Tuesday - March 24th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Menjejak Harimau dari Belangnya
Post Info Tuesday, March 24th, 2009 15:49 by agroindonesia Print Print this page

Penangkapan atau penyitaan kulit harimau sudah sering terdengar. Namun, masalah yang tak pernah pasti diketahui adalah, dari daerah mana ‘kucing besar’ itu berasal. Kalaupun harimau sumatera, misalnya, dari daerah mana persisnya orang tidak tahu, kecuali memang si pemburunya.

Namun, berkat piranti lunak yang dikembangkan Conservation Research Ltd. — atas bantuan Wildlife Conservation Society (WCS) — para peneliti harimau kini bakal bisa mengetahui dengan cepat cara mengidentifikasi individu harimau. Berkat piranti lunak yang baru, potret harimau di hutan yang berhasil diambil dengan menggunakan kamera tersembunyi akan diolah secara tiga dimensi. Dengan cara ini, jika suatu saat si belang dibunuh dan diperjualbelikan kulitnya secara ilegal bisa diketahui berasal dari daerah mana.

Piranti lunak ini akan menghasilkan model tiga dimensi (3D) dari potret hasil pemindaian dengan menggunakan algoritma yang sama dengan piranti lunak untuk mengidentifikasi sidik jari — yang biasa dipakai para krominolog. Piranti lunak ini digambarkan dalam jurnal Biology Letters.

Para penulis studi ini antara lain Lex Hiby dari Conservation Research Ltd., Phil Lovell (Gatty Marine Laboratory’s Sea Mammal Research Unit) serta Narendra Patil, N. Samba Kumar, Arjun N. Gopalaswamy dan K. Ullas Karanth dari WCS India.

Para peneliti saat ini sedang menghitung populasi harimau dengan cermat dan teliti lewat kajian ratusan foto karnivora tersebut yang tertangkap oleh kamera “jebakan”. Dari foto ini kemudian dicocokkan dengan pola belang tiap harimau, di mana tiap harimau memiliki belang yang unik dan berbeda.

Dengan menggunakan formula yang dikembangkan oleh pakar harimau terkemuka Ullas Karanth dari WCS, para peneliti mampu dengan akurat memperkirakan populasi lokal harimau dengan cara menghitung berapa kali individu harimau “terpotret lagi” oleh kamera jebakan.

Dengan adanya piranti lunak baru ini, diharapkan para peneliti bisa dengan cepat mengidentifikasi harimau, yang pada gilirannya bakal mempercepat upaya mengkonservasi harimau yang makin terancam punah.

Software baru ini akan makin memudahkan para penggiat konservasi untuk mengidentifikasi tiap-tiap individu harimau dan mengstimasi populasinya. Landasan utama konservasi harimau adalah mengetahui berapa banyak harimau yang hidup dan tinggal di area studi sebelum Anda bisa mulai mengukur tingkat keberhasilan,” kata Ullas Karanth.

Menurut para penggiat konservasi, piranti lunak yang bisa diunduh gratis di situs www.conservationresearch.co.uk ini memiliki tingkat akurasi 95% dalam mencocokkan harimau dari hasil potret yang dipindai. Para peneliti juga mampu menggunakan piranti lunak tersebut untuk mengidentifikasi dari mana asal kulit harimau yang disita hanya lewat foto saja. Pengembangan piranti lunak tersebut didanai melalui proyek Panthera yang bekerjasama dengan WCS.

Sementara fasilitas untuk memperoleh gambar-gambar yang dipakai untuk mengkonstruksi model tiga dimensi diberikan oleh Thrigby Hall Zoo, Norfolk, England. Centre for Wildlife Studies, Bangalore dan Wildlife Conservation Society, India Program memberikan gambar, sumber daya lokal dan staf untuk studi ini, yang sebagian didukung oleh hibah dari Liz Claiborne/Art Ortenberg Foundation. AI

Leave a Reply