Tuesday - March 24th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
RI Ekspor Benih Padi ke Timor Leste
Post Info Tuesday, March 24th, 2009 16:03 by agroindonesia Print Print this page

Diam-diam Indonesia telah mengekspor benih padi ke Timor Leste. Benih yang dikirim ke negara yang pernah menjadi bagian Indonesia ini berasal dari PT Sumber Alam Sutera (SAS).

Menteri Pertanian, Anton Apriyantono mengatakan, selain memberikan bantuan tenaga ahli dalam mengembangkan tanaman padi di Timor Leste, Pemerintah Indonesia juga mengirim benih padi. “Jumlah yang bisa kita kirim memang belum banyak, tapi sebenarnya permintaan negara tersebut cukup besar,” kata Anton menjelaskan hasil kunjungan ke Timor Leste.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Deptan, Hasanuddin Ibrahim menambahkan, Pemerintah Indonesia sedang mengkaji pengiriman benih ke Timor Leste. Rencana implementasi ini merupakan tindak lanjut kesepahaman Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Timor Leste.

Pemerintah baru yang terbangun dari bagian wiayah Provinsi Nusa Tengga Timur (NTT) tersebut menyadari potensi lahan pertanian mereka tidak sebagus di areal persawahan Indonesia. Sehingga, dalam nota kesepahaman kedua negara ini, Indonesia membantu pengiriman tenaga ahli pola tanam pertanian. Termasuk, meminta Indonesia agar bisa mengekspor benih ke negara itu.

“Sebagian warganya kan pernah menjadi bagian Indonesia. Karena lahan sawahnya tidak beda jauh, maka Deptan memberikan bantuan pengirima tenaga ahli, dan kalau ekspor beras, masih dikaji,”’ tutur Hasanuddin saat membuka Apresiasi Forum Waratwan Pertanian, di Agro Wisata, Gunung Mas, Bogor.

Pasok pangan dunia

Sementara itu Sekretaris Direktur Jenderal Tanaman Pangan Deptan, UK Anggoro mengatakan, Indonesia ternyata memiliki potensi besar sebagai penyuplai pangan dunia. Sebab, produksi komoditi pangan masih bisa dipacu lebih tinggi.

Contohnya, kini komoditas jagung sudah diekspor ke sejumlah negara tetangga seperti Filipina, Malaysia dan Korea Selatan. Kemudian, produksi padi sudah mencapai target produksi dengan pertumbuhan hingga 5%. Rencananya pemerintah akan mengambil kebijakan ekspor sekitar 100.000 ton.

Saat ini produk pertanian Indonesia sudah banyak dibidik negara lain, termasuk negara maju. Tidak hanya komoditas CPO (kelapa sawit), kakao, kopi, maupun teh dan karet, tapi komoditas pangan lain sudah banyak yang minta dikirim. “Ini peluang bagi kita, dan sebenarnya meski terjadi penurunan harga, namun dari segi volume, permintaan masih stabil,’” tutur Anggoro.

Pada saat yang sama Manajer Bisnis Asean PT DuPont Indonesia, Andy Gu-mala, membenarkan jika potensi Indonesia sebagai penyuplai pangan ke pasar dunia, masih sangat besar. Pihaknya yakin peningkatan produksi gabah masih bisa dipacu lebih kencang, yakni dimulai dari pemilihan benih unggul dan berkualitas. Kemudian, peluang adanya penerapan sistem bioteknologi bisa digunakan pada tanaman pangan non pangan terlebih dahulu.

Misalnya, digunakan untuk penyediaan bahan baku energi atau bahan bakar nabati (BBN), terlebih dahulu. Jika, konsumsi pangan hasil bioteknologi masih dikhawatirkan dampaknya.  “’Satu lagi, aspek teknik pertanian masih bisa digenjot lagi. Karena masih ada areal sawah yang digarap secara manual. Jika sekarang sudah ada sistem mekanisasi, maka produksi tanaman pangan bisa ditingkatkan lagi,” ungkap Andy.

Sebagai produsen benih besar di Indonesia, Pioneer, kata Andy, siap membantu pemerintah menyediakan benih berkualitas, sehingga produksi bisa meningkat. PT DuPont Indonesia adalah anak perusahaan dari Pioneer Hi-Bred International, Inc.

”Intinya, perusahaan Dupont maupun Pioneer siap menyediakan teknologi dan varietas unggul baru dalam peningkatan produksi gabah, disamping menjalin kemitraan antarinstitusi dan stakehoder dan meningkatkan kepedulian sosial (community development),” tutur alumnus Fakultas Pertanian Unibraw Malang.  Julian

 

 

Leave a Reply