Tuesday - March 24th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Cabai Merah tak Lagi Merana
Post Info Tuesday, March 24th, 2009 15:52 by agroindonesia Print Print this page

Cabai (Capsicum spp) selain digunakan sebagai penyedap masakan juga bermanfaat sebagai penggugah selera makan. Khasiat penggugah selera makan tersebut sebenarnya dirangsang oleh minyak atsiri yang ditimbulkan cabai saat dikunyah atau oleh aromanya yang terhirup hidung sebelum disantap.

Zat capsaicin yang terkandung di cabai juga merangsang keluarnya air liur di mulut dan merangsang kerja lambung sehingga pencernaan makanan menjadi lancar. Demikian hebatnya, cabai hingga setiap orang tak pernah meninggalkannya untuk masakan sehari-hari, hingga harga cabai yang melambungpun di saat musim penghujan tetap saja diburu.

Menurut penelitian, selain mengandung capsaicin, cabai juga mengandung capsidicin  yakni senyawa yang terdapat di dalam biji ini berguna untuk memperlancar sekresi asam lambung dan mencegah infeksi sistem penvcernaan.

Senyawa lain yang juga dimiliki cabai  adalah capsicol. Senyawa ini bisa berfungsi sebagai pengganti minyak kayu putih yang berguna untuk menbguirangi gangguan rheumatik, sakit gigi, sesak nafas dan gatal-gatal. Penelitian  dari Case Western Reserve University bahkan menunjukkan penderita penyakit tulang dapat disembuhkan  atau berkurang rasa sakitnya setelah menggunakan capsaicin 4 kali dalam sehari. Capsaicin juga mengandung zat ekspektoran yang aktif meredakan batuk, mengencerkan lendir dan meringankan asma.

Konsumsi cabai merah segar akhir-akhir ini terus mengalami peningkatan hingga daerah-daerah yang merupakan sentra penanaman cabai merah lokal tidak mampu memenuhi permintaan untuk skala nasional yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Karenanya, sejak tahun 2008 Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang memperluas peta penanaman cabai merah hingga 300 hektare  di tujuh kecamatan yakni Karangploso, Tumpang,  Ponco Kusumo, Dampit, Gondang Legi, Wajak dan Pagelaran.

Kepada Agro Indonesia di kantornya, Kabid Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab. Malang, Ir Mukhtar, M Agr menjelaskan, diperluasnya sentra penanaman cabai di Kabupeten Malang  untuk mengantisipasi agar petani cabai merah tidak lagi merana di saat musim hujan. Mengingat, tanaman cabai rentan hama di saat musim penghujan.

“Kendala utama penyebab rendahnya  produksi cabai skala nasional apalagi di musim penghujan terutama keterbatasan teknologi budidaya yang dimiliki petani karena kurangnya informasi teknologi. Pada umumnya petani masih menggunakan benih lokal yang diturunkn terus menerus dan belum menggunakan pemupukan secara berimbang serta belum mengenal sistem budidaya dengan mulsa plastik,” ujar Mukhtar.

Menurutnya, tanaman cabai sebenarnya merupakan tanaman yang cocok tumbuh di dataran rendah sampai menengah. Namun, dewasa ini para produsen benih sudah mampu menghasilkan benih cabai yang bisa tumbuh di dataran rendah, menengah sampai tinggi sekitar 2500 meter dpl.

Karenanya, Kabupaten Malang tidak hanya mengembangkan sentra cabai di dataran rendah hingga menengah tetapi juga membidik dataran tinggi seperti Ponco Kusumo.

Dikatakan Mukhtar, sejak tahun 2008 Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang telah mengembangkan Sekolah Lapang (SL) pada kelompok tani Sumber urip II serta memberikan bantuan DEM Area (Percontohan) tanaman cabai seluas 1 hektar di desa Wonorejo-Ponco Kusumo.

Untuk pengembangan tanaman cabai di tujuh kecamatan seluas 300 ha tersebut investasi yang digulirkan petani Rp40 juta/ha mulai dari tanam hingga panen termasuk penggunaan benih berlabel, sedangkan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang melakukan kerjasama dalam bentuk penyuluhan, pengendalian hama dan penyakit secara intensif.

“Untuk pertumbuhan yang optimal, tanaman cabai membutuhkan intensitas cahaya matahari sekurang-kurangnya selama 10-12 jam guna fotosintesis, pembentukan bunga dan buah serta pemasakan buah. Jika sinar matahari yang dibutuhkan kurang tau ternaungi maka umur panen cabai akan lebih lama, batangnya lemas, tanaman meninggi dan mudah terkena penyakit terutama yang disebabkan bakteri dan cendawan,” ucapnya..

