Wednesday - April 1st, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Terjun Bebas Ala Pasar Induk
Post Info Wednesday, April 1st, 2009 14:19 by agroindonesia Print Print this page

Pesta telah usai. Begitulah kira-kira pernyataan sebagian pedagang sayur mayur. Setelah menikmati harga jual yang tinggi selama beberapa pekan, para pedagang sayur mayur  kini harus rela untuk menerima kenyataan harga komoditi yang dijualnya melorot bagaikan terjun bebas.

 

“Sebagian besar harga sayur mayur sudah meluncur turun,” kata Jajang, seorang pekerja pada lapak sayur mayur di Pasar Induk Kramat jati (PIKJ), akhir pekan lalu.

         

Menurutnya, menurunnya harga jual sebagian besar komoditi sayur mayur itu dikarenakan musim panen telah tiba di berbagai sentra produsen. Selain itu, harga jual sebagian besar komoditi sayur mayur saat ini sudah berada dalam posisi tinggi.

         

“Dengan harga jual yang sudah tinggi, terkena sentimen kecil saja, misalnya kabar tentang akan masuknya banyak pasokan dari berbagai sentra produsen, akan membuat harga jual langsung terkena imbasnya,” paparnya.

         

Berdasarkan data pengelola PIKJ, hampir semua komoditi sayur utama, seperti bawang merah, tomat, kentang dan cabe, mengalami penurunan harga jual.

 

Bawang merah, yang selama beberapa pekan belakangan ini harganya cukup stabil di kisaran Rp9.000/kg, kini tak berdaya terhadap tekanan pasar berupa menurunnya permintaan konsumen.

         

Akhir pekan lalu, harga komodti ini hanya ditransaksikan di posisi Rp8.000/kg. Padahal, pekan sebelumnya, harga jual komoditi andalan daerah Brebes ini masih mampu dilego di posisi Rp10.800/kg.

         

Penurunan harga itu tidak bisa lagi ditahan walapun pada pekan lalu pasokan bawang merah mengalami penurunan dari 1.161 ton menjadi 1.127 ton.

         

“Harga jual bawang merah memang sudah tegrolong tinggi sehingga berimbas pada penjualan pedagang di pasar-pasar tradisional seperti kami,” kata Murtiyah, pedagang bawang merah di sebuah pasar tradisional di kawasan Rawamangun.

         

Menurutnya, akibat tingginya harga bawang merah, kemampuan dirinya untuk menjual komoditi itu semakin menurun. “Jika sebelumnya dalam sepekan saya bisa menjual tiga kuintal, maka dengan harga yang tinggi, saya hanya mampu menjual dua kuintal saja,” paparnya.

         

Penurunan tajam juga terjadi pada komoditi kentang. Pasar anya bisa mentransaksikan komoditi tersebut pada posisi Rp4.000/kg pada akhir pekan lalu. Posisi harga itu merupakan sutu penurunan tajam jika dibandingkan dengan harga jualnya pada pekan sebelumnya yang mencapai Rp5.800/kg.

         

“Pemicu utama melorotnya penjualan kentang adalah rendahnya permintaan pasar,” kata Murgiono, seorang pedagang kentang.

         

Data pengelola PIKJ menunjukkan kalau pasokan kentang dari sentra produsen di Sukabumi, Lembang pada pekan lalu hanya mencapai 800 ton atau turun 35 ton dibandingkan pasokan pada pekan sebelumnya.

         

Trend penurunan harga jual juga berimbas terhadap komoditi cabe. Harga jual cabe jenis rawit merah terpaksa terjun bebas. Akhir pekan lalu, jenis cabe ini hanya ditransaksikan di posisi Rp18.000/kg. padahal pekan sebelumnya, para pedagang masih bisa melegonya dengan harga Rp26.000/kg.

         

Menurut kalangan pedagang, anjloknya harga cabe rawit merah memang sudah diperkirakan mengingat harga jual komoditi itu sebelumnya sudah tergolong tinggi jika dibandingkan dengan harga jenis cabe lainnya.

         

Untuk pekan ini, pasar diprediksikan  tren penurunan masih terjadi pada komoditi-komoditi yang harganya masih tergolong tinggi, misalnya wortel dan tomat.

         

“Namun, ada sebagian komoditi sayur mayur yang berpeluang untuk terangkat lagi harganya pada pekan depan,” tutur seorang pedagang. Dia merujuk harga jual cabe merah kriting dan cabe rawit hijau akan berpeluang naik, walaupun tidak terlalu besar.

 

Sementara di sektor buah-buahan, tren harga yang terjadi pad apekan depan diperkirakan masih berlangsung stabil. Fluktuasi harga kemungkinan akan terjadi pad abuah-buahan impor. B Wibowo

Leave a Reply