Wednesday - July 29th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Deptan Optimis Tidak Impor Beras
Post Info Wednesday, July 29th, 2009 14:45 by agroindonesia Print Print this page

Indonesia kembali mencatatkan sejarah dalam produksi padi. Setelah 1984 mampu mencatat swasembada beras, sukses tersebut kembali diraih tahun lalu. Bahkan, tahun ini diperkirakan swasembada kembali dipertahankan.

Badan Pusat Statistika (BPS) telah merilis Angka Ramalan II yang memprediksi produksi padi sebanyak 62,56 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik 2,24 juta ton dibandingkan 2008 sebesar 60,33 juta ton GKG. Kenaikan produksi terutama karena penambahan luas panen dan produktivitas sejak awal tahun hingga Juni 2009.

Peningkatan produksi itu memang tidak lepas dari dampak perubahan iklim. Pemanasan global akibat perubahan iklim yang selama ini dikhawatirkan banyak pihak, ternyata memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Ketika memasuki musim kemarau, beberapa wilayah Indonesia, termasuk sentra produksi beras, justru masih menikmati hujan. Artinya, musim kemarau tahun ini lebih basah dibandingkan tahun lalu.

Namun, akankah keberhasilan peningkatan produksi padi dalam dua tahun terakhir bisa dipertahankan tahun 2010? Bisa ya, bisa tidak. Maklum, tahun depan akan ada tantangan besar yang dimulai sejak musim tanam utama tahun ini (Otober 2009-Maret 2010). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, Indonesia akan menghadapi fenomena El Nino, yakni musim kemarau panjang menjelang akhir tahun 2009.

Adanya fenomena iklim ini akan mengakibatkan awal musim hujan 2009/2010 di sebagian besar wilayah Indonesia akan mundur. Imbasnya, musim tanam padi juga diperkirakan akan molor dari kebiasaan tahunan yang mulai pada Oktober-Desember. “Diperkirakan musim tanam padi akan mundur dua bulan, karena musim hujan baru turun pada Nopember-Desember,” kata Menteri Pertanian, Anton Apriyantono di Jakarta, Jumat (24/7).

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir megakui, jika musim kemarau tahun ini akan terjadi El Nino, maka musim tanam padi yang harusnya mulai Oktober-Desember akan terpengaruh, bahkan bisa mundur menjadi Desember-Januari. “Jika masa tanam padi mundur dan tidak ada antisipasi dari pemerintah, maka bisa mengancam produksi pada tahun 2010,” katanya.

Karena itu, dia minta pemerintah segera mengantisipasi fenomena iklim ini. Sebab, jangan sampai keberhasilan mencapai swasembada beras tahun 2008 dan kemungkinan akan terjadi lagi pada 2009, justru gagal dicapai pada 2010.

Berdasarkan prakiraan BMKG, sebenarnya kondisi iklim sudah mengarah terjadinya El Nino sejak awal Mei 2009. Pada Mei, musim kemarau (MK) telah terjadi di wilayah Bali, NTB, NTT dan sebagian besar Sumatera dan Jawa.

Memasuki Juni, MK terjadi disebagian kecil Sumatera dan Jawa, sebagian besar di Kalimantan, Sulawesi, serta Maluku dan Papua. Seluruh wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim kemarau pada Agustus mendatang dan intensitas akan terus meningkat hingga awal 2010.

Antisipasi

Anton mengakui, El Nino akan menjadi tantangan tersendiri bagi peningkatan produksi padi nasional. Salah satu antisipasi El Nino, Departemen Pertanian akan mengoptimalkan lahan rawa, lebak dan pasang surut untuk membantu mempertahankan produksi padi.

Dengan optimalisasi lahan-lahan tersebut pemerintah berharap produksi padi nasional yang dalam dua tahun terakhir naik hingga 5% bisa tetap terjaga.“Ketika terjadi musim kemarau, lahan rawa, lebak dan pasang surut yang selama ini digenangi air justru kering, sehingga bisa dimanfaatkan untuk budidaya padi,” katanya.

