Wednesday - July 29th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Konservasi Bisa Mengancam Ekonomi
Post Info Wednesday, July 29th, 2009 15:04 by agroindonesia Print Print this page

Indonesia memang diberi anugerah kekayaan alam yang besar. Bayangkan, negeri ini termasuk salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Dengan luas daratan hanya 1,3% dari luas permukaan bumi, Indonesia punya sekitar 90 jenis ekosistem khas.

Prof. Dr. Ani Mardiastuti, MSc

Prof. Dr. Ani Mardiastuti, MSc

Mulai dari padang salju abadi tropis di Puncak Jayawijaya, Alpin, Submontana, Montana, hingga pantai muara (estuarin) dan pesisir (marine), mangrove, padang lamun, terumbu karang. Belum lagi, perairan laut dalam: epilagik, mesopelagik, batipelagik dan abisa pelagik.

Keseluruhan ekosistem tersebut merupakan habitat tumbuhan alam dan satwa liar yang meliputi lebih kurang 27.500 spesies tumbuhan berbunga (10% tumbuhan berbunga di dunia), 515 spesies mamalia (12%), 781 spesies reptilia dan amphibia (16%). Kemudian 1.539 spesies burung (17%), serta lebih dari 25% spesies ikan air laut dan air tawar di dunia.

Dari sisi posisi internasional, potensi dan jenis endemisitas keanekaragaman hayati Indonesia ada di peringkat pertama jenis mamalia (515 spesies, 39% endemik), peringkat keempat jenis reptilia (512 spesies, 29% endemik). Peringkat keenam jenis amphibi (269 jenis 37%, endemik), peringkat kelima jenis burung (1.598 spesies, 26% endemik, termasuk di antaranya burung paruh bengkok 51% endemik).

Sayangnya, era 1980 an di Indonesia, wildlife ecologist masih langka. Bahkan hingga saat ini pun boleh dibilang hanya segelintir saja. Beranjak dari kondisi ini, Prof. Dr. Ir  Ani Mardiastuti, MSc bertekad menjadi pakar satwa liar. Setelah tamat dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1982, dua tahun kemudian, penggemar olah raga renang ini melanjutkan studinya ke Michigan State University, USA. Pada 1987, Master of Science, Wildlife Biology and Ecology berhak disandangnya. Kemudian masih di universitas yang sama, perempuan yang menguasai beberapa tarian Jawa ini meraih gelar Ph.D Wildlife Biology and Ecology pada 1992.

“Kita perlu orang yang khusus belajar tentang satwa liar. Tapi tidak hanya belajar kemu-dian mendapat nilai baik saja namun melekat dalam perilaku sehari-hari,” ujar Ani yang lahir di Magelang, 25 September 1959 ini.

Ketika kebanyakan sejawatnya menomorduakan keluarga, lain dengan Ani. Cintanya pada satwa liar mampu menerapkan suatu kompromi untuk kehidupan pribadinya. Jika S1-nya menekuni primata, namun S2 dan S3-nya justru fokus pada burung. “Saya harus bertanggung jawab pada keluarga. Jika saya memilih primata tentu harus masuk keluar hutan dan makan waktu lama. Saya pun memutuskan untuk menekuni burung karena di mana pun kita berada pasti ada burung. Di kota, desa dan hutan,” kata ibu empat anak, nenek satu cucu ini.

Apalagi, menurut Ani, topik burung sangat luas dan menarik. Tema-temanya pun selalu dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Mulai dari dugaan burung-burung migran yang membawa virus flu burung hingga rumor yang menyatakan sarang burung walet tercemar pestisida.

Untuk mengetahui lebih jauh pemikiran Guru Besar IPB yang juga aktif di Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) sebagai Ketua Dewan ini, Agro Indonesia mewawancarainya di kantornya di IPB. Berikut petikannya.

Sejauh ini di Indonesia profesi Wildlife Ecologist boleh dibilang nyeleneh. Apa yang membuat Anda tertarik untuk menekuni satwa liar?

Sejak kecil dulu memang saya tertarik pada satwa liar. Apalagi bidang ini sangat menantang, menarik dan sulit, bagaimana kita menyeimbangkan antara kepentingan satwa liar dengan manusia. Sederhana kedengarannya. Tapi ketika kita dihadapkan pada persoalan manusia yang memanfaatkan satwa liar yang langka, penegakan hukum antara satu daerah dengan daerah yang lainnya akan berbeda. Mengatasinya tak bisa dipukul rata dengan satu cara.

