Menteri Kehutanan MS Kaban terlihat penuh konsentrasi memerhatikan instruksi yang diberikan Syam, seorang bocah yang bahkan masih belepotan dalam berhitung. Tiap kali tangan Syam memberi aba-aba, Menhut Kaban pun meresponnya dengan membunyikan alat musik yang dipegangnya.
Menhut Kaban yang tak bisa menyembunyikan perasaan sumringah-nya pun terlarut dalam permainan musik angklung bersama lebih dari 700 orang lainnya yang terdiri dari anak sekolah, penyuluh kehutanan, pejabat pemerintah pusat dan daerah serta ratusan sukarelawan lainnya. Satu per satu lagu mendayu merdu hasil harmonisasi alat musik angklung yang tiap alat punya bunyi nada yang berbeda. Mulai dari lagu sederhana seperti burung kakak tua, hingga lagu ‘I Have A Dream’ yang dipopulerkan oleh kelompok penyanyi Westlife.
Itulah prosesi Kampanye Indonesia Menanam “One Man One Tree” yang digelar Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan Dephut di Saung Angklung Udjo, Bandung, Kamis (11/6) pekan kemarin. Prosesi yang cukup berbeda dengan kegiatan penanaman yang memang sudah biasa dilakukan Menhut Kaban. Sebuah perbedaan yang menambah makna penting soal perlunya menanam pohon dan merehabilitasi lingkungan.
Usai kegiatan penanaman, yang juga disertai peresmian Sentra Penyuluhan Kehutanan itu, Menhut Kaban menyatakan bangsa Indonesia layak berbangga hati dengan Angklung. “Angklung membawa kebanggaan kepada kita sebagai bangsa Indonesia karena begitu diminati oleh negara lain,” katanya.
Menhut menceritakan, ketika dia berkunjung ke Osuka, Jepang, pekan sebelumnya, dia sempat bertemu dengan masyarakat Jepang yang termasuk kelompok penggemar musik angklung. Mereka, kata Kaban, begitu mencintai musik angklung yang dinyatakan sebagai musik yang menyanyikan harmoni alam karena terbuat dari bambu.
Atas dasar itu, Menhut pun mengingatkan pentingnya memelihara kebudayaan bernilai tinggi yang dimiliki Indonesia. Salah satu caranya dengan melestarikan tanaman bambu yang menjadi bahan baku pembuatan angklung.
Kaban mengatakan, menanam harus menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia. Sebab sejatinya, menanam juga bisa melestarikan budaya yang dimiliki Indonesia. “Seperti pada tanaman bambu. Kalau tanaman bambu bisa terus-terus dimanfaatkan secara berkelanjutan, itu artinya bahan baku untuk memproduksi berbagai alat kebudayaan kita bisa selalu tersedia,” katanya.
Alat musik Angklung memang tak bisa dipungkiri telah menjadi salah satu ikon kebudayaan bangsa Indonesia. Terbukti dengan besarnya minat bangsa lain terhadap alat musik ini. Direktur Utama Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat mengungkapkan, saat pertama dirintis oleh ayahnya yang seniman angklung, mang Udjo Ngalagena pada tahun 1966 pihaknya hanya mampu memproduksi satu buah angklung per harinya. “Kini kami mampu memproduksi 10.000 buah angklung setiap hari hari untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor,” katanya.
Untuk memproduksi angklung sebanyak itu, dibutuhkan sedikitnya 48.000 batang bambu setiap harinya. Kebutuhan tersebut, kata Taufik, hanya bisa didapat jika pohon bambu bisa dimanfaatkan secara lestari. “Apalagi, kami punya target pada 10 tahun mendatang untuk memproduksi angklung dari 9 juta batang bambu setiap harinya,” katanya.
Saung Angklung Udjo segera menyelenggarakan penanaman 6.000 bibit bambu di kawasan hutan Cimenyan bersama masyarakat sekitar, masyarakat seni dan masyarakat pendidikan di Bandung. Taufik menyatakan, penanaman bibit bambu tersebut diharapkan bisa menumbuh kembangkan cita-cita dan semangat bersama untuk membangun kesadaran pelestarian lingkungan melalui pendekatan seni dan budaya Indonesia. “Khususnya dengan menggunakan angklung sebagai alat komunikasi,” katanya.
Konservasi Air
Yang pasti, tanaman bambu bukan cuma mampu bisa melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia. Bambu juga bisa menyelamatkan Indonesia bahkan seluruh planet bumi dari ancaman bencana lingkungan.
Menurut Menhut Kaban, kawasan yang dipenuhi rimbunan pohon bambu bisa dipastikan tidak akan kekurangan air. Hal itu sebagai dampak positif dari sifat tanaman bambu yang menampung air.