Data Departemen Pertanian, secara nasional luas lahan rawa, lebak dan pasang surut yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya padi ketika musim kemarau panjang mencapai 915.469 hektare (ha). Luas lahan rawa lebak itu tersebar di Sumatera Selatan ada sekitar 239.681 ha, Lampung seluas 55.326 ha, Kalimantan Selatan 135.963 ha dan Kalimantan Barat sekitar 484.499 ha.

Selain mengoptimalkan lahan rawa, lebak dan pasang surut, Departemen Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian sudah mempunyai kalender tanam. Kalender tanam tersebut disusun berdasarkan pola tanam termasuk skenario mengantisipasi kekeringan. Misalnya, pola tanam saat terjadi kekeringan (El Nino), pada musim basah (La Nina) dan dalam kondisi normal.

Publikasinya akan dibuat dalam tiga edisi, yaitu untuk Jawa dan Madura, Sumatera dan Kalimantan, serta wilayah Indonesia timur, yaitu NTB, Sulawesi, dan daerah lain. Kalender tanam itu menginformaskan pertanaman padi hingga di tingkat kecamatan. “Sekarang ini tinggal kita menginformasikan kepada petani agar mematuhi kalender tanam tersebut,” ujar Mentan.

Pemerintah, lanjutnya, juga sudah menyiapkan benih/varietas padi yang tahan terhadap kekeringan, baik tingkatnya agak rawan, rawan hingga sangat rawan. Selain itu, melalui program Lumbung Desa Pangan Mandiri (LDPM), pemerintah sudah menginformasikan kepada Pemerintah Daerah agar memperkuat cadangan pangan daerah. “Nantinya penguatan cadangan pangan tidak hanya dilakukan Bulog saja, tapi juga lembaga pangan di daerah,” katanya.

Dengan berbagai langkah yang telah disiapkan, pemerintah optimis produksi padi masih bisa dipertahankan. Pengalaman pada 2006, dengan langkah yang diambil pemerintah terbukti produksi padi bisa meningkat dibandingkan 2005.

Berasarkan data Deptan, produksi padi tahun 2006 mencapai 54,4 juta ton GKG, sedangkan pada 2005 sebesar 54,06 juta ton GKG. Artinya, ketika terjadi El Nino, produksi padi masih bisa naik hingga 4%. “Kalau kekeringan menyebabkan tanaman padi puso memang iya, tapi dengan alternatif yang kita gunakan, terbukti produksi padi masih bisa meningkat,” ujar Anton

Hitung-hitungan pemerintah, meski terjadi El Nino, produksi padi masih cukup aman untuk menutupi kebutuhan masyarakat Indonesia. Jika tahun ini target produksi padi mencapai target sebanyak 63,5 juta ton GKG atau sekitar 40-41 juta ton beras, maka akan ada kelebihan sebanyak 2,8 juta ton setara beras.

Kelebihan itu kata Mentan, akan menjadi carry over di tahun 2010 yang bisa digunakan untuk konsumsi masyarakat pada masa paceklik. Padahal, kebutuhan beras ketika tidak ada panen yakni Januari-Februari diperkirakan hanya 1,6 juta ton. “Insya Allah tidak akan menganggu kebutuhan pangan kita, sehingga tahun depan pun kita tidak perlu impor,” ujarnya. Julian.



El Nino 2009 Mirip 2006

Ancaman El Nino yang akan berlangsung menjelang musim hujan tahun ini harus diwaspadai. Sebab, fenomena El Nino menyebabkan musim kemarau akan lebih panjang, akibatnya musim tanam padi yang akan berlangsung Oktober-Desember akan molor.

