Tuesday - March 24th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Potensi Besar Perekonomian Indonesia
Post Info Tuesday, March 24th, 2009 15:54 by agroindonesia Print Print this page

Krisis global yang dipicu oleh krisis finansial di Amerika Serikat pada tahun lalu, mulai terasa dampak negatifnya oleh sebagian besar negara, termasuk Indonesia.

Dampak negatif dari krisis global itu bagi Indonesia terlihat dari kienrja ekspor produk non migas pada tahun 2009 ini.  Nilai ekspor non migas pada bulan Januari hanya sebesar Rp 5 miliar dolar AS saja. Padahal, pada saat kondisi normal, nilai ekspor non migas Indonesia rata-rata mencapai 12 miliar dolar AS setiap bulannya.

 Memang, data ekspor pada bulan Januari tidak bisa dijadikan patokan kalau ekspor non migas Indonesia pada tahun ini akan mengalami penurunan tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pasalnya, mungkin saja order baru diperoleh pada bulan Januari sehingga pengirimannya baru bisa dilakukan pada bulan-bulan selanjutnya.

Walaupun begitu, apa yang terjadi pada bulan Januari perlu diwaspadai. Apalagi banyak prediksi yang menyebutkan krisis global akan memburuk pada bulan-bulan mendatang di tahun 2009 ini.

Untuk mencegah berlanjutnya dam-pak negatif dari krisis global terhadap perekonomian di dalam negeri, tentunya diperlukan kerja keras dan strategi jitu dari pemerintah dan rakyat Indonesia.

Kerja keras diperlukan agar  Indone-sia tidak mudah hanyut dalam pusaran krisis global. Namun kerja keras itu tidak akan ada artinya jika tidak disertai leh strategi yang jitu.

Strategi yang jitu itu antara lain penentuan produk-produk apa saja yang akan diunggulkan Indonesia untuk mendukung atau bahkan menggantikan ekspor produk yang selama ini memberikan kontribusi besar bagi pendapatan ekspor.

Strategi itu sebenarnya sudah diterapkan oleh pemerintah, khususnya Departemen Perdagangan, dengan mengusung produk-produk kreatif sebagai andalan ekspor Indonesia di masa krisis ini. Bahkan, Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu telah mencanangkan tahun 2009 ini sebagai ‘Tahun Industri Kreatif’.

Pemilihan industri kreatif sebagai  unggulan di pasar ekspor memang bukan asal sebut saja. Menurut Mari Elka Pangestu, industri kreatif di Indonesia merupakan potensi besar bagi perekonomian negara ini.

”Industri kreatif juga bisa mengangkat citra bangsa,” katanya dalam suatu diskusi di sebuah daerah yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi dari industri kreatif.

Potensi Besar

Bila mengacu pada kebijakan pemerintah, yang dinamakan industri adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Dengan mengacu pada definisi itu, industri kreatif dibagi dalam 14 kelompok industri. Ke-14 kelompok industri yang digolongkan sebagai industri kreatif itu adalah  periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, desain fesyen, video, film dan fotografi, per-mainan interaktif, seni pertunjukan, penerbitan & percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi & radio, riset dan pengembangan.

Industri kreatif sebenarnya sudah lama diterapkan oleh rakyat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya industri kreatif yang sudah lama berdiri di negeri ini.

Kontribusi industri kreatif pun sudah terbukti cukup besar bagi perekonomian Indonesia, baik terhadap nilai ekspor maupun pemberdayaan ekonomi rakyat di dalam negeri.

Berdasarkan data Departemen Perda-gangan,  rata-rata kontribusi Produk Do-mestik Bruto (PDB) industri kreatif Indonesia pada kurun waktu  2002-2006 mencapai 6,3% dari total PDB dengan nilai Rp104,6 triliun.

Selain itu, nilai ekspor industri terse-but mencapai Rp81,4 triliun atau memberikan berkontribusi sebesar 9,13% terhadap total nilai ekspor nasional. Dengan kontribusi sebesar itu,  industri kreatif telah mampu menciptakan 5,8% lapangan kerja, atau sekitar 5,4 juta jiwa.