Fakta tersebut penting seiring dengan peringatan hari Penanggulangan Penggurunan dan Kekeringan Sedunia yang jatuh 17 Juni, pekan ini. Peringatan yang tahun ini mengambil tema “Conserving Land Water = Securing Our Common Future” atau “Melindungi Tanah dan Air Berarti Menjaga Masa Depan Kita Bersama” itu mengingatkan Indonesia dan seluruh dunia tentang ancaman degradasi dan pengurunan dan pentingnya upaya mengkonservasi air.
Menurut Kaban, ketersediaan air adalah persoalan yang tidak hanya dihadapi oleh Indonesia, melainkan juga oleh seluruh warga dunia. Untuk itu dia berpesan agar upaya rehabilitasi lahan kritis perlu terus digiatkan untuk menjamin ketersedian air di masa yang akan datang. “Tanpa air, kita akan kesulitan untuk memproduksi beras yang menjadi makanan pokok Indonesia. Sebab, setiap satu kilogram gabah butuh 5 m3 air,” kata Kaban menggambarkan strategisnya fungsi air dalam kehidupan.
Dia juga menegaskan upaya rehabilitasi jauh lebih murah ketimbang kerugian yang dialami jika gagal merehabilitasi lahan kritis dan mengkonservasi air. Kaban mencontohkan, banjir yang terjadi di Jakarta selama 2 pekan akan berbuah kerugian sebesar Rp10 triliun akibat rusaknya berbagai instalasi listrik, jalan dan infrastruktur lainnya. Sementara, katanya, biaya untuk merehabilitasi lahan kritis di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwiung, dimana Jakarta ada di dalamnya, hanya butuh dana sebesar Rp500 miliar-Rp800 miliar.
Di tempat terpisah, Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Dephut, Indriastuti mengungkapkan, Dephut sudah merancang rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengelolaan DAS Terpadu. Jika disahkan, ketentuan tersebut menjadi panduan bagi berbagai instansi teknis dan para pihak terkait dalam pengelolaan dan pemanfaatan DAS yang berkelanjutan.
Ketentuan tersebut, katanya lagi, juga diharapkan bisa membuat upaya pencegahan degradasi lahan dan upaya konservasi air terlaksana secara terpadu untuk mengoptimalkan hasilnya. Sugiharto
Diresmikannya Sentra Penyuluhan Kehutanan yang ada di Saung Angklung Udjo menandai upaya penyuluhan yang lebih dinamis. Kini kegiatan penyuluhan tak melulu identik dengan desa, namun juga dekat dengan masyarakat perkotaan.
Menurut Kepala Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan Dephut, Eka Widodo Soegiri, pihaknya memang sengaja membuka sentra penyuluhan di pusat keramaian seperti Saung Angklung Udjo dengan harapan agar informasi tentang pentingnya hutan dan kegiatan kehutanan bisa menyebar lebih luas dan cepat. “Kalau sekarang di Saung Angklung Udjo, tak menutup kemungkinan ke depan di Kebun Binatang Ragunan, Taman Ismail Marzuki dan tempat-tempat lain yang bisa menyebarluaskan informasi kegiatan kehutanan,” katanya.
Sentra penyuluhan sebelumnya memang identik dengan pedesaan atau biasa disebut dengan Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan. Saat ini setidaknya sudah lebih dari 150 SPKP yang berdiri di berbagai desa.
Di Saung Angklung Udjo, pengunjung yang datang nantinya akan datang akan mendapat informasi tentang pentingnya kegiatan menanam, konservasi hutan dan kegiatan kehutanan lain yang disampaikan oleh petugas saung. Selain itu, setiap pengunjung juga akan dibekali dengan satu bibit pohon untuk ditanam di rumah. “Setiap tahun, di saung udjo ada 260.000 orang pengunjung. Kalau setengah saja menanam bibit tentu sangat bagus sekali. Ini sekaligus implementasi dari kegiatan penanaman One Man One Tree,” kata Eka.
Untuk kebutuhan bibit tersebut, Dephut sudah menyiapkan sebanyak 60.000 batang bibit dan didukung oleh Perhutani yang menyediakan 20.000 batang bibit. Sisanya akan diperoleh secara swadaya dari masyarakat sekitar.
Eka berharap, peresmian sentra penyuluhan di Saung Angklung Udjo bisa direspon oleh pemerintah provinsi lainnya. Sehingga ada sentra penyuluhan skala besar di tingkat provinsi yang bisa menjadi pusat penyebar luasan informasi kehutanan. Sugiharto