Tuesday, June 16th, 2009 14:33 by
agroindonesia
Print this page“Alle Wiesen and Matten, alle Berge und Hugel sind die grosze Apotheke der Welt, Allein die Erkentnis der Natur geheimnisse sol den Arts machen” ……Semua padang rumput, hutan dan semak belukar, semua gunung besar dan kecil merupakan rumah obat besar dunia, hanya kesadaran akan rahasia alamlah yang dapat mendidik dan membuat orang menjadi seorang dokter yang sejati! (Paracelsus, seorang dokter terkenal hidup pada zaman abad pertengahan di Eropa dalam bukunya “Thesen der Reformation”)
Hutan tropika Indonesia menghasilkan beranekaragam spesies tumbuhan obat yang sangat besar manfaatnya untuk memelihara kesehatan umat manusia. Setiap individu dari populasi tumbuhan obat yang tumbuh secara alami di masing-masing tipe ekosistem hutan merupakan suatu unit terkecil dari pabrik alami yang melakukan proses metabolis sekunder yang menghasilkan beranekaragam bahan bioaktif yang khas, yang sebagian besar tidak mudah dan tidak murah untuk ditiru oleh manusia.
Data dan informasi ethno-forest pharmacy (etno-wanafarma) dari berbagai etnis yang tinggal di berbagai kawasan hutan Indonesia belum menjadi dasar pembuatan kebijakan pemerintah dalam pembangunan hutan dan kesehatan mandiri anak bangsa.
Kekayaan hutan alam tropika Indonesia sebagai penghasil keanekaragaman spesies tumbuhan obat yang sangat berguna mengobati berbagai macam penyakit dan memelihara kesehatan bangsa, serta kebijakan strategis apa yang sepatutnya dilakukan untuk mendukung pelestarian hutan alam tropika Indonesia.
Sampai tahun 2007, Laboratorium Konservasi Tumbuhan Obat Fakultas Kehutanan IPB telah melakukan kajian ethno-forest pharmacy, mendata dari berbagai laporan penelitian dan literatur tidak kurang dari 2039 spesies tumbuhan obat yang berasal dari hutan tropika Indonesia. Keadaan ini menjadikan unggulan Indonesia sebagai salah satu gudang keanekaragaman hayati penting dunia untuk bahan farmasi atau obat bagi kesehatan manusia.
Keanekaragaman tumbuhan obat dan sekaligus indigenous knowledge yang terhimpun dalam berbagai etnis dan kawasan hutan tropika Indonesia merupakan aset nasional yang strategis bagi kesehatan dan kesejahteraan anak bangsa dan umat manusia di dunia. Setiap tipe ekosistem hutan tropika di Indonesia merupakan pabrik keanekaragaman hayati tumbuhan obat, terbentuk secara evolusi dengan waktu yang sangat panjang dan telah berinteraksi dengan sosio-budaya dan kearifan masyarakat lokalnya.
Hutan sebagai pendukung kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia yang bernilai tinggi, baru disadari saat ini setelah hutan tropika banyak mengalami kerusakan dan kepunahan. Hutan ke depan harus dilihat sebagai penghasil multi-produk yang berkelanjutan, baik kayu maupun non-kayu (termasuk tumbuhan obat) sepatutnya dikelola secara totalitas biodiversitas sumberdaya hutan yang menghasilkan multi-produk dengan pendekatan multi sistem silvikultur.
Potensi
Sudah turun temurun bangsa Indonesia yang terdiri dari masyarakat kecil-masyarakat kecil yang Bhineka Tunggal Ika yang terdiri dari lebih 550 etnis (suku asli) yang hidup di dalam dan sekitar hutan di seluruh wilayah Nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Berbagai penelitian ethno-forest pharmacy yang dilakukan oleh peneliti Indonesia telah diketahui, paling tidak ada 78 spesies tumbuhan obat yang digunakan oleh 34 etnis untuk mengobati penyakit malaria, 133 spesies tumbuhan obat untuk mengobati penyakit demam oleh 30 etnis, 110 spesies tumbuhan obat untuk mengobati penyakit gangguan pencernaan oleh 30 etnis dan 98 spesies tumbuhan obat digunakan untuk mengobati penyakit kulit oleh 27 etnis (Sangat, Zuhud dan Damayanti, 2000).
Secara umum dapat diketahui bahwa tidak kurang 82 % dari total spesies tumbuhan obat hidup di ekosistem hutan tropika dataran rendah pada ketinggian di bawah 1000 meter dari permukaan laut. Saat ini ekosistem hutan dataran rendah adalah kawasan hutan yang paling banyak rusak dan punah karena berbagai kegiatan eksploitasi kayu oleh manusia.
