Tuesday - March 24th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Naik, Pengendalian Serangan OPT Perkebunan
Post Info Tuesday, March 24th, 2009 16:05 by agroindonesia Print Print this page

Pengendalian serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) pada 11 komoditi penting  di sektor perkebunan pada tahun 2008 meningkat, namun persentasinya mengalami penurunan akibat luas serangan yang naik dibandingkan  tahun 2007.

Direktur Perlindungan Tanaman Perkebunan, Departemen Pertanian, Herdradjat Natawidja mengatakan, secara umum luas pengendalian OPT di Indonesia masih sangat rendah sekali.  “Untuk lada, tebu, teh dan kapas, pengendaliannya cukup memadai,” katanya kepada Agro Indonesia, pekan lalu. 

Menurut dia, komoditi tebu dan kapas, merupakan  tanaman semusim dengan umur tanaman yang lebih pendek, sehingga  petani menjadi lebih waspada terhadap serangan hama penyakit.  Hal ini menyebabkan pengendalian OPT lebih diutamakan. 

“Sedangkan untuk teh dan lada, mungkin petaninya sudah lebih menyadari pentingnya pengelolaan kebun untuk mendapatkan hasil yang lebih baik optimal,” katanya.

Data luas serangan OPT penting pada 11 komoditi perkebunan tahun 2008 mencapai 1.499.686 ha dengan luas pengendalian hanya 99.638 ha atau 6,64% dari luas serangan.  Sedangkan pengen-dalian pada tahun 2007 seluas 93.726 ha atau 8,3% dari luas serangan 1.129.086 ha.

Dari data tersebut, ada peningkatan luas pengendalian OPT tanaman perkebunan pada tahun 2008, namun persentasenya menurun sebagai akibat dari meningkatnya luas areal serangan dibandingkan dengan tahun 2007.

Herdradjat mengatakan dari keseluruhan kegiatan pengendalian pada tahun 2008, peranan masyarakat sebesar  87%  dari total pengendalian. Keadaan tersebut mencerminkan bahwa kesadaran dan kemauan masyarakat dalam penanganan masalah OPT sudah cukup tinggi walaupun belum optimal.

“Pemerintah perlu tingkatkan memfa-lisitasi dan stimulasi kepada masyarakat sehingga jika terjadi serangan yang memerlukan pengendalian dapat dilakukan secara swadaya masyarakat,” katanya.

Pengendalian hama OPT perkebunan dilakukan masyarakat dengan menerapkan konsep Pengendalian Hama terpadu (PHT), namun juga pengendalian secara kimiawi (pestisida) juga dilakukan.

“Tingkat kesadaran petani kebun untuk mengendalikan serangan OPT cukup tinggi, mereka biasanya melakukan dengan cara alami jika cara ini tidak ampuh maka mereka gunakan cara kimiawi,” tegasnya.

11 komoditi penting

Dia mengatakan,  11 komoditi penting perkebunan adalah kelapa, kelapa sawit, kokao, karet, kopi, tebu, kapas, cengkeh, lada, teh dan jambu mete. “Pada tanaman kelapa tiga OPT penting yang menyerang, yaitu kumbang nyiur (Oryctes sp), Sexava sp dan Brontispa sp,” katanya.

Kumbang nyiur adalah OPT yang berperan utama dalam menimbulkan kerusakan pada tanaman kelapa. Hama ini menyerang hampir di seluruh Indonesia. Tindakan pengendalian paling rendah dilakukan untuk Sexava sp seluas 739 ha (3.11%) dan tertinggi dilakukan untuk kumbang nyiur seluas 19.580 ha (24,33%).

Hal ini dikarenakan petani yang tidak mengusahakan budidaya kelapanya dengan baik. Umumnya tanaman kelapa merupakan warisan dari leluhurnya, sehingga adanya serangan OPT tidak ditangani secara serius oleh mereka.

Untuk komoditi karet, diidentifikasi ada tiga jenis OPT penting yang menyerang tanaman tersebut di Indonesia. Ketiga jenis OPT itu adalah Jamur Akar Putih (JAP), Gugur Daun Karet (GDK) dan Penyakit Bidang Sadap. 

Sementara persentase luas pengendalian terhadap luas serangan terjadi pada GDK sebesar 0,17% dan tertinggi pada penyakit Bidang Sadap sebesar 8,45%. Sedangkan JAP  sebesar 6,80%.

