Wednesday - April 1st, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Cari Dana dengan Wali Pohon
Post Info Wednesday, April 1st, 2009 14:47 by agroindonesia Print Print this page

Konservasi tentu butuh biaya. Sementara dana pemerintah pun terbatas. Untuk mengatasi kekurangannya, Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam Jawa Barat bekerjasama dengan Perhimpunan Penempuh  Rimba dan  Pendaki Gunung, Wanadri menawarkan program Wali Pohon. Dengan bendera Manajemen Pengelola Kawasan Konservasi Masigit – Kareumbi, keduanya bertekad memulihkan Kawasan Konservasi Masigit-Kareumbi (KKMK) yang terdegradasi.

“Program  konservasi  Wali  Pohon  ini membuka peluang kepada masyarakat untuk berperan aktif  sebagai orang  tua asuh bagi pohon yang ditanam di Kawasan Konservasi Masigit-Kareumbi,” ujar salah satu staf Managemen Pengelola KKMK, Galih Donikara sewaktu dihubungi Agro Indonesia akhir pekan lalu.

 

Yang ingin ikut, caranya pun gampang. Cukup menyetor Rp50.000 untuk satu pohon,  nama pengadopsinya akan menempel di pohon selama 5 tahun. Biaya itu sudah termasuk penyediaan bibit pohon, penanaman di lokasi konservasi, pembuatan  dan  penempelan  papan nama  serta perawatan pohon selama 5 tahun sejak pertama ditanam.

 

“Bagi anda yang mengadopsi minimal atau kelipatannya, maka blok area adopsi pohon bisa disebut atas nama organisasi atau lembaganya dan dicantumkan pada peta lokasi,” jelas Galih.  

 

Ke depan, secara bertahap pihaknya akan memberikan tanda wali dalam bentuk sertifikat digital yang dikirim lewat email dan website agar pengadopsinya mudah memantau perkembangan pohon adopsinya termasuk informasi terbaru.

 

Buat yang ingin menananam sendiri pohon yang diadopsinya pun boleh. Nanti petugas lapangan akan mendampingi. Tapi bagi yang sibuk dan tak punya waktu luang untuk berkunjung, tak apa-apa. Hubungi saja Manajemen Pengelola KKMK dan daftarkan diri. Meski penanamannya hanya dilakukan setiap awal musim hujan, Oktober hingga Januari namun programnya dibuka sepanjang tahun.  

 

Berdasarkan catatan Galih, program konservasi Wali Pohon yang dicanangkan sejak 28 November 2008 ini seluruhnya mencapai 9.000 pohon. Rinciannya, 5.000 pohon atas nama Bank Negara Indonesia, 1.200 pohon diadopsi alumni Santo Aloysius dan 2.000 pohon berlabel Universitas Padjajaran. Sisanya, 800 pohon dari perorangan, keluarga dan perhimpunan.      

 

Untuk tahap awal, program tersebut dialokasikan pada lahan seluas 30 hektare (ha) di KKMK, tepatnya blok Bagus sampai blok Cinini. Penanamannya menerapkan jarak tanam 4×4 meter (m) dengan pola baris atau berbanjar searah kontur.

 

Sesuai dengan kawasan tumbuhnya, disana akan ditanam puspa (Schima wallichii), rasamala (Altingia excelsa), manglid (Manglietia glauca), salam (Syzygium polyanthum), sobsi (Maesopsis eminii) dan suren (Toona sureni).

 

Selain ketersediaan bibit lokal dan kecocokan, pemilihan 6 jenis pohon itu juga ditinjau dari aspek kemampuan pohon untuk menangkap air, menahan tanah serta manfaat pohon untuk satwa liar seperti burung, tupai dan primata lokal.

 

Pada areal bawah yang bersebelahan dengan jalan kontrol akan ditanam perdu multifungsi berupa kaliandra bunga merah dengan pola sabuk sekitar 10 m. Tanaman yang punya nama latin Calliandra  calothyrsus ini berguna sebagai penahan erosi tanah, kayunya bisa digunakan untuk kayu bakar, daunnya disukai kambing dan sapi serta bunganya pun penghasil nektar madu.  

 

Yang pasti, kata Galih, penduduk setempat dilibatkan. Pola-pola pemberdayaan masyarakat pun dikembangkan. Program Wali Pohon ini bekerjasama dengan komunitas di sekitar blok penanaman untuk perawatan yang rutin dilakukan empat kali pertahun. Perawatannya ini termasuk pemantauan kondisi pohon, pembersihan gulma, pemupukan dan penyulaman. “Program Wali Pohon ini melibatkan satu kampung, Leuwi Liang.”

 

Jika tanaman adopsinya gagal tumbuh atau mati, Anda tak usah kuatir. Karena ada garansinya. Manajemen Pengelola KKMK berjanji akan menggantinya pada masa tanam berikutnya.  

 

Sebagai gambaran, KKMK letaknya sekitar 14 kilometer (km) di sebelah Utara kota Cicalengka atau 43 km dari kota Bandung. Areal yang luasnya mencapai 12.470,70 ha ini merupakan bagian dan termasuk ke dalam tiga kabupaten: Bandung, Sumedang dan Garut.

 

KKMK yang merupakan Taman Buru ini sangat penting sebagai daerah hulu dan mata air dari beberapa anak sungai seperti Citarik dan Cimanggu yang bermuara di sungai besar Cimanuk dan Citarum. Fenny

Leave a Reply