Tuesday, March 31st, 2009 17:49 by
agroindonesia
Print this page
Hal ini dapat dilihat dari banyaknya makanan yang terbuat dari tepung terigu, mulai dari kue, roti hingga mie instan yang begitu mudah ditemui di kota besar hingga di daerah terpencil.
Besarnya konsumsi tepung terigu oleh masyarakat Indonesia juga tercermin dari volume impor gandum Indonesia dari tahun ke tahun yang terus meningkat.
Menurut Direktur PT Indofood Sukses Makmur, Franky Welirang, pada tahun ini Indonesia diperkirakan mengimpor gandum sebanyak 5,5 juta ton.
“Jumlah itu akan mengalami kenaikan sekitar lima persen setiap tahunnya sehingga dalam 10 tahun ke depan kita akan mengimpor sepuluh juta ton,” ujar Franky di selah acara Penanaman Gandum di Kecamatan Getasan, Kopeng, Salatiga, pekan lalu.
Besarnya ketergantungan kebutuhan tepung terigu masyarakat Indonesia dari pasar impor tentu saja cukup membahayakan. Jika saja negara-negara produsen gandum melakukan kebijakan baru dalam kegiatan ekspor gandumnya ke Indonesia, akan langsung berpengaruh terhadap harga jual tepung terigu di dalam negeri.
Satu-satunya upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi ketergantungan impor. Salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan impor itu adalah dengan melakukan budidaya gandum di Indonesia.
Sayangnya, upaya itu belum gencar dilakukan. Apalagi masih kentalnya pameo yang menyebutkan kalau gandum tidak bisa di tanam di Indonesia karena tanaman tersebut adalah tanaman sub tropis.
“Padahal, pameo itu salah. Wilayah tropis pun mampu untuk menghasilkan produk dari tanaman-tanaman sub tropis. Begitu juga sebaliknya,” kata Franky.
Dia merujuk pada upaya yang dilakukan Cina. Negara sub tropis itu buktinya mampu melakukan budidaya padi sehingga menjadi negara produsen beras terbesar di dunia. “Indonesia sebagai negara tropis juga bisa untuk melakukan budidaya gandum,” ujarnya.
Menurut Franky, banyak wilayah di Indonesia yang memiliki kondisi sangat baik untuk melakukan budidaya gandum. Misalnya saja kawasan dataran tinggi di berbagai wilayah di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Begitu juga dengan lahan kering di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Upaya untuk melakukan budidaya gandum, ungkapnya, sudah dilakukan oleh swasta, pemerintah dan perguruan tinggi sejak tahun 2.000 melalui pencarian varietas baru gandum serta penanaman komoditi itu di berbagai daerah.
Salah satu kerjasama budidaya gandum yang masih berjalan ini adalah penanaman gandum di kawasan Kopeng, Salatiga. Penanaman itu dilakukan melalui kerjasama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Departemen Pertanian dan Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (Aptindo).
Lebih Untung
Jika dibandingkan dengan padi, budidaya gandum jauh lebih menguntungkan. Untuk satu hektar lahan, cukup dibutuhkan benih sebenyak 75 kg. pemeliharaannya juga cukup mudah karena tidak memerlukan pengairan atau perawatan yang njlimet.
Sama seperti padi, panen gandum dapat dilakukan setiap tiga bulan sekali. Untuk satu hektar lahan gandum, dapat dihasilkan gandum antara 3 hingga 4,5 ton.
Untuk hasil panen, gandum memiliki kelebihan karena tidak perlu lagi menjalani proses penggilingan seperti padi. “Jika padi harus digiling dulu untuk menjadi beras, gandum tidak. Tanaman ini bisa langsung diolah menjadi makanan,” kata Franky.
Karena itu, walaupun hasil panen padi bisa mencapai 4,5 ton/hektar, namun jika telah diolah menjadi beras, volumenya tidak lebih dari 3 ton/hektar. Volume ini sama dengan hasil minimal panen gandum setiap hektarnya.