Potensi keanekaragaman spesies tumbuhan obat hutan tropika Indonesia untuk mengobati berbagai kelompok penyakit banyak ditemukan di berbagai kawasan hutan konservasi taman nasional di Indonesia.
Berdasarkan data, spesies-spesies tumbuhan obat yang ada dapat dikelompokkan untuk penggunaan pengobatan 25 kelompok macam penyakit. Jumlah spesies tumbuhan obat yang paling banyak berguna untuk pengobatan kelompok penyakit saluran pencernaan, yaitu terdiri dari 487 spesies. Salah satu spesies tumbuhan obat untuk penyakit pencernaan yang berpotensi dikembangkan di kawasan hutan adalah kedawung (Parkia timoriana (DC.) Merr.) seperti yang telah dikembangkan secara agroforest di zona rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri
Pengembangan
Melihat pentingnya spesies tumbuhan obat, maka diperlukan langkah-langkah kebijakan strategis pemerintah di bidang pembangunan ”forest and human health” melalui pengembangan potensi lokal ethno-forest-pharmacy pada setiap wilayah sosio-biologi satu-satuan masyarakat kecil Indonesia.
Program ini dibuat untuk mendukung kesehatan, sistem matapencaharian masyarakat (livelihood) dan sekaligus pelestarian kawasan hutan tropika Indonesia yang masih tersisa dan sekaligus dapat menghemat pengeluaran uang rakyat Indonesia untuk belanja obat-obatan impor yang bisa mencapai lebih dari Rp 20 triliun setiap tahun.
Perlu dibangun program pengembangan secara terpadu Ethno-Forest Pharmacy di masing-masing unit bioregional hutan yang bertujuan untuk pembangunan kesehatan alami mandiri dan sekaligus pengembangan matapencaharian baru masyarakat lokal dengan tumbuhan obat serta terwujudnya konservasi hutan. Program ini bisa dilakukan melalui kerjasama lintas sektor pada tingkat pusat sampai daerah, yaitu meliputi sektor-sektor di bidang kehutanan, pertanian, kesehatan, perdagangan, pendidikan, industri dan lain-lain.
Setiap ekosistem hutan alam di Indonesia, khususnya di setiap kawasan hutan taman nasional telah diketahui memiliki keanekaragaman spesies tumbuhan obat yang tinggi yang sebenarnya untuk dan dapat mengobati berbagai macam penyakit yang diderita masyarakat setempat.
Permasalahannya, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS) yang kita kembangkan selama ini tidak bersambung dan tidak berangkat dari pengetahuan dan kearifan masyarakat lokal. IPTEKS kesehatan yang kita kembangkan tidak berakar dari keunikan sistem kedirian anak bangsa kita yang bhineka. Sehingga membuat kemandirian kesehatan bangsa menjadi rapuh.
Pengetahuan masyarakat lokal atau masyarakat tradisional dari berbagai masyarakat Indonesia ini merupakan aset bangsa dalam pengembangan adaptif obat bahan alam Indonesia di masing-masing wilayah, sesuai dengan karakteristik sumberdaya tumbuhan obat dan masyarakat di masing-masing wilayah Indonesia. Inilah suatu contoh azas keunikan sistem kedirian dalam pemeliharaan dan pembangunan kesehatan anak bangsa.
Jadikan PUSKESMAS di seluruh Indonesia, terutama di pedesaan sekitar hutan sebagai pusat pelayanan kesehatan formal masyarakat yang terpadu dengan menggunakan obat herbal/tradisional yang berasal dari ramuan obat tradisional yang sudah diilmiahkan.
Semestinya kita menyempurnakan dan mengembangkan sistem pengobatan lokal dan tradisional yang didukung IPTEKS yang dikuasai kita yang sesuai jatidiri bangsa dan sumberdaya alam sendiri. Selama ini kesehatan rakyat Indonesia, sangat tinggi tergantung dengan produk obat impor dari negara lain.
Sumber bahan baku obat kita yang sangat kaya berasal dari tumbuhan, hewan dan mineral, baik dari darat maupun laut belum banyak kita manfaatkan, bahkan kita telah banyak memarjinalkan dan memusnahkannya sebelum sempat dimanfaatkan.
Ramuan jamu atau obat tradisional tumbuh berkembang bukan atas landasan sainstifik gaya ilmu farmasi barat, tetapi sepenuhnya atas dasar empiris yang teruji melalui trial and error secara turun temurun yang kita sebut dengan ethno-forest pharmacy (etno-wanafarma).