Tapi apa pun yang terjadi, bukan kah manusia yang kerap dimenangkan ketimbang satwa liar?

Ya. Contohnya, konflik yang baru-baru ini terjadi antara harimau dengan manusia di Jambi. Begitu juga antara gajah dengan manusia di Riau. Solusinya, satwa liar itu yang malah ditangkap. Idealnya, memang ada win-win solution. Manusia hidup. Satwa liar hidup di habitatnya. Tapi memang dalam banyak kasus yang banyak didahulukan lagi-lagi manusia. Malah ada bupati yang tidak ingin harimau atau gajah di daerahnya.

Ini yang perlu kita yakinkan pada banyak pihak bahwa kita perlu satwa liar. Jangan sampai menyesal belakangan dengan kepunahan mereka.

Sejauh mana korelasi konservasi dengan ekonomi?

Kita perlu pahami bahwa dari urusan satwa liar bisa melebar ke ekonomi. Contohnya, black campaign oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM), baik lokal maupun internasional, yang menuding minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) produk Indonesia tidak ramah lingkungan. Karena mengorbankan kepentingan orangutan. Contoh lainnya, seruan boikot event-event di Indonesia karena masih ada daerah yang memanfaatkan penyu.

Jadi, jangan pernah meremehkan bidang satwa liar. Teman-teman di luar bidang ini perlu waspada. Bisnisnya bisa terganggu atau tercoreng karena ulah LSM. Sebaliknya, bisnis yang ramah terhadap satwa liar malah bisa diusung untuk mengangkat citra perusahaan dan mendongkrak nilai jualannya.

Selama satu dekade ini apakah ada perkembangan yang menarik dari aktivitas konservasi di tanah air yang dilakukan oleh LSM?

Yang menggembirakan, setidaknya ada 5 LSM besar internasional yang berkiprah di Indonesia dan kini bos-bosnya itu orang Indonesia tulen. Dulu, bosnya WWF (World Wide Fund for Nature), TNC (The Nature Conservancy), WCS (Wildlife Conservation Society), FFI (Fauna & Flora International) dan CI (Conservation International Indonesia) semuanya orang asing.

Jadi, ini merupakan perkembangan yang baik karena urusan konservasi dalam negeri ditangani orang sendiri. Image ini penting. Karena ketika bicara konservasi Indonesia di luar negeri, kita akan bangga karena diwakili oleh orang Indonesia. Lain halnya, jika orang asing yang berbicara di forum internasional tentang konservasi di Indonesia. Orang-orang bisa mencibir: apakah betul dia membela kepentingan konservasi nasional.

Meski pun program-programnya masih mengadopsi program asing tapi masih tetap bagus lah karena jika diwakili oleh orang Indonesia setidaknya membawa kepentingan nasional.

Mengingat deforestasi dan degradasi di Indonesia, bagaimana Anda melihat kehidupan satwa liar kita 10 tahun mendatang?

Semakin lama, ancaman terhadap satwa liar memang semakin mengkhawatirkan. Khususnya di Sumatera yang mendapat tekanan paling berat dibandingkan dengan pulau lainnya. Padahal Sumatera memiliki 5 mamalia besar, langka dan terancam punah serta masuk dalam daftar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Mereka adalah harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), tapir (Tapirus indicus) dan beruang madu (Helarctos malayanus).

Apa saran Anda untuk menyelamatkan dan melestarikan satwa liar, khususnya 5 mamalia besar tersebut?

Memang saking banyaknya masalah, kita tak mudah menentukan penyebabnya. Tapi cobalah untuk memahami pihak lain dan berpikir bagaimana jika kita ada di posisi dia. Mungkin kita bisa lebih bijak menentukan sikap. Tolonglah berpikir jangka panjang dan bukan hanya jangka pendek. Karena keseimbangan ekosistem akan berdampak pada manusia.

Sebenarnya, sudah banyak pihak yang memahami hal ini. Tapi sayangnya, masih tetap berpikir, “ah, ada taman nasional”. Padahal, gajah di Sumatera justru populasinya lebih banyak di luar taman. Berarti kita harus bekerja sama dengan orang-orang awam yang kebanyakan lebih mengutamakan ekonomi. Fenny YL Budiman

Leave a Reply