Agar budidaya cabai bisa sukses, dia menayarankan agar lokasi penanaman yang dipilih harus bebas dari tanaman-tanaman pelindung yang dapat mengha-langi sinar matahari. Dan yang paling penting untuk penanaman cabai disarankan menggunakan ajir.  Shanty

 

Bisa Tumbuh di Segala Jenis Tanah

Pada musim hujan seperti saat ini, bertanam cabai khususnya cabai hibrida sebenarnya dapat  dilakukan di segala jenis tanah. Tanaman semusim ini bisa tumbuh di tanah andosol, regosol, latisol, ultisol hingga grumosol. Namun, tanaman ini paling cocok hidup di tanah  lempung berpasir yang gembur dan banyak mengandung unsur hara.

Jika tanah yang akan ditanami cabai merupakan tanah liat sukar menyerap air atau drainasenya jelek  dikhawatirkan muncul serangan cendawan Fusarium sp atau bakteri Pseudomonas solanacearum. Untuk tanah sangat liat dapat diberikan pupuk kandang atau kompos kira-kira 20-30 ton setiap 1 ha lahan untuk memperbaiki struktur tanahnya.

“Namun, jika tanahnya kurang cocok atau kurang subur kita bisa memanipulasinya dengan pupuk organik,” ujar Mukhtar.

Suhu yang paling ideal untuk perkecambahan benih cabai adalah 25-30 derajat Celcius. Sedangkan untuk pertumbuhannya membutuhkan suhu 24-28 derajat Celcius.

Jika suhunya terlalu rendah maka pertumbuhan tanman akan terhambat, perkembangan bunga dan buahpun kurang sempurna. Sementara itu, kelembaban relatif yang diperlkukan untuk pertumbuhan tanaman cabai adalah 80% pada musim hujan. Kelembaban yang tinggi pada musim ini akan menghadapi resiko terkena serangan bakteri dan cendawan. Untuk itu, jarak tanam diperlukan lebar dan areal penanaman perlu dibebaskan dari segala macam gulma.

Menurutnya, untuk mendapatkan hasil panen cabai yang berkualitas bagus selain bergantung  pada pemeliharaan dan pemupukan juga bergantu8ng pada pengendalian hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman cabai.

“Kebanyakan petani di Indonesia terutama di sentra cabai di Malang menghabiskan biaya bertanam cabai sampai 40%-50% untuk pengendalian hama dan penyakit. Namun, cara yang diterapkan  umumnya mencampur beberapa pestisida seperti insektisida, fungisida dan bakterisida secara bersamaan dan berulang-ulang dalam kurun waktu yang lama,” paparnya.

Hal ini dilakukan karena mereka tidak tahu penyakit atau hama yang menyerang tanaman  mereka. Padahal, penyemprotan pestisida harusnya dilakukan pada saat populasi hama atau penyakit sudah melewati batas toleransi dan  untuk melindungi konsumen dari sisa-sisa pestisida yang terdapat dalam cabai sebaiknya penyemprotan dilakukan 2 minggu menjelang panen.

Hama yang seringkali menyerang tanaman cabai, kata Mukhtar, adalah ulat buah (Helicoverpa spp HSN) yang biasa menyerang cabai yang masih muda sehingga buahnya berlubang dan membusuk karena infeksi. Pemberantasan hama ini dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida.

Selain itu, buah cabai yang terserang harus langsung dipetik dan dimusnahkan agar tidak terjadi penularan pada buah yang masuih sehat. Di sisi lain, penyakit buah busuk juga menjadi momok bagi petani. Hal ini disebabkan oleh cendawan Colectroticum sp yang serangannya ditandai dengan adanya bercak cokelat pada buah yang terus melebar. Pada serangan yang serius, buah akan menjadi kering membusuk dan keriput. Serangan yang hebat dapat menyebabkan penurunan panen hingga 75%. Untuk menanggulanginya dapat dilakukan dengan mengatur jarak tanam yang tidak terlalu rapat, pemangkasan secara teratur.

Salah satu cara budidaya cabai di musim penghujan yang kini diterapkan pada petani di Kabupaten Malang, menurut Mukhtar, adalah dengan menanamnya di lahan terbuka menggunakan mulsa plastik. Sebenarnya bisa juga dilakukan dengan menanam pada kantung polastik untuk lahan percontohan.

Perawatan penananam cabai dalam kantung plastik sama dengan penanaman cabai pada umumnya yakni meliputi penyulaman, pemasangan ajir atau turus, pemupukan susulan, pengairan serta perampetan tunas dan daun. Ketika tidak ada hujan, pengairan dosisnya tergantung pada kondisi kelembaban media tanam di dalam kantung plastik. Shanty

 

Leave a Reply