Dan yang lebih penting lagi, lebih dari setengah pekerja dan pelaku industri kreatif adalah perempuan. Pemberdayaan kaum perempuan tentunya akan memberikan sumbangsih lebih besar lagi terhadap kesejahteraan masyarakat di negeri ini.

Seiring dengan makin membaiknya penanganan terhadap pelaku yang bergerak di industri kreatif, pertumbuhan industri ini juga makin meningkat. Pertumbuhan industri kreatif di Indonesia telah mencapai 14% setiap tahunnya.

Pertumbuhan industri itu telah berdampak positif terhadap peranan industri ini dalam pendapatan domestik bruto Indonesia. Menurut Mendag Mari Elka Pengestu, sepanjang tahun 2006, industri kreatif telah menyumbang 33,5% dari produk domestik bruto. Angka ini setara dengan 77 miliar dolar AS atau Rp693 triliun dengan kurs Rp 9.000/dolar.

Siapa yang menyangka kalau sepatu yang dijual di mancanegara dengan merek asing sebenarnya adalah sepatu buatan Indonesia. Atau lukisan kaca karya Toto Sunu dari Cirebon  yang sudah diekspor ke mancanegara?.

Selain berpeluang besar untuk menembus pasar ekspor, produk yang dihasilkan oleh industri kreatif juga dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri sehingga dapat melepas ketergantungan bansga ini dari produk impor.

Diperkirakan pasar dari industri kreatif ini mencapai 47% dari total penduduk Indonesia, yakni 143,8 juta penduduk Indonesia yang berusia di bawah 29 tahun.

Dengan fakta di atas, pemerintah optimis kalau pada tahun 2009 ini sekitar  6% lebih dari PDB diperkirakan berasal dari industri kreatif. Dari angka itu, kemungkinan besar kontribusi terbesar berasal dari industri fashion dan industri kerajinan. Kontribusi juga diberikan oleh sektor industri kreatif lainnya, walaupun belum terlalu besar.

Upaya pemerinah untuk menggenjot perekonomian Indonesia tentunya tidak akan berhasil jika tidak ada dukungan dari masyarakat negeri ini. Karena itu, sudah selayaknya program yang digelar pemerintah ini mendapatkan dukungan karena keberhasilan program ini akan ikut menentukan arah dan nasib bangsa Indonesia ke depan nanti. Tentunya kita tidak menginginkan Indonesia menjadi negara yang gagal bukan?  B Wibowo

Dukungan bagi Pelaku Industri  Kreatif

Potensi yang besar tidak akan ada artinya jika tidak bisa mengolahnya dengan baik. Begitu juga dengan industri kreatif di Indonesia. Sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar serta potensi pasar yang luas, tidak akan berarti apa-apa jika industri ini tidak ditangani dengan baik dan benar.

Hal ini tampaknya disadari betul oleh pemerintah. Melalui Departemen Perdagangan, pemerintah telah menyusun blue print tentang industri kreatif Indonesia, yang berisikan mulai dari produk hingga potensi pasar dan tantangannya.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan, dalam pengembangan industri kreatif, hal terpenting adalah kreativitas dan inovasi dari para pelakunya.

Karena itu, salah satu perhatian utama pemerintah untuk mengem-bangkan industri ini adalah mening-katkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Program-program yang telah dijalankan untuk itu antara lain berupa pemberian dukungan bisnis, bantuan pengembangan prototipe produk dan pendampingan.

”Kita harus mendampingi mereka. Pendampingan itu sendiri harus sampai tuntas, mulai dari awal hingga akhirnya mereka (pelaku industri kreatif) bisa menjadi pendamping bagi pelaku industri kreatif yang lain,” katanya.

Mendag juga mengatakan, Depar-temen  Perdagangan memiliki program pelatihan untuk desain, termasuk kepada industri makanan dan minuman yang saat ini  tengah finalisasi sebelum direalisasikan.

Semua itu dilakukan demi mendorong peningkatan peran industri kreatif sekaligus meningkakan citra bangsa Indonesia di percaturan internasional.   B Wibowo

 

 

 

Leave a Reply