Wednesday - July 29th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
MT Okmar Rawan Kekeringan
Post Info Wednesday, July 29th, 2009 14:47 by agroindonesia Print Print this page

Ancaman musim kering (kemarau) yang diperkirakan terjadi di penghujung tahun ini memang tidak akan berpengaruh terhadap pertanaman padi  pada musim tanam April-September (Asep) 2009. Namun, yang dikhawatirkan adalah musim tanam Oktober-Maret (Okmar) mendatang.

“Sekarang ini masih ada hujan, petani masih bisa menanam padi. Namun pada musim tanam mendatang, perlu diantisipasi dari sekarang karena ada kemungkinan pergeseran musim tanam,” kata Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian, Balitbang Deptan, Irsal Las kepada Agro Indonesia.

Menurut dia, saat ini suhu di Laut Pasifik masih panas, sehingga sangat memungkinkan terjadi hujan pada musim kemarau. Namun, pada akhir tahun ini, suhu di Laut Pasifik akan menjadi dingin, sehingga kemungkinan turun hujan sangkat kecil. “Artinya, akan terjadi perubahan iklim,” katanya.

Dia menyebutkan, hujan yang masih turun saat ini mendorong petani untuk melakukan tanaman sehingga tidak mempengaruhi pertanaman padi. Itu sebabnya, diharapkan menjelang panen masih turun hujan.

Berdasarkan peta yang dibuat Litbang Deptan, permulaan kemarau diawali pada bulan Maret minggu ke-3 hingga bulan Juni minggu pertama. Secara umum, permulaan musim kering (MK) di Jawa Timur dan yang paling lambat di Jawa Barat. Pada minggu ke-3 bulan Maret, permulaan MK sebagian besar muncul di Pantai Utara Jawa Timur dan juga sebagian kecil mulai terlihat di Pantai Utara Jawa Barat.

Meskipun demikian, lanjut Irsal, petani masih tetap bisa melakukan pertanaman padi. Namun, setelah MT Asep selesai, maka pada MT Okmar akan terjadi pergeseran. “Pergeseran iklim akan mempengaruhi jadwal pertanaman. Mulai sekarang ini petani sudah perlu diingatkan dan pada MT Okmar mungkin kalender tanamnya berubah,” ungkapnya.

Menurut dia, jika pada MT Okmar mestinya petani menanam padi, namun dengan perkiraan musim tidak normal, petani harus diarahkan menanam palawija atau jenis tanaman yang tidak banyak membutuhkan air. “Hal ini perlu diterapkan untuk menghindari agar tanaman tidak mengalami kekeringan,” katanya.

Irsal secara khusus juga mengkhawatirkan jika terjadi semacam “hujan jebakan”. Maksudnya, jika menjelang musim tanam Okmar hujan masih turun, petani bisa terpancing untuk menanam padi. Jika hal ini terjadi, maka tanaman padi itu akan mengalami kekeringan dan bahkan terancam puso.

“Itu sebabnya, dari sekarang petani harus diberikan informasi terhadap perubahan iklim. Penyuluh lapangan berperan aktif dalam menyampaikan informasi,” katanya.

Tanam palawija

Hal yang sama juga dikemukakan Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat, Oo Sutisna. Menurut dia, sampai saat ini pertanaman padi di wilayah Jawa Barat (Jabar) masih cukup baik. Hujan masih terus turun. “Di beberapa kabupaten di Jabar, hujan masih turun. Pertanaman padi sampai sekarang belum ada yang kekeringan,” ungkapnya.

Bahkan, lanjut Oo Sutisna, dalam satu-dua bulan ini tanaman padi di wilayah Jabar seperti di Majalengka, Sumedang, Karawang, Cianjur akan melakukan panen. “Tanaman padi pada bagus-bagus dan sebulan atau dua bulan lagi di Jabar banyak areal padi yang memasuki masa panen,” ungkapnya.

Namun, untuk musim mendatang Oo Sutisna belum bisa memprediksikan apakah terjadi kemarau atau tidak. “Kalau terjadi kemarau, kita sudah menyusun jadwal tanam petani dalam RDKK (Rencana Definitif Kelompok Kerja),” katanya.

Menurut dia, adanya jadwal tanam dalam RDKK karena penyaluran pupuk disesuaikan dengan waktu tanam padi petani. “Dengan adanya RDKK, maka kebutuhan pupuk akan disiapkan,” katanya.

Namun, lanjutnya, pihaknya belum bisa memprediksi perubahan iklim yang mengancam tanaman padi Okmar mendatang. “Kalau ternyata terjadi kemarau panjang, maka kita akan arahkan petani untuk tanam palawija,” ungkapnya.

Sebagai organisasi petani, KTNA sudah memberikan informasi mengenai perubahan iklim dan kemungkinan terjadi kemarau. “Kami, pengurus, sudah memberikan informasi tentang kemungkinan terjadi kemarau panjang dan petani disarankan untuk merubah pola tanam,” katanya.

Menurut dia, jika MT luas areal panen cukup memadai, maka jika terjadi kemarau panjang, pengaruh terhadap produksi tidak terlalu besar. Berdasarkan data yang dikuasai Oo Sutisna, luar areal tanam MK sekitar 30% dari toal areal tanaman padi sekitar 11,5 juta ha. Sedangkan sisanya 70% biasanya akan tanam pada MH (musim hujan) atau Okmar.

