Thursday - June 11th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Inhutani III Bangun HTI Rotan
Post Info Thursday, June 11th, 2009 16:27 by agroindonesia Print Print this page

Hutan memang bukan melulu kayu. Rotan contohnya. Bahkan, buat PT Inhutani III, hasil hutan bukan kayu (HHBK) ini adalah salah satu bisnis menjanjikan. Tak heran, plat merah sektor kehutanan ini pasang ancang-ancang membangun HTI rotan.

Krisis bukan kiamat buat bisnis. Selalu ada peluang dan jalan keluar yang kerap memberi hasil mengejutkan. Kondisi itu pula yang dialami PT Inhutani III. Perubahan politik dan ekonomi yang terjadi dalam 10 tahun terakhir, baik lokal, regional bahkan global, nyaris menenggelamkan seluruh BUMN kehutanan, termasuk Inhutani III. Namun, lewat semangat juang untuk bertahan, BUMN yang punya wilayah kerja di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat ini seolah bangkit dari kubur.

Krisis keuangan memaksa perusahaan plat merah ini merestrukturisasi bisnis intinya. Jika semula kayu menjadi andalan, belakangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang digeluti dan ditekuni. Bahkan, HHBK terbukti menjadi penyelamat yang kemungkinan besar bakal mengembalikan roda bisnis Inhutani III ke jalur bisnis intinya kembali: pengelolaan hutan.

Dulu, Inhutani identik dengan HPH dan industri kayu. Sekarang, tidak lagi. Inhutani juga mampu bermain di komoditas yang identik dengan perusahaan perkebunan, terutama karet. Penguasaan lahan hutan yang selama ini kaku pada pengembangan komoditas kayu mulai bergeser dan karet menjadi pilihan logis sebagai komoditas bernilai tinggi di tengah naiknya harga minyak dunia. Dari tanaman karet, selain bisa memperoleh getah yang bisa dipanen sejak usia 4 tahun, perseroan juga bisa memperoleh kayu saat usia produktif terlewati.

Dari hanya menjadi pembeli bokar (karet mentah) milik rakyat, kini Inhutani III malah sudah menanam karet dan merintis pembangunan pabrik pengolahan karet. Bahkan, Inhutani III sudah mengembangkan HTI karet seluas 11.000 hektare (ha). Rinciannya 3.000 ha di Santilik, Kabupaten Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah, 3.000 ha di Purukcahu (Kalteng) serta 5.000 ha di Nanga Pinoh (Kalbar). Pengembangan karet ini terus digalakkan mengingat karet bukan barang ‘haram’ dan tidak menyalahi core bisnis perseroan. Maklum, karet masuk dalam kategori 20 jenis tanaman HTI.

Enam tahun panen

Sukses bisnis HHBK Inhutani III ternyata tak hanya di karet. Berbeda dengan BUMN kehutanan lainnya, persero yang dipimpin Sri Sudiharto ini juga satu-satunya yang menekuni rotan. Bahkan, Inhutani III sudah berancang-ancang mengembangankan HTI rotan. Jika terealisir, maka Inhutani III kembali akan menjadi BUMN pertama yang mengembangkan rotan secara intensif setelah sebelumnya sukses mengembangkan HTI karet.

“Banyak keunggulan dalam pengembangan HT rotan. Kita tak perlu melakukan land clearing dan bisa memanfaatkan areal bekas tebangan (logged over area). Artinya, secara konservasi, HTI rotan sangat baik dan usia 6 tahun sudah bisa panen,” ujar Dirut Inhutani III, Sri Sudiharto.

Rencana pembangunan HT rotan sendiri sudah masuk dalam program jangka panjang Inhutani III 2008-2012. Rencananya, ungkap Sri, Inhutani III akan menggunakan areal HTI yang dimiliki perusahaan di Santilik, Kalteng seluas 4.400 ha.

Budidaya rotan secara intensif ini memang tak lepas dari bisnis rotan yang sudah digeluti Inhutani III. Selama ini, perseroan memang menampung dan membeli rotan asalan dari petani rotan di sekitar Sampit. “Awalnya, kita memang membeli rotan dari petani yang banyak membudidayakan rotan di Sampit. Kita beli dari kebun mereka untuk dijadikan rotan poles dan hasilnya kita ekspor dalam bentuk rotan core dan rotan lunti,” papar Direktur Produksi Inhutani III, Slamet Patra.

Namun, melihat potensi ekonomi yang besar, Inhutani III pun makin serius. Alhasil, pabrik sawn timber dan wood working di Sampit — yang sejak ambruknya bisnis kayu dan kerusuhan di Sampit berhenti beroperasi — kembali diaktifkan dan diubah fungsinya. Pabrik yang semula mampu menghasilkan produk kayu olahan dan kayu gergajian 3.000 m3/bulan itu disulap untuk pabrik pengolahan rotan pada 2006.

Dari sinilah Inhutani III merasakan manisnya HHBK. Pada tahun pertama produksinya, Inhutani III mampu menghasilkan 200 ton rotan olahan. Dari volume itu, sebanyak 70% diekspor ke Cina dan Thailand, sementara sisanya untuk memenuhi permintaan sentra pengrajin rotan di Cirebon. Dari bisnis ini, Inhutani III mampu meraup pendapatan Rp1,6 miliar.

Tahun lalu, produksi rotan asalan kering yang dihasilkan mencapai 222 ton dan tahun ini diperkirakan akan dihasilkan rotan core 150 ton dan akan stabil pada volume 252 ton/tahun dengan nilai penjualan diproyeksikan Rp18,15 miliar.

Peremajaan

Besarnya potensi rotan inilah yang membuat Inhutani III tergerak untuk membangun kebun budidaya rotan. “Memang ini rencana jangka panjang. Kita tidak mau tergantung pasok bahan baku dari pihak lain. Untuk itu, kita rencanakan untuk membangun HTI rotan di Santilik,” papar Sri.