Selain itu, tanaman gandum juga memiliki kelebihan sebagai pemutus mata rantai hama penyakit pada tanaman lain. Sebagai tanaman tumpang sari, gandum dapat memutus hama penyakit yang terjadi pada tanaman kentang.
Hal ini diakui oleh Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Hasanuddin Ibrahim. Memurutnya tanaman gandum mempunyai potensi besar untuk digunakan sebagai tanaman tumpang sari.
“Departemen Pertanian bertekad menjadikan gandum sebagai tanaman utama untuk daerah-daerah yang kering serta menjadikannya sebagai tanaman pemutus mata rantai hama penyakit pada tanaman lainnya,” paparnya.
Hasanuddin mengakui dengan keterbatasan kondisi, sulit bagi Indonesia untuk bisa menjadi negara produsen gandum utama di dunia, seperti yang dilakukan oleh India dan Cina.
“Kita tidak bermimpi untuk menjadi produsen utama gandum di dunia. Walaupun begitu, kita akan terus berupaya melakukan budidaya gandum di negeri ini,” ucapnya.
Niat Deptan terhadap budidaya gandum itu tercermin dari target pemerintah untuk melakukan budidaya gandum di lahan seluas 200.000 hektar pada tahun 2025.
Menurut Kasubdit Budidaya Tanaman Serealia Lain, Deptan, Risda Jelita, di Indonesia saat ini terdapat sekitar 2 juta lahan yang cocok untuk ditanami gandum.
“Namun, jika kita mampu melakukan penanaman seluas 200 ribu hektar sajam itu sudah solid,” paparnya. Dengan asumsi setiap hektar lahan menghasilkan 3 ton gandum, maka akan dihasilkan gandum sebanyak 600.000 ton dari lahan seluas 200.000 hektar.
Sebesar apapun upaya yang telah dilakukan pemerintah, swasta dan dunia pendidikan layak mendapat dukungan karena hal itu dapat mengurangi ketergantungan impor gandum. B Wibowo
Pasar Besar, Lahan Luas
Gandum merupakan tanaman serealia non beras yang telah diidentifikasi sangat cocok untuk agroklimat di Indonesia. Budidaya gandum di Indonesia memiliki prospek yang sangat besar mengingat luasnya potensi lahan yang bisa ditanami tanaman ini.
Selain itu, pasarnya juga sangat prospektif mengingat gandum, yang dikenal sebagai terigu di masyarakat sudah biasa dikonsumsi sebagai makanan selingan atau ringan.
Selain sebagai bahan pangan utama pengganti beras, gandum juga dapat dijadikan sebagai bahan baku berbagai makanan ringan seperti biskuit, es krim, pakan ternak, industri kerajinan dan kesehatan.
Menurut Risda Jelita, gandum juga mengandung karbohidrat yang cukup tinggi yaitu 70% dan protein 13% serta vitamin lainnya yang sangat baik untuk pembangunan tubuh manusia.
Pengembangan tanaman gandum tidak terlalu sulit mengingat daya adaptasinya yang luas dan dapat dibudidayakan di lahan-lahan kering di dataran tinggi dengan ketinggilan sekitar 800 m dpl dengan pengaturan pola tanam setelah tanaman sayur.
“Di samping itu, periode penanaman gandum di Indonesia sangat singkat, sekitar tiga hingga empat bulan dibandingkan dengan daerah di lintang tinggi yang mencapai enam bulan,” katanya.
Energi radiasi surya pada sebagian besar wilayah juga bukan merupakan faktor pembatas di Indonesia dibandingkan di daerah lintang tinggi yang pertumbuhan tanaman efektif hanya terjadi pada musim panas.
Menurut Risda, beberapa hasil penelitian menunjukkan beberapa daerah di Indonesia memenuhi persyaratan untuk penanaman gandum seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.
Sementara berdasarkan kesesuaian lahan, yang sesuai untuk pengembangan komoditi dataran tinggi iklim kering mencapai luas 1.455.800 hektar. Dari jumlah itu, yang telah digunakan untuk pengembangan tanaman gandum baru sebesar 1.478,5 hektar yang tersebar di Jawa, Jambi, Bengkulu, NTB, NTT, Kaltim dan Gowa. Jadi, masih terbuka luas upaya budidaya gandum di Indonesia. B Wibowo
Kalau tidak salah sejak tahun 2003 di jawa timur (kec tosari-pasuruan)sudah ada proyek pengembangan gandum, 2 (dua) varietas yang ditanam waktu itu (kalau tidak salah juga) dewata dan nias.