“Mumpung sekarang di Jawa Barat masih turun hujan, maka areal yang memungkinan untuk tanam padi akan dilakukan pertanaman padi. Namun, pada MH mendatang, petani bisa melakukan tanaman palawija,” tegasnya.

Untuk Jawa Barat, daerah yang rawan kekeringan sudah diinformasikan agar tidak melakukan tanam padi.”Kami hanya mampu menyampaikan informasi, keputusan tetap ada di petani,” ungkapnya.

Dia juga berharap untuk antispasi musim kering, pemerintah hendaknya memberikan bantuan benih dan sarana produksi lainnya. Hal ini perlu mendapat perhatian untuk meringankan beban petani jika arealnya terkena musibah kekeringan. Jamalzen


Bulog Dongkrak Pengadaan

Perum Bulog akan meningkatkan target pengadaan beras dalam negeri dari 3,8 juta ton menjadi 4 juta ton. Langkah ini guna mengantisipasi dampak El Nino yang menyebabkan musim kemarau berkepanjangan, sehingga mempengaruhi produksi padi tahun depan.

“Kita akan tambah pengadaaan beras sebanyak 200.000 ton dari target 3,8 juta ton, sehingga target kita tahun ini menjadi 4 juta ton. Penambahan ini dilakukan untuk cadangan mengantisipasi El Nino,” kata Direktur Utama Perum Bulog, Mustafa Abubakar.

Seperti diketahui, tahun ini perusahaan plat merah pangan ini menetapkan prognosa pengadaan sebanyak 3,8 juta ton setara beras. Jumlah itu jauh meningkat ketimbang tahun 2008 yang hanya 3,2 juta ton. Berdasarkan data Perum Bulog, hingga 24 Juli 2009 pengadaan Bulog sudah 2,99 juta ton setara beras dan kontrak sebanyak 3,05 juta ton.

Dengan meningkatkan pengadaan beras menjadi 4 juta ton, Mustafa berharap stok beras pada akhir 2009 akan mencapai 1,5 juta ton.  Stok inilah yang dapat digunakan mengamankan pasokan beras tahun 2010, mengingat akan ada potensi mundurnya masa panen akibat El Nino.

Kalkulasinya dengan jumlah stok tersebut bisa mencukupi kebutuhan beras untuk masyarakat miskin (raskin) selama 5 bulan atau hingga Mei. “Stok beras di Gudang Bulog biasanya tidak boleh kurang dari 3 bulan. Karena untuk mengantisipasi El Nino, stok beras di gudang tidak boleh kurang dari 4-5 bulan,” ujarnya.

Mustafa mengatakan, tambahan pengadaan beras tersebut berasal dari sawah-sawah di daerah yang hingga kini belum memasuki masa panen gadu, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. “Kita optimis target pengadaan tersebut masih bisa dicapai,” ujarnya.

Sementara itu, dari hasil pantauan Agro Indonesia di sentra padi Jawa Barat masih banyak tanaman padi yang belum panen. Contohnya di Kabupaten Indramayu. Data Dinas Pertanian Indramayu menyebutkan, realisasi tanam selama musim tanam 2008/2009 (Oktober-Maret) mencapai 122.443 ha atau di atas sasaran seluas 117.873 ha. Selain realisasi tanam yang meningkat, produktivitas juga naik menjadi 7 ton/ha. Begitu juga pada musim tanam selama musim kemarau (gadu) realisasi tanam mencapai 101.188 ha lebih tinggi dari sasaran tanam seluas 100.103 ha.

Sementara itu Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat memperkirakan, Agustus mendatang akan terjadi puncak panen musim gadu (pertanaman padi musim kemarau). Berdasarkan Angka Ramalan II BPS, produksi padi Jawa Barat tahun 2009 sebanyak 10,62 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik 5,04% dari tahun lalu.

Dengan masih banyaknya panen, Divre Bulog Jabar menaikkan target pengadaan dari 500.000 ton menjadi 600.000 ton setara beras. Menurut Kepala Divre Bulog Jawa Barat, Agusdien Faridh, hingga minggu pertama Juli, volume pengadaan sudah sebanyak 493.000 ton. “Kita optimis sisa kekurangan pengadaan bisa kita penuhi. Dengan produksi padi bagus kita akan all out,” tegasnya.

Selain meningkatkan target pengadaan tahun ini, Bulog juga akan menambah cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 500.000 ton, sehingga totalnya menjadi 1 juta ton. Untuk itu, Mustafa mengakui pihaknya telah mengirim surat ke Menteri Koordinator Perekonomian Selasa (21/7) lalu. Sebab, penambahan CBP ini harus menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2009. “Kalau menunggu APBN 2010 sudah terlambat, karena baru bisa dipakai pertengahan tahun,” kata Mustafa.

Dengan adanya tambahan CBP tersebut, kata Mustafa, Bulog bisa mengantisipasi lonjakan harga beras dengan melakukan operasi pasar dari stok CBP itu. Diperkirakan untuk operasi pasar pada musim paceklik akhir tahun sekitar 200.000 ton dan selama 2010 sebanyak 450.000 ton. Saat ini stok beras yang dikelola Bulog sudah mencapai 2,6 juta ton. Artinya cukup hingga 8,9 bulan penyaluran raskin. Julian

Leave a Reply