Monday - May 25th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
WOC Masih Jauh dari Harapan
Post Info Monday, May 25th, 2009 14:16 by agroindonesia Print Print this page

Upaya Indonesia mengangkat laut sebagai penyerap karbon dalam rangka mitigasi pemanasan global masih jauh dari harapan. Deklarasi Kelautan Manado yang dihasilkan pun sulit dipakai untuk memperoleh dana dari perdagangan karbon di laut.

Sebagai negeri bahari, Indonesia pasti sangat beruntung jika laut bisa masuk dalam agenda penyerap karbon dalam rangka mitigasi pemanasan global. Bahkan, jutaan hektare hutan tropis yang ada di daratan nusantara, masih belum sebanding dengan luasnya lautan negeri ini.

Apalagi, dari informasi yang ada, lautan diketahui menyimpan karbon dalam jumlah luar biasa. Jika tumbuhan hanya menyimpan 610 gigaton dan menyerap bersih karbon 1,4 gigaton, lautan beberapa kali lipat. Laut permukaan saja ditaksir menyimpan 1.020 gigaton dengan serapan bersih 2 gigaton, sementara laut tengah dan laut dalam menyimpan 38.100 gigaton karbon.

Sayangnya, efisiensi laut sebagai penyerap karbon dinilai kalah dibandingkan hutan. Kalaupun laut bisa menyerap karbon, namun daya serapnya tidak sebesar hutan.

Itu sebabnya, meski forum WOC akhirnya melahirkan Deklarasi Kelautan Manado (Manado Ocean Declaration/MOD), namun di mata Kepala Divisi Sumber Daya Laut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Augy Syahailatua, Indonesia tidak dapat berharap banyak dari perdagangan karbon laut. Menurutnya, belum ada penelitian terkait perhitungan penyerapan karbon di laut. Bahkan belum ada penelitian yang bisa menghitung berapa besar karbon terserap oleh terumbu karang di laut.

“Karena itu, harapan Indonesia bisa memperoleh dana dari perdagangan karbon di laut setelah terbentuknya Deklarasi Kelautan Manado masih sangat jauh,” katanya.

Namun, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi menganggap hajatan WOC tetap sukses, terutama dalam menarik perhatian mengenai dampak pemanasan global terhadap laut. Pasalnya, isu laut selama ini sangat minim dibahas, bahkan dalam UNFCCC.

“Kini dengan terselenggaranya WOC, pandangan terhadap laut berubah drastis. Terutama dengan Deklarasi Kelautan Manado yang  diadopsi 75 negara. Semua sepakat dan menyatukan tujuan negara-negara peserta konferensi untuk menjadikan laut sebagai arus utama dalam setiap pembahasan dan negosiasi terkait perubahan iklim,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Pertemuan Pejabat Tinggi (Senior Official Meeting/SOM) WOC, Eddy Pratomo. Dia berharap kesepakatan dalam deklarasi itu bisa mempengaruhi pembahasan global mengenai perubahan iklim, dan menjadikan dimensi laut sebagai arus utama di dalamnya. Akankah itu terjadi? Kita tunggu dan lihat saja. AI

Leave a Reply