Sedangkan pada tanaman kakao, OPT penting antara lain adalah Penggerek Buah Kakao (PBK), Busuk Buah Kakao (BBK) dan Penyakit Vascular Streak Dieback (VSD).  Kerusakan paling utama disebab-kan oleh PBK, VSD kemudian BBK. Persentase tindakan pengendalian sangat kecil sekali dibandingkan dengan luas serangan yang ada. Persentase tindakan pengendalian terhadap PBK sebesar 5,7%, BBK sebesar 2,69% dan VSD sebesar 0,70% . 

Pada tanaman kelapa sawit, OPT pentingnya antara lain ulat api, babi hutan dan tikus.  Kerusakan utama disebabkan oleh tikus, tetapi kenyataan di lapangan dikendalikan dengan persentase yang sangat kecil yaitu 6,31%.  Ulat api dikendalikan sebesar 24,55% dan babi hutan dikendalikan sebesar 76,93%. 

Pada kopi adalah Penggerek Buah Kopi (PBKo), Penyakit Karat Daun dan Penggerek Batang (Zeuzera sp).  PBKo merupakan penyebab kerusakan utama pada tanaman kopi dengan luas serangan sebesar 338.624 ha tetapi luas pengendalian hanya seluas 12.544 ha atau 3,70% dari luas serangan. Sedangkan untuk dua OPT lainnya memiliki persentase pengendalian lebih tinggi yaitu sebesar 6,15% untuk Penyakit karat daun dan 30,42% untuk Penggerek Batang Kopi

Pada lada, tiga OPT penting yang menyerang yaitu Penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB), penggerek batang lada (Lophobaris sp), dan penggerek buah lada (Dasynus sp).  Kerusakannya berturut-turut adalah 7.366 ha, 6.730 ha dan 5.910 ha. Persentase pengendaliannya adalah 34,09%, 19,17% dan 21,24%. Di daerah sentra lada, penyakit BPB adalah masalah utama dibandingkan dengan hama penyakit lainnya, sehingga tindakan pengendalian yang dilakukan juga lebih banyak ditujukan pada penyakit ini.

Di tanaman cengkeh, OPT yang menyerang adalah Cacar Daun Cengkeh (CDC), penggerek batang (Nothopeus sp) dan mati ranting (BPKC/Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh).  Luas serangan ketiga OPT ini secara berurut adalah 10.440 ha, 8.828 ha dan 4.181 ha. Hanya saja persentase pengendalian CDC sangat kecil hanya 2,79 % dibandingkan dengan luas serangan yang ada. Persentase luas pengendalian dua OPT lainnya, yaitu 6,87 % untuk Nothopeus sp dan 4,56 % untuk BPKC.

Untuk jambu mete, kerusakan utama ditimbulkan oleh Helopeltis sp, Jamur Akar Putih (JAP) dan Ulat kipat (Cricula sp). Luas serangannya secara berurut, yaitu 5.255 ha, 1.854 ha dan 682 ha. Persentase pengendalian pada jambu mete lebih tinggi dibandingkan dengan komoditi lainnya, yaitu 63,66% untuk JAP 31,85 % untuk ulat kipat dan 8,46% untuk Helopeltis sp.

Cacar daun teh, Helopeltis sp dan jamur akar Ganoderma sp, merupakan OPT penting pada tanaman teh. Luas serangan ketiga OPT ini, yaitu 771 ha, 724 ha dan 17 ha.  Persentase pengendalian pada OPT teh cukup tinggi, yaitu 100% untuk jamur akar, 81,10% untuk Helopeltis sp, dan 62,30% untuk cacar daun. Petani teh lebih menyadari kesehatan kebun tehnya. 

Pada tebu, tiga OPT yang dianggap penting, yaitu penggerek batang (Chilo sp), penggerek pucuk (Scirpophaga sp) dan penyakit luka api (Ustilago sp). Luas serangannya secara berurut adalah 800 ha, 724 ha dan 17 ha. Persentase pengendalian terhadap serangan 78,04%, 10,62% dan 97,04%. “Mungkin karena tebu tanaman semusim, jadi petani lebih waspada terhadap adanya serangan hama penyakit,” kata Herdradjat. 

Kapas termasuk komoditi yang ditanam di daerah terbatas.  Pada akhir tahun 2008 OPT yang menyerang kapas juga tidak banyak.  OPT penting pada kapas,yaitu ulat buah kapas (Helicoverpa sp) dan wereng kapas (Sundapteryx sp). Serangan kedua OPT ini juga rendah sekali, yaitu hanya 24 ha dan 4 ha.  Jamalzen

 

Leave a Reply