Thursday - April 16th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Dongkrak Produksi dengan Kapas Hibrida
Post Info Thursday, April 16th, 2009 11:35 by agroindonesia Print Print this page

Departemen Pertanian tahun ini   menargetkan luas pengembangan lahan kapas hibrida seluas 7.500 hektare (ha) dari total luas areal kapas nasional 20.000 ha. Pengembangan kapas hibrida terpusat di Sulawesi Selatan.

Demikian diungkapkan Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian, Achmad Mangga Barani kepada Agro Indonesia di Manado, Kamis (16/4).

 

Saat ini pemerintah telah melepas varietas kapas hibrida, yaitu HSC 188, HSC 138 dan HSD 51. Dari hasil uji multilokasi, produktivitas kapas hibrida itu berkisar 3,5-4 ton/ha.  Dengan menggunakan benih kapas hibrida tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani, sekaligus mensukseskan program peningkatan produksi kapas nasional.

 

Pemerintah sendiri akan memberikan subsidi dalam program pengembangan kapas tersebut. Kebutuhan benih akan ditanggung pemerintah agar petani menggunakan benih unggul, termasuk sarana produksi lainnya.

 

Tahun ini pemerintah menargetkan total luas areal pengembangan kapas sekitar 20.000 ha dengan produksi sebanyak 30.000 ton. Jumlah tersebut memang masih jauh dari angka kebutuhan serat kapas dalam negeri yang mencapai 550.000 ton. Namun, kata Mangga, tetap bisa mengurangi ketergantungan terhadap produk kapas impor.

 

Pengembang tanaman kapas berada di 55 kabupaten. Terluas berada di Sulawesi Selatan 7.500 ha, sisanya berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tanggara Timur. Di Sulawesi Selatan sendiri difokuskan pengembangan kapas hibrida, sedangkan di wilayah lain varietas unggul lokal Kanesia. ”April ini menjelang musim kemarau akan kita canangkan tanam perdana kapas di Sulawesi Selatan.”

 

Saat ini setidaknya ada tujuh perusahaan pemintalan serat kapas yang bermitra dengan petani melakukan penanaman, yakni Supin Raya, Makassar Cotton Industry dan Seco Fajar di Sulawesi Selatan, AD Agro Industri (Bali), Nusafarm (Jawa Timur) dan Sukun Jawa Tengah.

 

Pemerintah berharap musim tahun ini cukup bersahabat, sehingga tidak mengganggu produktivitas tanaman. Untuk budidaya komoditas kapas harus memenuhi dua persyaratan utama, yaitu daerah dengan iklim kemarau dan hujan yang tegas, serta sistem pengairan yang teratur. Sebab, jika hujan turun saat panen, kualitas dan produksi kapas akan jatuh.

 

Faktor lain yang membantu peningkatan produksi adalah ketersediaan benih harus tepat waktu. Dengan penggunaan varietas unggul lokal Kanesia 7 dan Kanesia 8 diharapkan produktivitas naik menjadi 1,25 ton/ha, sedangkan produktivitas kapas hibrida bisa mencapai 2 ton/ha di tingkat petani.

 

Pengalaman tahun 2008 dengan bantuan benih unggul kapas kepada petani, poduktivtas tanaman kapas mulai menunjukkan peningkatan di atas 1 ton/ha. Padahal, tahun-tahun sebelumnya produktivitasnya hanya 0,9 ton/ha. ”Rendahnya produktivitas kapas di dalam negeri disebabkan benih yang digunakan petani bermutu rendah. Karena itu pemerintah memberikan bantuan benih unggul.”

Sesuai asumsi yang direncanakan dengan produksi 2-3 ton/ha dan harga minimal Rp4.000/kg, maka pendapatan petani bisa Rp10 juta.

Hibrida masih uji coba

Mangga mengungkapkan, hingga kini pengembangan kapas hibrida masih dalam tahap ujicoba oleh Balai Penelitian Tanaman Kapas dan Serat (Balittas) bekerja sama dengan PT. Supin Raya. Selain itu ketersediaan benih tersebut masih harus diimpor cari China.
Namun untuk impor benih pemerintah memberikan batas waktu hingga 2010. Sesuai aturan pemerintah, swasta diberikan kesempatan impor benih tanaman, kemudian mengembangkan di dalam negeri selama tiga tahun.

 

Untuk pengembangan kapas hibrida sudah berlangsung sejak 2006, sehingga batas akhir impor benih kapas adalah tahun 2009. Dengan demikian pada tahun selanjutnya sudah bisa diproduksi sendiri dalam negeri. Tahun 2009 diperkirakan impor benih pokok (F1) dari Cina sebanyak 1.000 kg.

 

Pemerintah berharap pengembangan kapas hibrida ini bisa membantu peningkatan produksi serat kapas di dalam negeri. Seperti diketahui, selama ini kebutuhan serat kapas untuk industri tekstil sebagian besar harus impor.Diperkirakan dari total kebutuhan serat kapas sebanyak 500 ribu ton, produksi dalam negeri hanya bisa memasok sekitar 30-40 ribu ton serat kapas.

 

”Pengembangan  kapas di Indonesia diharapkan bisa menggantikan sebagian produksi impor yang bernilai ratusan juta dolar AS itu.”

Data Departemen Pertanian, potensi lahan yang dapat dikembangkan menjadi areal perkebunan kapas sampai saat ini mencapai 300 ribu ha di seluruh Indonesia. Namun, pemerintah masih harus mengatasi persoalan pengairan mengingat lokasi penanaman kapas berada pada lahan marjinal. Julian

One Response to “ Dongkrak Produksi dengan Kapas Hibrida ”

  1. pupuk organik

    pupuk organik : Mendapatkan Hasil Panen Lebih Berkwalitas : Rasa, Kandungan Nutrisi dan Daya Simpan

Leave a Reply