Wednesday - April 1st, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Proses Biodiesel Alga Makin Murah
Post Info Wednesday, April 1st, 2009 16:08 by agroindonesia Print Print this page

Biodiesel, biofuel atau apapun namanya, kini kembali sulit bergerak setelah harga minyak mentah dunia merosot drastis dari 140 dolar AS/barel tinggal 50 dolar/barel. Untuk memutus mata rantai ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, maka jalan satu-satunya adalah bagaimana menciptakan proses pembuatan biofuel yang makin murah. Impian itu yang tengah digarap dan diyakini dalam waktu dekat segera tercapai.

 

Harapan itu mengemuka ketika para pakar kimia melaporkan telah berhasil mengembangkan apa yang disebut proses pengubahan alga (ganggang) menjadi biofuel yang ekonomis dan ramah lingkungan untuk pertama kalinya. Bahkan, mereka berani meramal bahwa suatu hari nanti Amerika akan terlepas dari ketergantungan impor minyak untuk bahan bakar dengan hasil temuan ini. Studi ini dipaparkan pada Rapat Nasional ke-237 Masyarakat Kimia Amerika (ACS), Maret.

 

Seperti diketahui, salah satu masalah yang dihadapi dalam produksi biodiesel dari alga adalah biaya produksinya. Namun, para peneliti New York mengatakan, dengan proses inovatif temuan mereka, maka metode proses pembuatan biodiesel alga lebih murah 40% dibandingkan biaya yang dipakai saat ini.

 

Dengan terpangkasnya biaya produksi 40%, maka biodiesel alga memang sangat menjanjikan. Apalagi, pasok sangat melimpah. Jumlah ganggang yang tumbuh di samudera, laut, danau, sungai di seluruh dunia sangat banyak.

 

Manfaat lainnya dari metode “continuously flowing fixed-bed” untuk menciptakan biodiesel dari alga, kata mereka, adalah tidak adanya air limbah yang dihasilkan sehingga tidak ada polusi.

 

“Ini merupakan cara ekonomis pertama untuk memproduksi biodiesel dari minyak alga,” kata ketua peneliti Ben Wen, Ph.D. “Biayanya jauh lebih murah dibandingkan  proses konvensional karena Anda hanya butuh pabrik yang lebih kecil, tidak ada biaya pengolahan air limbah dan prosesnya jauh lebih cepat,” tambah Ben, yang juga vice president United Environment and Energy LLC, Horseheads, New York.

 

Katalis padat

Menurutnya, kemajuan utama dari proses baru ini adalah digunakannya katalis solid (padat) yang dikembangkan di perusahaannya ketimbang katalis cair (likuid) yang digunakan oleh ilmuwan lainnya dewasa ini. Pertama, katalis solid itu bisa dipakai berulang-ulang. Kedua, dia bisa dipakai untuk menghasilkan aliran biodiesel tak terputus, dibandingkan metode penggunaan katalis cair.

 

Proses penggunaan katalis cair lebih lambat karena pekerja harus mengistirahatkan mesin minimal setengah jam setelah produksi untuk menghasilkan biodiesel kembali. Mereka juga harus memurnikan biodiesel dengan mentralisir katalis dengan menambahkan asam. Semua itu tidak diperlukan lagi jika menggunakan katalis solid.

 

Dia memperkirakan alga memiliki “angka produksi minyak per acre 100 sampai 300 kali lipat dibandingkan kedele, dan menawarkan angka produktivitas pertumbuhan yang tertinggi sebagai pemasok biodiesel dan menjadi sumber bahan baku paling menjanjikan untuk menghasilkan biodiesel massal untuk mengganti bahan bakar transportasi di Amerika.”

 

Ben menyatakan, perusahaannya kini tengah melakukan proyek percontohan untuk memproses alga menjadi biodiesel dengan kapasitas produksi hampir 1 juta galon biodiesel alga/tahun. Menurut Ben, perusahaannya bisa saja menghasilkan biodiesel alga 50 juta galon/tahun, tergantung pada besaran mesin dan pabrik.

 

Dia juga mengaku, metode produksi tak terputus dengan menggunakan katalis solid bisa diterapkan untuk pola unit mesin mobil (bergerak/portabel) sehingga perusahaan-perusahaan yang lebih kecil tidak perlu membangun pabrik dan militer bisa menggunakannya di lapangan.

 

Penggunaan alga untuk bahan bakar pengganti minyak memang sangat menarik. Bahkan, dibandingkan dengan komoditas lainnya seperti jagung, kelapa sawit, kedele dan tebu, alga menghapus masalah sosial, ekonomi dan etika, mengingat ganggang bukan produk pangan pokok.

 

Keunggulan utama alga adalah sangat efisien untuk diubah menjadi minyak dan sari pati (starch). Dia juga tak butuh lahan pertanian yang akan berebut dengan komoditas pangan. Minyak alga ini bisa dikonversi menjadi biodiesel dan sari patinya bisa difermentasi menjadi etanol — yang juga bisa dipakai untuk BBM. AI

4 Responses to “ Proses Biodiesel Alga Makin Murah ”

  1. hadi pranoto

    kami adalah perusahaan kecil yang membuat inovasi mesin atau alat dalam rangka renewable energy dan saat ini kami sedang mengembangkan mesin pembuatan biosolar yang otomatis dan efisein , kami sangat tertarik dengan informasi tentang teknologi sederhana agar masyarakat dapat mengolah alam dengan arif supaya indonesia bukan hanya negara konsumen, saya akan terus ikuti perkembangannya
    jaya indonesia

  2. Hotni Sihite

    Hadi Pranoto,

    mohon pencerahannya dong… bagaimana merancang mesin pengolahan biodiesel sederhana, tidak rumit dan ekonomis.

    karena budget saya terbatas dan saya sangat ingin investasi. 08568111118

    Mohon bantuannya ya… thanks…

    regards,

    Hotni Sihite

  3. Eddy Boekoesoe

    Melihat semangat dari sdr Hadi Pranoto dan mas Hotni Sihite, saya yakin ada ratusan ribu orang yang memiliki semangat seperti ini.
    Untuk itu sekarang perlu ada komando xecara nasional seperti sewaktu pak Harto swa sembada beras dulu.
    Pak SBY sebaiknya memproklamirkan usaha produksi ganggang menjadi biofuel secara nasional agar seluruh aparat pemerintah akan membantu orang orang seperti pak Hadi Pranoto dan pak Hotni Sihite ini dapat segera berkiprah.
    Salam
    Eddy Boekoesoe

  4. joseph

    Mengapa peneliti Indonesia tidak pernah meneliti secara detail tentan biofuel dari Algae. Karena dengan biofuel energi listrik dan transportasi jadi lebih murah sehingga produksi barang jadi murah. dan yang lebih utama jangan hanya slogan go green.

Leave a Reply