Wednesday, April 1st, 2009 14:57 by
agroindonesia
Print this pageDurian adalah nama buah yang tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Buah yang memiliki kulit berduri ini begitu banyak diminati sehingga memberikan keuntungan yang menggiurkan bagi petani yang membudidayakan.
Jika melihat potensi pasarnya. bertanam durian merupakan sebuah prospek usaha agribisnis yang bagus. Cara bertanam durian yang baik merupakan pintu gerbang menuju sukses. Tetapi mandegnya program pengembangan durian unggul di tanah air mengakibatkan buah yang disebut si“Raja” tersebut tidak terlihat perkembangannya meski sejak tahun 1984 -2006 sudah dirilis sebanyak 67 jenis oleh Departemen Pertanian.
Itu sebabnya, mandeknya pengembangan itu, ungkap Dekan fakultas pertanian Universitas Brawijaya-Malang Prof Ir Sumeru Ashari, MagrSC,PhD, pasar durian di dalam negeri banyak dikuasai oleh durian impor.
“Bayangkan saja, Indonesia yang kaya jenis durian unggul justru tidak ditemukan di pasar dan masyarakat lebih mengenal durian monthong asal Thailand. Jenis durian asal negeri gajah putih ini tidak hanya menempati pasar elit tetapi juga lapak kaki lima. Hal ini sangat memprihatinkan,” katanya kepada Agro Indonesia, pekan lalu.
Menurut Sumeru yang menjabat sebagai koordinator Durian Research Center (DRC), beberapa waktu lalu dia berdiskusi dengan Direktur Budidaya Tanaman Buah, Winny Dian Wibawa serta Direktur perbenihan Sarana Produksi Nana Laksana Ranu untuk merancang pengembangan durian unggul nasional. Rencana ini disambut baik Dirjen Hortikultura Dr Ir Ahmad Dimyati untuk memproduksi bibit durian unggul secara besar-besaran.
“Perbanyakan bibit unggul secara besar-besaran harus diprioritaskan karena perbanyakan bibit sangat mendesak. Bibit unggul tersebut selanjutnya diberikan kepada petani untuk ditanam di habitatnya masing-masing sesuai dengan asalnya,” ujar Sumeru.
Seandainya semua durian unggul nasional tadi sudah bisa mengganti jenis yang kurang baik mutunya, ucapnya, InsyaAllah dalam waktu dekat bibit unggul durian akan menghasilkan buah bermutu yang siap tanding dengan durian asal manapun.
Diakui Sumeru, sebagai buah asal Asia Tenggara, plasma nutfah durian paling banyak di Indonesia. Universitas Brawijaya (UB) Malang yang tahun lalu mengembangkan Durian Research Center menyiapkan lahan seluas 4 hektar di desa Kasembon untuk pertanaman durian. Desa ini dipilih fakultas pertanian UB mengingat, desa ini memiliki plasma nutfah durian jingga, dagingnya berwarna jingga dan tebal, rasanya legit namun kesat.
“Fakultas Pertanian UB sudah melakukan eksplorasi bibit durian di seluruh Indonesia, tetapi fokusnya tetap akan memproduksi durian jingga secara besar-besaran,” tuturnya.
Hal itu perlu dilakukan karena durian jingga tetap lebih unggul dibandingkan durian jenis lain yang ditemukan di tanah air, kendati ukurannya kecil dan untuk penikmat durian harus melahap lebih dari 1 buah karena beratnya tidak lebih dari 2 kilogram/buah.
Dua Tahun Lagi
Untuk memperbanyak bibit durian jingga, pakar hortikultura itu menjelaskan, butuh waktu 2 tahun lagikarena yang cukup rumit adalah penelitian dalam mencari formula kultur jaringan. Dalam proses tissue kultur yang sulit adalah proses pencucian hingga membutuhkan waktu sedikitnya 3 bulan hingga 1,5 tahun. Mengingat, kalau proses pencucian tidak pas maka untuk memacu pertumbuhan akan lebih sulit ditemukan formulanya.
Dijelaskan Sumeru, daerah Kasembon, Ngantang dan Wonosalam merupakan segitiga durian di Malang. Wonosalam masuk Kabupaten Jombang yang berbatasan dengan kabupaten Malang dan memiliki durian unggul Bedu yang sudah dirilis oleh Departemen Pertanian.
Untuk pembangunan agribisnis di Bontang (Kasembon-Ngantang) bagaimana formulanya, UB sudah melakukan pembicaraan dengan Bupati Malang Sujud Pribadi agar daerah ini dikonservasi sebagai daerah terlindung. Karena untuk merilis durian dibutuhkan stabilitas daya hasil terutama tanaman keras harus ditinjau spesifikasi daerah.
“Jingga memiliki pohon induk yang telah berumur 80 tahun bahkan ada yang mencapai umur 130 tahun dan masih berproduksi dengan baik sehingga cukup bagus digunakan sebagai plasma nutfah. Awal tahun 2009 UB sudah melakukan pembibitan jingga dengan metode kultur jaringan dan saat ini sudah masuk pada tahap pengembangan,”katanya.
Durian ini merupakan buah yang agak unik dan tidak mudah hidup di lahan terbuka.Agar ada jaminan tumbuh harus dilakukan pembibitan pada nursery. Karena jika langsung ditanam pada lahan terbuka jika ukurannya terlalu kecil jaminan hidupnya hanya 30%. Di sisi lain, durian ini spesifik lokasi.
Misalnya jingga jika ditanam di tempat lain hasilnya tidak akan meksimal bahkan warna dagingnya akan berubah. Karena itu, kalau di seluruh Indonesia akan muncul durian-durian yang berkualitas unggul maka pamornya akan mengalahkan monthong.
Sumeru memang terobsesi untuk mengembangkan durian unggul nasional karena tergelitik bagaimana Thailand yang luasnya hanya setengah Jawa Timur saja duriannya bisa dikenal di seantero dunia. Hal ini karena secara geografis Thailand tidak terlalu tinggi dan durian yang dikembangkan hanya 2 plasma nutfah. Sementara Indonesia memiliki beragam plasma nutfah durian yang letak geografisnya beragam mulai dataran rendah hingga tinggi.
Di sisi lain, pemerintah Thailand dengan Thai Bank Faemernya secara nyata membantu petani untuk melaksanakan pembibitan. Namun saat ini Departemen Pertanian cukup mendukung pengembangan hortikultura di tanah sir sehingga untuk mengembangkan durian cukup mendapatkan dukungan. Shanty
Dalam bahasa latin, durian (Druio Zibethinus Murr) termasuk dalam famili bombacaceae. Daerah asalnya meliputi Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Namun karena pola kehidupan masyarakat yang nomaden kala itu, budidaya durian menyebar keseluruh Indonesia, Myanmar, Thailand, Pakistan dan India.
Di pasar buah, jenis durian yang ditransaksikan cukup banyak. Namun dari semua jenis itu, Pemerintah hanya menetapkan varietas unggulan untuk Sitokong (Ragunan-Jakarta Selatan), Mas (Rancamaya-Bogor), Montong (Introduksi dari Thailand), Kani (Introduksi dari Thailand), durian Petruk (Jepara-Jateng), Sukun (Karanganyar-Jateng), Sunan (Bonyolali-Jateng), Si Hijau, Si Japang dan Si Dodol (Ketiganya dari Banjar-Kalimantan Selatan).
Pada umunya durian dapat tumbuh baik didaerah yang berketinggian 50m-600m diatas permukaan laut (dpl). Walaupun demikian, tidak jarang pula dijumpai yang tumbuh baik didataran tinggi (800m dpl) dan dataran rendah (10m dpl).
Walaupun begitu, durian sangat cocok ditanam didaerah yang berketinggian 200m-600m dpl, intensitas cahaya 45%-50% dan suhu udara 220C-300C. Secara alamiah, durian dapat tumbuh dengan baik didaerah yang beriklim basah dengan curah hujan 1500mm-2500mm/tahun merata sepanjang tahun.
Sementara lahan yang cocok untuk durian adalah tanah dengan solum cukup dalam (lebih 100cm) tidak bercadas, atau berlapis liat yang kedap air, struktur tanah lemah, topografi datar atau miring dengan jenis tanah latosol, podsolik merah kuning, atua andosol. Kedalaman air tanah 50cm-200cm dari permukaan air tanah dengan keasaman tanah (pH) berkisar antara 6-7. Shanty