Suatu saat saya mendapat kesempatan mengunjungi daerah tersebut dan melihat langsung hamparan tanaman gandum; yang waktu itu ada beberapa fase pertanaman, ada yang sudah siap panen, fase vegetatif dan ada yang baru berumur beberapa hari.
Secara visual tanaman tampak sehat, subur dan ada rasa optimis akan memberikan hasil panen yang tinggi……..
Harapan selanjutnya adalah sosialisasi penanaman gandum di daerah2 yg iklimnya cocok sekaligus menggalang kemitraan antara petani dan produsen / pengimpor gandum………
Di pertengahan tahun 2004 saya berjumpa dengan teman dari pasuruan, saya menanyakan “….gimana panen gandumnya….?”
Dengan nada datar dia menjawab”….proyek tidak dilanjutkan lagi, produktivitas bagus tapi setelah diuji lab. kandungan pati-nya rendah sehingga pihak pembeli (PT. B… S…) merasa rugi kalau harus memproses hasil panenan tersebut dan lebih baik impor yang kandungan pati-nya lebih tinggi”
Itulah sepenggal pengalamam saya soal gandum, mudah mudahan situasi itu hanya terjadi sampai tahun 2004 saja. Semoga sudah banyak kajian, penelitian, temuan varietas baru dan uji multilokasi telah dilakukan yang pada akhirnya dapat menguak kenyataan bahwa masih ada persoalan lainnya selain “….bisa tumbuh di Indonesia”
Trims
Saya sebagai staf pengajar di Politani Pangkep pada jurusan budidaya tanaman perkebunan, optimis untuk mengembangkan gandum di Sul Sel, langkah pertama adalah dengan melakukan penelitian skala kecil melalui kerjasama dengan Balit sereal maros dan PT. Bogasari. Go ahead..
sedih rasanya kita sebagai bangsa yang yang besar dengan jumlah penduduk yang besar, kini sudah mulai bergantung mengkonsumsi tepung terigu…tapi perhatian terhadap budidaya gandum sangat rendah. Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan Deptan seharusnya punya agenda jelas terhadap budidaya gandum, jangan cuma himbaauan pengurangan konsumsi aja…sementara promosi pangan berbahan gandum di TV swasta tidak terkendali..
Saya kira sudah saatnya pemerintah menggalakan Menanam Gandum untuk masa depan perekonomian Indonesia. Karena dengan semakin banyaknya informasi yang diperoleh seluruh masayarakat petani kita, saya yakin kita akan lebih bersemangat menanam gandum disamping padi dan perkebunan lainnya.
Dan mungkin pemerintah segera merancang Peraturan perundang-undangan yang bisa membantu para petani gandum dan melindunginya dari arus import yang katanya lebih murah dan akan melemahkan semangat budidaya gandum ini.
like this!!!
gandum emang bisa banget ditanam di Indonesia. Saya sebagai mahasiswa pertanian UKSW jd bangaaaaaaa bgt, kalo udah ngomongin gandum di Indonesia, pasti nama UKSW bakalan disebut. Saat ini kita sedang mengadakan uji varietas, yang diharapkan gandum biasa ditanam di dataran rendah. Menarik kan??? jadi untuk memenuhi kebutuhan gandum, kita bisa sedikit2 mengurangi import dari luar negri. Btw, skripsi saya jg tentang gandum lho… yang ditanam pakai teknik kultur jaringan.
Sekalian promosi, Fakultas Pertanian UKSW bakalan buka agrowisata yang pasti keren abis…. ga cuma ada gandum, tp tanaman2 lain yang mungkin cuma bisa kita jumpai di luar negri bakalan ada di sini. keren kan…
untuk info lebih jelas buka aja website FP UKSW di http://www.uksw.edu/fpertanian