Namun Direktur Perlindungan Tanaman Ditjen Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, Ati Wasiati Hamid mengatakan, meski El Nino bakal terjadi tahun ini, tapi kondisinya diperkirakan mirip dengan fenomena iklim pada 2006 yakni El Nino lemah. “Berdasarkan pengamatan BMKG terhadap kondisi lokal dan khatulistiwa, kondisi iklim tahun ini lebih mirip dengan kejadian tahun 2006,” katanya.

Jadi, kata Ati, musim kemarau tahun ini tidak seperti 2003. Saat itu terjadi El Nino kuat yang menyebabkan musim kemarau berlangsung sangat lama, sehingga banyak tanaman padi yang kekeringan. “Karena itu El Nino yang bakal terjadi tahun ini tidak perlu terlalu dikuatirkan,” ujarnya.

Jika mengambil contoh tahun 2006, maka kekeringan yang melanda lahan sawah padi akan mencapai 338.261 ha dengan lahan yang rusak (puso) seluas 73.045 ha. Saat itu produksi mencapai 54,45 juta ton GKG dengan luas panen sekitar 11,78 juta ha. “Dari pengalaman 2006, ternyata produksi padi masih relatif aman. Produksi padi justru naik dibandingkan 2005 yang mencapai 54,05 juta ton,” tutur Ati.

Ati mengungkapkan, relatif amannya produksi padi karena El Nino hanya menggeser masa tanam saja. Puncak musim tanam yang biasanya terjadi pada Desember kemungkinan akan bergeser pada Januari-Februari. “Artinya luas tanam tidak berkurang, hanya waktu tanamnya saja mundur,” ujarnya.

Berbeda dengan El Nino pada 2003. Saat itu kekeringan yang menimpa lahan sawah padi mencapai 504.024 ha, dengan lahan sawah padi yang puso seluas 114.038 ha. Bahkan, berdasarkan data BPS, luas panen turun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2002 luas panen mencapai 11,52 juta ha, tapi pada 2003 luas panen padi turun menjadi 11,48 juta ha.

Namun demikian, Ati mengakui dampak kekeringan akan meningkatkan lahan sawah padi yang puso, sehingga bisa mempengaruhi produksi pangan baik lokal maupun nasional. Karena itu, untuk mengantisipasi kemarau panjang yang akan mengganggu masa tanam padi, Departemen Pertanian menyebarkan informasi iklim melalui Pemerintah Daerah.

Bersama Pemda, pemerintah juga sudah menginventarisasi daerah yang rawan kekeringan, baik yang sangat rawan maupun hanya rawan. Saat ini setidaknya ada 30 kabupaten yang mesti diwaspadai terkena kekeringan, seperti Indramayu dan Cirebon.

Pemerintah, lanjut Ati, juga sudah mengeluarkan rekomendasi pola tanam di daerah yang rawan kekeringan. Pada daerah yang rawan kekeringan itu, Pemda melalui dinas terkait agar mengatur pola tanam padi. “Kalau perlu mempercepat masa tanam dengan memanfaatkan ketersediaan air yang masih ada,” katanya.

Deptan juga sudah mengimbau kepada Pemda atau Dinas Pertanian agar menginformasikan ke petani agar menanam padi yang berumur pendek dan tahan terhadap kekeringan. “Bahkan di daerah sangat rawan, rawan dan agak rawan kita sudah merekomendasikan agar menanam palawija ketika memasuki musim kemarau,” tegasnya.

Ati mengakui, di satu sisi akibat El Nino membuat banyak lahan padi, khususnya di sentra produksi padi seperti Jawa dan Sulawesi terkena kekeringan. Tapi di sisi lain justru lahan rawa lebak yang banyak terdapat di Sumatera dan Kalimantan bisa dimanfaatkan untuk pertanaman padi.

Jika separuh saja luas lahan rawa lebak itu bisa ditanami padi, maka bisa menutupi penurunan produksi padi dari lahan sawah yang puso (rusak) karena kekeringan. “Melalui upaya itu, berharap dampak fenomena iklim El Nino tidak mempengaruhi target sasaran produksi padi,” tegasnya. Julian

Leave a Reply