Para farmasis dan biologis bersama instansi pemerintah yang berwenang sepatutnya segera mengembangkan metodologi ilmiah yang sesuai dengan sistem pengetahuan obat tradisional yang tidak bisa disamakan pendekatannya dengan metodologi farmasi barat.
Standar metoda pengujian fitofarmaka yang berlaku cenderung terkungkung oleh metodologi farmasi barat, yang mahal, sulit, lama dan kompleks untuk direalisasikan, bahkan sarat dengan muatan politik. Sehingga obat tradisional atau jamu dapat digunakan sebagai obat untuk pelayanan kesehatan formal tidak kunjung terealisasikan. Kita harus sadari bahwa rakyat Indonesia telah membelanjakan uangnya untuk membeli obat berasal bahan impor tidak kurang dari Rp 20 triliun per tahun.
Biaya pendidikan di bidang kesehatan (dokter, kesehatan masyarakat dan keperawatan) yang sangat mahal sebagian besar saat ini dibebankan kepada masyarakat, seharusnya sepenuhnya ditanggung oleh anggaran belanja pemerintah.
Hal ini sangat mempengaruhi kualitas input SDM yang dididik dapat dipastikan hanya berasal dari kelompok keluarga masyarakat mampu dan keluarga masyarakat miskin finansial akan tersisihkan. Akhirnya tidak semua mahasiswa atau murid berkualitas, faktor kecocokan bakat bisa terabaikan atau terkalahkan.
Sepatutnya kedepan industri kedokteran harus dapat menyediakan pelayanan kesehatan yang demokratis, terutama adanya jaminan dari pemerintah kepada para dokter dalam penggunaan obat herbal kepada pasiennya.
Pendirian industri farmasi baru yang berbahan baku obat impor, seperti yang direncanakan Depkes pada rakernas 2009 yang dapat menyerap lapangan kerja, itu hanya bersifat semu, sangat temporer dan sangat rentan dengan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Pemerintah juga perlu mendorong dan memfasilitasi pembangunan industri farmasi bahan alam dalam negeri atau industri jamu yang moderen berbasis metodologi ilmiah yang spesifik untuk obat berbahan baku obat asli Indonesia, sehingga efeknya sangat luas bagi lapangan kerja dan perekonomian rakyat mandiri anak bangsa dari berbagai sektor. Sepatutnya pasar bebas diyakini oleh pejabat penyelenggara pemerintahan dan negara sebagai hal yang banyak bertentangan dengan hak azasi manusia dan banyak bertentangan dengan tujuan falsafah Pancasila.
Jika melihat dari peta potensi dan permasalahannya, maka kebijakan yang harus diambil pemerintah dalam pembangunan kesehatan anak bangsa haruslah berbasis penelitian, pengetahuan dan sumber daya alam hayati obat Indonesia.
Hutan alam tropika Indonesia dengan berbagai tipe ekosistem hutannya, informasi ethno-forest pharmacy adalah aset bangsa dan nasional yang sangat besar artinya bagi pembangunan kesehatan bangsa yang tidak dipunyai oleh hampir semua negara lain di dunia ini. Disinilah letak keunggulan Indonesia yang harus kita sadari, kembangkan dan syukuri, melalui upaya-upaya pelestarian pemanfaatan dengan menggunakan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang tepat guna, ramah lingkungan untuk sebesar-besar kesejahteraan dan kemakmuran seluruh satu-satuan masyarakat kecil yang kita kenal dengan rakyat Indonesia.
Unit ekosistem hutan alam tropika di setiap lokasi di Indonesia masing-masing menyediakan berbagai spesies tumbuhan obat yang cukup untuk memelihara kesehatan dan mengobati semua kelompok penyakit yang diderita oleh masyarakat.
Sumberdaya keanekaragaman hayati hutan (kayu dan non-kayu) serta budaya masyarakat di setiap lokasi hutan tak dapat dipisahkan satu sama lain sebagai satu kesatuan utuh kehidupan manusia sejak awal keberadaannya. Sehingga program yang bersifat lokal spesifik perlu diperbanyak dan diprioritaskan untuk masa kini dan ke depan dengan dukungan IPTEKS dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang bekerja secara berkesinambungan.
DR. Ir.H. Ervizal A.M. Zuhud, MS
Kepala Bagian Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan, Fak. Kehutanan IPB Anggota Tim Pembina POKJANASTOI (Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia)