Tuesday - March 31st, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Selat Pantar NTT Ditetapkan Sebagai KKLD
Post Info Tuesday, March 31st, 2009 16:57 by agroindonesia Print Print this page

Guna melestarikan kekayaan sumber daya alam laut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, baru-baru ini Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Selat Pantar yang semula luasnya hanya 48.004,4 hektar (ha) dikembangkan menjadi KKLD Alor dengan luas menjadi 400.008,3 Ha.

Penambahan luas KKLD ini merupakan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program 10 juta ha kawasan konservasi laut pada 2010. Sebelumnya  Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada konferensi internasional Convention on Biological Biodiversity di Brazil pada Maret 2006 juga menegaskan program tersebut.

Demikian diungkapkan Direktur Konservasi dan Taman Nasional Laut Departemen Kelautan dan Perikanan, Agus Dermawan dalam siaran pers yang diterima Agro Indonesia.

Kabupaten Alor ungkap Agus, merupakan daerah kepulauan yang memiliki luas perairan 1.077.362,00 ha. Dengan panjang garis pantai 650.490 km kabupaten tersebut memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, terutama ekosistem terumbu karang dengan kondisinya masih baik dengan luas sekitar 3.331,007 ha.

Selain itu, kawasan Alor juga merupakan jalur migrasi beberapa jenis mamalia laut seperti Paus, Lumba-lumba dan ikan-ikan pelagis. “Dengan dasar-dasar tersebut, perluasan KKLD Selat Pantar menjadi KKLD Alor dianggap perlu dan dinilai strategis, sehingga kawasan ini dapat menjadi “bank ikan” untuk mendukung ketersediaan ikan di wilayah setempat maupun Perairan Indonesia,” tutur Agus.

Ke depan ungkapnya, pengelolaan KKLD di Kabupaten Alor akan terus ditingkatkan melalui kerjasama pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. Upaya pengelolaan kolaboratif dan efektif di KKLD ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi pengembangan kawasan konservasi laut daerah yang lain.

Bahkan perluasan KKLD Selat Pantar menjadi KKLD Alor yang didukung oleh masyarakat dan pemda menjadi bukti bahwa pembentukan Kawasan Konservasi Perairan Laut memberikan kesempatan pada masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya laut secara arif dan bijaksana. “Hingga kini telah dicadangkan sekitar 4 juta hektar Kawasan Konservasi Perairan Laut Daerah tersebar di 32 Kabupaten/kota atau biasa disebut KKLD,” katanya.

Menurut Agus, dengan di-launching-nya KKLD Alor berarti komitmen pengelolaan sumberdaya laut secara berkelanjutan sudah disepakati untuk ditindaklanjuti berbagai sektor terkait. Diharapkan hasilnya dapat lebih nyata, khususnya bagi masyarakat pesisir setempat. 

Secara bersama-sama Pemerintah kabupaten, Pemerintah Provinsi, WWF-Indonesia dan The Nature Conservancy (TNC), LSM lokal, para tokoh masyarakat serta para usahawan akan menyusun action plan.  Terutama melaksanakan pengelolaan KKLD secara lestari, dan bertanggungjawab demi anak cucu kita.

Data Pemda NTT, potensi sumberdaya ikan laut NTT, berdasarkan hasil survei Komisi Nasional Pengkajian Sumberdaya Perikanan Laut tahun 1999 cukup besar, yakni 388,6 metrik ton/tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan 292.8 metrik ton/tahun. Potensi itu terdiri dari ikan pelagis besar dan kecil, ikan demersal, udang, kepiting dan cumi-cumi.

Di NTT tingkat pemanfaatannya baru mencapai 30%, sementara untuk budidaya laut, potensinya baru sekitar 450 ha dengan jenis produksinya mutiara, rumput laut dan teripang. Perairan Laut Sawu juga merupakan habitat penting biota laut migran di Indo-Pasifik. Perairan Indonesia seluruhnya memiliki lebih dari 30 jenis cetacean (nama kolektif untuk semua jenis paus dan lumba-lumba).

Tim Ekspedisi Solor-Alor (WWF-Indonesia, The Nature Conservancy, perguruan tinggi dan pemerintah daerah) tahun 2001-2002 melakukan survey awal untuk melihat status keanekaragaman dan pola pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut di wilayah perairan ini, dan menemukan 11 spesies paus, 2 diantaranya berstatus langka yaitu paus sperm dan paus biru. AI

Leave a Reply