Friday, March 27th, 2009 15:58 by
agroindonesia
Print this pageDepartemen Kehutanan minta dukungan perbankan nasional untuk membantu pergerakan sektor kehutanan dengan mengucurkan kredit. Menteri Kehutanan MS Kaban juga sudah mengirim surat kepada Bank Indonesia (BI) terkait dengan himbauan tersebut.
Dirjen Bina Produksi Kehutanan Departemen Kehutanan Hadi Daryanto, mengakui, sektor kehutanan sampai kini masih belum mendapat pembiayaan dari perbankan karena masih kuatnya stigma sektor kehutanan sebagai sunset industry (industri suram).
Dia mengungkapkan, untuk menghapus stigma tersebut, Menhut MS Kaban juga sudah mengirim surat kepada Gubernur Bank Indonesia.
“ Surat dikirim sebulan lalu. Intinya, Dephut minta perbankan memahami bahwa revitalisasi industri kehutanan memang harus jalan, salah satu faktor pendukung yakni pendanaan dari perbankan,” ujar Hadi, Jumat (27/3).
Dalam suratnya, Menhut MS Kaban menyatakan sektor riil kehutanan dan produk kehutanan perlu didorong untuk bergerak kembali dan juga sebagai bagian upaya mengatasi krisis finansial global. Selain kucuran kredit untuk industri pengolahan kayu, Dephut juga berharap usaha pemanfaatan hasil hutan tanaman industri (HTI) dapat diberikan modal.
Sebelumnya, pengamat ekonomi Indef, Aviliani, mendesak pemerintah menjamin pasar dari industri sektor kehutanan agar perbankan nasional mau kucurkan kredit di sektor ini.
“Karena tidak ada jaminan dari pemerintah, sampai kini perbankan masih ragu-ragu karena risiko sektor ini yang tinggi. Meski potensi produksi kayu olahan, energi alternatif, dan pangan sangat besar di sektor ini, namun bank tetap minta jaminan hasilnya diserap pasar, siapa pembelinya,” katanya.
Menurut dia, pemerintah bisa menunjuk BUMN atau perusahaan patungan BUMN dan swasta sebagai pembeli akhir. Perbankan nasional sendiri sangat tergantung pada Bank Indonesia (BI) dalam mengelola risiko. “Sektor kehutanan masinh dianggap perbankan beresiko tinggi,” kata Aviliani. Sugiharto