elemen masyarakat yang mau bekerja keras untuk mencapai target yang dicanangkan,” kata dia.
Setelah target spekatkuler penanaman 100 juta pohon tercapai, tahun 2009 Indonesia akan fokus untuk mencapai target yang lebih besar. Target itu adalah aksi tanam one man one tree yang seperti ditargetkan oleh Presiden Yudhoyono. “Jika penduduk Indonesia saat ini berjumlah 230 juta jiwa, maka pada 2009 ini kita harus dapat menanam sebanyak 230 juta pohon,’ katanya.
Berbeda dengan aksi tanam serentak pada 2007 dan 2008 yang dimulai setelah dicanangkan, untuk aksi tanam one man one tree, aksi tanam sudah dimulai sejak awal tahun. “Terhitung Februari 2009 aksi tanam one man one tree sudah dilaksanakan,” kata Masyud.
Aksi tanam serentak belakangan memang menjadi agenda rutin masyarakat Indonesia. Mulai dilakukan pada tahun 2007, aksi tanam kala itu mentargetkan penanaman 79 juta pohon dengan realisasi yang lebih dari 100 juta pohon.
Menurut Masyhud, aksi tanam serentak jangan hanya dipandang dari besarnya target yang dicanangkan dan pencapaian target. Namun juga harus dilihat dari bagaimana aksi tersebut bisa menggerakkan masyarakat untuk berperan serta dalam rehabilitasi lahan kritis.  “Aksi tanam bukan sekadar ingin mencapai target semata tapi juga mengajak masyarakat untuk menyadari pentingnya kegiatan penghijauan,” kata dia.
Sejauh ini, tujuan tersebut tercapai dengan tinggi peran masyarakat dalam aksi tanam tersebut. Masyarakat secara sukarela mau menyisihkan dana yang dimilikinya untuk membeli bibit dan menanamnya di lahan-lahan yang tersedia. Menurut Masyhud, dana yang dimiliki pemerintah memang tak cukup untuk menyediakan seluruh bibit untuk mendukung pelaksanaan aksi tanam serentak. “Namun dengan kontribusi masyarakat yang begitu luas, dana minim yang dimiliki pemerintah bukanlah masalah,” katanya.
Pada aksi tanam serentak 100 juta pohon, pemerintah cq Dephut memang hanya menyediakan 52 juta batang bibit. Sementara sisa kebutuhan bibit dipenuhi oleh partisipasi aktif berbagai elemen masyarakat. Termasuk masyarakat, institusi pemerintahan, pelaku bisnis, dan  lembaga swadaya masyarakat.
Masyhud mengingatkan, tutupan vegetasi di kawasan hutan maupun di lahan milik masyarakat mampu berperan signifikan sebagai penyimpan dan penyerap emisi karbon atau gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global. Jadi, dengan upaya memperbanyak pohon dan tanaman serta melestarikan hutan yang ada sama artinya dengan menyelamatkan dunia dari dampak negatif pemanasan global.  “Kita harus berupaya keras mempertahankan keutuhan ekosistem hutan dan melakukan penanaman pohon secara besar-besaran. Ini adalah tugas kita bersama,” katanya. Sugiharto


Giam Siak Kecil Diusulkan Jadi Cagar Biosfer

Giam siak kecil

Kawasan Giam Siak Kecil diusulkan untuk dikembangkan menjadi cagar biosfer untuk melindungi keanekeragaman hayati yang ada di sana. Inisiatif tersebut datang dari Sinar Mas Forestry (SMF) 34yang berkolaborasi dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan mendapat dukungan dari Departemen Kehutanan pemerintah setempat.
“Usulan pembangunan cagar biosfer yang diajukan Sinar Mas ini adalah pertama kalinya di dunia datang dari sektor industri. Kami berharap kepedulian ini dapat terus berjalan dengan konsisten sekaligus menjadi contoh serta awal yang baik bagi kalangan industri untuk selalu peduli pada pelestarian keanekaragaman hayati. Sementara riset kolaboratif yang kita inisiasi sekarang dapat menjadi awal positif,” kata Profesor Endang Sukara, Ketua Komite Nasional Man and the Biosphere Indonesia yang juga Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI.
Sementara Direktur SMF Subardjo menyatakan sebagai salah satu negara pemilik hutan tropis terluas di dunia, Indonesia dihadapkan pada dua hal penting yakni optimalisasi industri kehutanan hingga mampu menjadi motor penggerak perekonomian dan pelestarian keanekaragaman hayati yang begitu kaya pada setiap jengkal hutan seluas 120 juta hektar ini.
Untuk menciptakan sinergitas kedua hal itu, bukan hal mudah. SMF, kata Soebardjo, sebagai sebuah institusi bisnis memahami jika harmonisasi tersebut perlu dijalankan. “Meski tidak mudah, ini dapat diciptakan. Di Riau, SMF mengusulkan pembangunan sebuah cagar biosfer (biosphere reserve),” ujar Subardjo.
Alasannya, dia melanjutkan, sebagai konsep pengelolaan lansekap, keberadaan sebuah cagar biosfer akan menjadi wahana yang dapat menjalankan berbagai peran, yaitu fungsi konservasi,  fungsi pembangunan, dan terakhir fungsi pendukung logistik. Manakala ketiga fungsi tersebut berjalan dengan baik, lanjut dia, maka diyakini akan mampu membangun dan memelihara harmonisasi antara manusia dan lingkungannya.
Sebelumnya pada tahun 2004, SMF bersama mitra kerjanya telah menyisihkan areal hutan produksi seluas 72.255 hektar yang menjadikan kawasan Giam Siak Kecil dan Bukit Batu tergabung menjadi sebuah kawasan konservasi. Hutan rawa gambut Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil seluas 84.000 hektar dan Suaka Margasatwa Bukit Batu seluas 21.500 hektar merupakan bagian dari eco-region hutan Sumatera, dimana LIPI mengidentifikasi areal tersebut didiami sedikitnya oleh 159 jenis burung, 10 jenis mamalia, 13 jenis ikan, 8 jenis reptil berikut 52 jenis tumbuhan langka dan dilindungi. Kondisi tersebut melatarbelakangi inisiatif SMF menggabungkan dua kawasan tadi, sehingga tercipta areal inti cagar biosfer seluas 178.000 hektar.
“Kami sejak awal sangat mendukung usulan cagar biosfer ini, karena untuk menghadapi berbagai permasalahan di kedua Suaka Margasatwa yang ada, kami memerlukan kerjasama berbagai pihak khususnya sektor swasta yang berada di sekitar kawasan konservasi tersebut. Sementara rambu-rambu untuk kerjasama telah ada yaitu Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-11/2004,” kata Rachman Sidik, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau.
Untuk mendukung inisiatif pembentukan Cagar Biosfer Giam Sika Kecil telah ditandatangani kesepakatan Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Lansekap Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Provinsi Riau. Penandatanganan nota kesepahaman itu akan menjadi landasan bagi para pihak terkait dalam membangun kerjasama penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi di bidang ekohidrologi, sumber daya alam hayati hutan rawa gambut, serta sosial ekonomi masyarakat lokal. Termasuk pengembangan stasiun penelitian pendukung di lapangan serta penyusunan beragam dokumen dan publikasi ilmiah guna mendukung sosialisasi hasil penelitian.
Sejauh ini Indonesia baru memiliki 6 cagar biosfer, dimana dua cagar terakhir, yaitu Cagar Biosfer Gunung Leuser dan Pulau Siberut ditetapkan pada tahun 1981. Artinya setelah 27 tahun Indonesia baru akan memiliki satu lagi cagar biosfer. Sugiharto

Leave a Reply