Dia yakin rotan akan menjadi andalan penting bagi gerak usaha Inhutani III ke depan. Itu sebabnya, dibutuhkan kesinambungan pasok bahan baku. “Apalagi, kita kan sudah punya pabrik pengolahan sendiri,” tandas Sri.

Kontinuitas pasok memang menjadi perhatian Inhutani III, sehingga perlu dirancang pembangunan HTI rotan. Langkah ini sekaligus mengantisipasi penurunan produksi rotan dari kebun masyarakat akibat konversi menjadi kelapa sawit serta makin menurunnya potensi rotan dari hutan alam.

“Oleh karena itu, mulai 2009-2012 kita lakukan persiapan untuk membangun kebun rotan sendiri di Santilik. Untuk tahap awal, dari areal HTI seluas 4.400 ha akan kita tanami rotan 2.000 ha,” papar Sri.

Pada saat yang sama, kata Sri, Inhutani III juga menggandeng South Sea Rattan Cane Processing Factory dari Singapura untuk mengembangkan pabrik pengolahan rotan di Sampit. Kejasama ini adalah untuk peremajaan mesin serta pembelian rotan olahan yang dihasilkan. AI

data-intiga2

intiga

Rotan Kualitas Ekspor Menjanjikan

Bisnis rotan ternyata punya nilai jual menawan. Itu pula yang membuat kepincut PT Inhutani III, setelah merasakan manisnya rotan ekspor yang dibeli dan dikumpulkan dari petani budidaya rotan di Sampit, Kalteng. Apalagi, negeri ini adalah pemasok rotan terbesar, di mana 80% rotan di dunia datang dari Indonesia.

Itu sebabnya, Inhutani III satu-satunya BUMN kehutanan yang serius menggarap hasil hutan bukan kayu (HHBK) tersebut. Jika semula hanya menjadi pengumpul yang membeli rotan budidaya, Inhutani III pun berani mengubah industri pengolahan kayunya di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah menjadi pabrik pengolahan rotan.

Bahkan, plat merah yang dipimpin Sri Sudiharto ini sampai membuat kajian untuk meningkatkan pabrik tersebut pada tahun 2008. “Kita juga telah melakukan kerjasama dengan investor Singapura untuk meningkatkan pabrik dan penetrasi pasar,” kata Sri.

Kerjasama dengan investor Singapura ini tak lain untuk peremajaan mesin serta pembelian rotan yang dihasilkan pabrik Inhutani III. Sejauh ini, produk rotan yang telah dicuci (rattan washed) dan rotan yang telah digoreng dengan belerang (rattan sulfured) itu mayoritas diekspor ke Cina dan Thailand. Sementara sisanya dilepas di dalam negeri, terutama ke sentra pengrajin rotan Cirebon.

Harga rotan ekspor memang menarik, apalagi sebelum terjadi krisis ekonomi global. “Bahkan tahun lalu kami harus bersaing keras dengan swasta untuk membeli dari petani. Belakangan, harga menurun karena permintaan yang lesu di pasar ekspor. Di dalam negeri pun kondisinya sama,” ujar Direktur Keuangan Inhutani III, Sudjarwo.

Meski lesu, harga ekspor memang tetap menarik. Di dalam negeri, terutama untuk pasok ke Cirebon, harga rotan kecil (ukuran 4-8 mm) dihargai sekitar Rp9.000/kg sementara ukuran besar (di atas 8 mm) dibeli Rp5.000/kg. Sementara harga ekspor (cnf) untuk rotan ukuran besar dihargai 1,2-1,3 dolar AS/kg atau sekitar Rp13.000/kg dengan kurs Rp10.000/dolar.

Tak pelak, dengan nilai ekonomi rotan tersebut, Inhutani III serius untuk menggarap bisnis HHBK ini dari hulu ke hilir. “Kunci bisnis rotan memang ada di pasar dan ini berarti peran pemerintah untuk mengatasi soal harga. Itu sebabnya, saya mendukung jika ada pembatasan ekspor rotan asalan,” ujar Sri.

Selama ini, penguasa pasar adalah Cina. Dengan pembatasan ini, dia berharap ada perbaikan harga serta tidak menguras rotan dari hutan alam. Pada saat yang sama, rotan budidaya pun bisa makin berkembang karena ada insentif harga. AI

2 Responses to “ Inhutani III Bangun HTI Rotan ”

  1. radiansyah

    bisa minta tlg kirim tulisan ttg budidaya rotan pada kebun karet yang hendak diremajakan… jenis rotan apa yang cocok untuk dikembangkan di daerah panas 0-500 dpl (mesuji-lampung).thanks…

  2. Darussalam

    Kepada” Yth Pimpinan PT. Inhutani III
    di
    Tempat

    Kami dari PT. Karta Mahalar, yang berdomisili di Kalimantan Barat, ingin menawarkan rotan-rotan yang ingin dicari dari perusahaan yang bapak pimpin. Khususnya rotan yang berasal dari Kalimantan Barat.

    Adapun rotan yang ditawarkan antara lain:
    Rotan Semambu
    Rotan Sega
    Rotan Sarang Buaya
    Rotan CL
    Rotan Cacing/SLimit
    Rotan Pulut
    Rotan Batang/Dahan

    Rotan yang dihasilkan ini dapat diolah baik dengan cara penjemuran, penggorengan, maupun penyalayan.

    Bila berminat dapat menghubungi kami di
    e-mail : darussalam58@yahoo.com
    HP : 081345972227

    Atas waktunya kami ucapkan terimakasih

    Tertanda

    Darussalam, SH
    Dirut PT. Karta Mahalar Cabang Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia