Tuesday - June 16th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Kantong Maut Nepenthes Mulai Menyebar
Post Info Tuesday, June 16th, 2009 14:41 by agroindonesia Print Print this page

Tidak banyak tanaman hias yang masuk dalam kategori dilindungi peredarannya. Salah satunya adalah tanaman hias kantung semar atau si kantong maut (nepenthes). kantongsemar2

“Di Indonesia, perdagangan nepenthes tidak bisa leluasa. Untuk tanaman hias ini yang berasal dari alam, perdagangannya dibatasi Departemen Kehutanan,” ujar Karyadi, pedagang tanaman hias di kawasan Jalan Achmad Yani, Jakarta.

Menurutnya, sebenarnya, banyak penggemar tanaman hias yang ingin mengoleksi tanaman kantung semar. Namun karena sulitnya mendapatkan tanaman tersebut, menjadikan tanaman kantong semar sulit untuk menguasai pasar tanaman hias.

“Kantong semar digemari karena bentuk dan sifatnya yang aneh,” tutur pria asal Semarang yang sudah berkecimpung dalam dunia tanaman hias selama 25 tahun itu. Sifat aneh itu adalah kemampuan Nepenthes untuk membunuh korbannya, seperti semut dan serangga lainnya.

Kebiasaan membunuh nephentes dikarenakan tanaman ini hidup di kawasan rawa gambut serta pesisir pantai berbatu-karang. Tanaman ini hanya memiliki akar berukuran pendek berjumlah sedikit.

Agar bisa menyergap dan membunuh korbannya dengan mudah, nepenthes diberi alat penyergap berupa kantong ajaib. “Kantong ini terletak di ujung daun. Alat pembunuh tersebut juga dilengkapi dengan senjata kimia yang ada di dalamnya,” ujar Karyadi.

Jika melihat strukturnya, kantong maut yang ada pada nepenthes terbagi menjadi tiga bagian. Yakni, kantong atas, kantong antara dan kantong bawah.

Kantung atas memiliki helaian daun penutup. Sewaktu daun masih muda, pundi pemangsa tertutup. Pundi ini akan membuka ketika sudah dewasa.

“Tetapi, bukan berarti kantong ini menutup waktu muda saja. Ketika sedang mengolah mangsa, kantong ini juga menutup,” paparnya.

Untuk menarik mangsanya mendekat, bibir lubang kantong dilengkapi dengan alat penipu. Organ itu berwarna merah serta mampu menebarkan aroma manis.

“Dengan aroma yang menyebar itu, binatang yang menyukai makanan bercitarasa manis dan beraroma busuk akan mendekati tanaman tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, tanaman nepenthes sebenarnya bukanlah tanaman asing bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya, dari sekitar 82 jenis nepenthes yang tumbuh di muka bumi. 64 di antaranya merupakan tumbuhan endemik Indonesia.

Jika dilhat wilayahnya, Kalimantan adalah kerajaan nepenthes. Di pulau tersebut hidup sekitar 32 jenis nepenthes. Sementara 29 jenis lain merupakan hartakarun hayati yang terdapat di Pulau Sumatera.

Beda Makanan

Menurut Karyadi, makanan yang disukai nepenthes tidak sama. Sesuai dengan jenisnya, makanan yang disukai juga berbeda satu dengan yang lainnya.

Dia mencontohkan, untuk jenis tanaman nepenthes ampullaria, mangsa yang disukai adalah guguran dedaunan dan tumbuhan yang ada di atasnya. Untuk nepenthes yang memiliki mangsa favorit serangga berupa semut adan lalat, adalah nepenthes mirabilis.

“Sementara nepenthes lowii adalah tanaman kantong semar yang makanan favoritnya berupa kotoran burung,” ucapnya.

Dari ketiga jenis tanaman nepenthes ini, ungkapnya, yang paling banyak dicari penggemar adalah nepenthes yang memiliki mangsa berupa semut dan lalat.

“Kantong semar yang makanannya semut dan lalat banyak dciari penggemar tanaman hias ini,” ujarnya.

Karena banyaknya yang mencari, tak heran jika harga nepenthes pemakan semut dan serangga jauh lebih mahal ketimbang nepenthes jenis lainnya. Menurut Karyadi, selisih harganya bisa mencapai Rp50 ribu, tergantung dari bentuk dan tinggi tanaman tersebut.

Karyadi sendiri setiap pekannya bisa menjual 15 pot tanaman nephentes setiap pekannya dengan kisaran harga antara Rp100 ribu hingga Rp150.000 per potnya.

Tanaman itu didapatnya dari pemasok yang melakukan penangkaran. Dia sengaja hanya menerima tanaman nepenthes hasil penangkaran karena tak mau mengambil risiko hukum jika mengambil tanaman hias dari alam.

“Selain tidak melanggar hukum, tanaman nepenthes hasil penangkaran lebih mudah berkembang dibandingkan yang dipetik langsung dari alam,”ujarnya.

Untuk membedakan mana nepenthes yang beradal dari hasil penangkaran dan mana yang berasal dari alam, Karyadi memberikan rahasianya yakni terletak pada warna daunnya.

Untuk nepenthes yang berasal dari penangkaran, warna daunnya akan terlihat bersih. Sedangkan yang berasal dari alam, warna daunnya kusam dan banyak bercak kotoran. B Wibowo

Cara Vegetatif Lebih Menjanjikan

Melakukan budidaya dan memelihara tanaman kantong semar atau nepenthes sebenarnya tidak sulit jika kita memperhatikan dengan seksama sifat-sifat tanaman hias tersebut.

Menurut Karyadi, untuk melakukan budidaya nepenthes, terlebih dulu harus diketahui apakah tanaman yang akan kita tanam itu adalah nepenthes dataran tinggi atau nepenthes dataran rendah.

Untuk nepenthes dataran tinggi, lahan yang paling subur adalah daerah pegunungan berketinggian lebih dari 100 m di atas permukan air laut. Kisaran suhu malam hari yang dibutuhkan yaitu 20 – 12ºC. Sedang kisaran suhu siang hari antara 25 – 30ºC.

Sedangkan untuk nepenthes dataran rendah, lahan yang paling cocok adalah di atas tanah bercampur sersah dedaunan. Suhu harian yang dibutuhkan berkisar antara 22 – 34º C.

“Kedua jenis tanaman ini dapat dikembangbiakkan dengan cara vegetatif dan generatif,” ujarnya. Dari dua cara ini, dia menilai cara vegetatif lebih mudah dilakukan ketimbang genetarif dalam budidaya tanaman tersebut.

Perbanyakan lewat vegetatif dapat dilakukan  dengan memotong tanaman muda dari induknya. Setelah dipotong, tanaman ini harus segera ditanaman dengan media berbahan baku campuran sepagnum moss dan butiran zeolith dengan perbandingan 4:1.

Untuk pupuknya, tanaman ini lebih bagus bila disuguhi  serangga ketimbang pupuk kandang. Apalagi warna kantongnya akan makin besar dan menawan jika media tanamnya tidak subur.

“Dengan adanya kantong, kita tak perlu repot-repot menyediakan serangga,” paparnya.

Selain serangga, sebagai pengganti pupuk, tanaman hias ini juga perlu mendapat pasokan air yang sesuai dengan takaran. Pasalnya, jatah penyiraman tidak boleh terlambat karena media tanam wajib selalu dalam keadaan basah.

“Jika penyiraman dilakukan tidak teratur, daun tanaman hias ini akan keriting dan mati,” ucap Karyadi.

Soal jatah penyiraman, dia mengatakan  hal itu tergantung pada lokasi tanaman hias itu diletakkan atau ditanam. Untuk tanaman nepenthes   yang ditanam secara di dalam ruangan (indoor) jatah penyiramannya adalah sebanyak 2 – 3 hari sekali. Sementara  bagi nephaenthes yang ditanam di luar ruangan, jatah penyiramannya adalah satu  kali sehari.

Syarat tumbuh lain adalah pasokan sinar matahari penuh. Tanaman ini setiap hari harus mendapat jatah sinar matahari selama 10 – 12 jam. Intensitas sinar matahari yang baik yaitu sebesar 50%. Kondisi seperti ini bisa dibuat dengan jalan memberikan naungan.

Nah, bila penggemar tanaman hias ingin membudidayakan tanaman hias ini, tips di atas layak dicoba. B Wibowo

One Response to “ Kantong Maut Nepenthes Mulai Menyebar ”

  1. pakde

    terdapat beberapa informasi yang salah mengenai artikel tsb. di atas terkait kantong semar al. punya alat penyergap, ketika sedang mengolah mangsa kantong ini juga menutup dll. dll.

    kami dari KTKI (Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia) siap memberikan informasi yang benar mengenai kantong semar ini, serta mengajak untuk mencintai kekayaan hayati yang sebagian besar tumbuh di indonesia ini dengan bergabung di : http://www.tanamanbuas.proboards.com

Leave a Reply