Baru-baru ini harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) ramai dibicarakan. Di Jambi, contohnya. Satwa langka yang menduduki puncak piramida dalam ekosistem Sumatera itu menerkam manusia. Jika sudah begini, salah siapa?
Menteri Kehutanan (Menhut), Malam Sambat Kaban menegaskan jangan menyalahkan harimau yang telah menerkam manusia. “Memasuki kawasan hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi terbatas tidak boleh sembarangan. Apalagi sudah tahu, jika kawasannya terdapat satwa liar seperti harimau,” ujar Kaban.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, Didy Wurjanto pun senada dengan Menhut. “Seperti larangan menyebrang di highway. Salah sendiri jika tertabrak,” kata Didy pada Agro Indonesia di sela Lokakarya Nasional Orangutan pekan lalu di Bogor.
Kendati demikian, Menhut meminta jajaran Unit Pelaksana Teknis Departemen Kehutanan (Dephut) untuk intensif menyerukan pada masyarakat agar patuh pada larangan memasuki hutan tanpa izin.
Berdasarkan catatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, selama Januari hingga Februari 2009 ada delapan korban harimau Sumatera. Enam diantaranya meninggal dunia. Menurut Didy, semua korban itu diperkerjakan cukong untuk menebang kayu tanpa izin di Hutan Produksi Terbatas (HPT) Desa Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi.
Salah satu korban keganasan harimau Sumatera adalah Khairi (17). Warga Masuji Lampung ini tewas diterkam si raja hutan di kawasan HPT Desa Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi yang berbatasan dengan Sumatera Selatan (Sumsel) pada 22 Pebruari 2009 lalu.
Pada saat itu Khairi berada di pondoknya yang berada dalam kawasan hutan Sumsel. Setelah diterkam, tubuhnya diseret harimau. Korban baru ditemukan pada keesokan harinya dalam keadaan tak bernyawa. Diduga kuat, almarhum tewas oleh harimau Sumatera jantan.
Meski sudah banyak korban yang tewas di kawasan HPT Sungai Gelam, namun sejumlah warga tetap nekad memasuki kawasan itu demi kayu. Akibatnya, harimau yang terusik itu mengamuk. “Sebagian masyarakat percaya bahwa harimau itu merupakan jelmaan “orang Jambi” yang marah karena kawasan hutannya ditebangi,” kata Didy.
Yang jelas, peristiwa tersebut menambah daftar catatan kelam konflik manusia dan mamalia besar itu. World Wide Fund For Nature (WWF) Indonesia mencatat sepanjang 2006 sedikitnya terjadi 15 konflik. 11 diantaranya terjadi di luar lanskap Taman Nasional (TN) Tesso Nilo dan TN Bukit Tigapuluh. Sedangkan enam bulan pertama tahun 2007 terjadi 6 konflik.
Sedangkan data dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Dephut menunjukkan akibat konflik itu sebanyak 40 orang meninggal dunia antara 2000 hingga 2004.
Konversi lahan seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, perluasan pemukiman, transmigrasi baik di dalam maupun sekitar habitat harimau Sumatera kerap berujung pada konflik diantara keduanya. Pasalnya, habitat alaminya semakin sempit dan terkotak-kotak menjadi bagian yang tak utuh. Kondisi itu menyebabkan keduanya mudah dan sering bersinggungan.
Bahkan, dibandingkan perburuan dan perdagangan ilegal, konflik ini diyakini merupakan ancaman utama bagi kelestarian satwa yang masuk kategori sangat terancam punah oleh The International Unions for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) itu.
Tingginya konflik itu didokumentasikan secara komprehensif oleh Nyhus dan Tilson (2004). Mereka mencatat berturut-turut 48, 36 dan 34 konflik terjadi di Provinsi Sumatera Barat, Riau, Aceh antara tahun 1978 hingga 1997. Dalam kurun waktu tersebut 146 orang meninggal dunia, 30 luka-luka dan 870 ternak terbunuh.
Hasil kajian lain yang dilakukan The Wildlife Trade Monitoring Network Southeast Asia (TRAFFIC SEA) mengungkapkan antara 1998 hingga 2002, sedikitnya 35 harimau Sumatera mati dibunuh karena konflik dengan manusia.
Saat ini harimau Sumatera yang merupakan satu dari 8 sub-spesies harimau yang ada di dunia ini diperkirakan hanya 400 individu yang tersisa di alam liar. Saudaranya, harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan harimau Bali (Panthera tigris balica) sudah dinyatakan punah. Masing-masing tahun 1940 dan 1980. Fenny
sangat menarik, terima kasih