Pemerintah mengaku telah menyiapkan langkah antisipasi fenomena alam El Nino yang terus menguat untuk mengamankan produksi beras dalam negeri. Selain itu, Bulog juga menambah target pengadaan dalam negeri tahun ini dari 3,8 juta ton setara beras menjadi 4 juta ton.
Setelah menikmati swasembada beras tahun 2008 dan diperkirakan masih mampu dipertahankan tahun ini, perkiraan produksi padi tahun 2010 mulai digoyang cuaca tak bersahabat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah mengeluarkan peringatan. Fenomena alam El Nino makin menguat intensitasnya dan akan berlangsung hingga awal 2010.
Menguatnya intensitas El Nino berarti musim kering alias kemarau akan menerpa lebih panjang. Kemarau panjang sampai awal 2010 jelas tantangan besar bagi ketahanan pangan nasional. Maklum, musim kering justru terjadi di musim tanam utama pada bulan-bulan basah, yakni Oktober 2009 sampai Maret 2010 (Okmar). Padahal, di musim tanam inilah 60% produksi beras nasional dihasilkan.
Namun, Departemen Pertanian mengaku sudah siap. Apalagi, dari bacaan yang dilakukan BMKG, intensitas El Nino tahun ini diperkirakan tidak seperti tahun 2003, yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan. “Berdasarkan pengamatan BMKG terhadap kondisi lokal dan khatulistiwa, kondisi iklim tahun ini lebih mirip dengan kejadian tahun 2006, yakni El Nino lemah. Karena itu El Nino yang bakal terjadi tahun ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan,” ujar Direktur Perlindungan Tanaman Ditjen Tanaman Pangan, Departemen Pertanian Ati Wasiati Hamid.
Menteri Pertanian Anton Apriyantono juga mengaku sudah melakukan antisipasi. Melalui Badan Litbang, Deptan akan menggunakan kalender tanam pola kekeringan yang akan disebarluaskan sampai ke tingkat kecamatan. “Sekarang ini tinggal kita menginformasikan kepada petani agar mematuhi kalender tanam tersebut,” ujar Mentan.
Selain itu, Deptan akan mengoptimalkan lahan rawa, lebak dan pasang surut untuk membantu mengamankan produksi padi. Data yang ada, luas lahan rawa, lebak dan pasang surut yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya padi saat kemarau panjang mencapai 915.469 hektare (ha). Luas lahan itu tersebar di Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.
Pemerintah juga telah menyiapkan benih/varietas padi tahan kekeringan untuk daerah berstatus agak rawan, rawan hingga sangat rawan. Berdasarkan data hasil kerjasama Deptan dengan seluruh Pemda, setidaknya ada 30 kabupaten produsen beras yang harus diwaspadai terkena kekeringan.
Antisipasi juga tak hanya di hulu, tapi sampai ke hilir. Terbukti, Perum Bulog merevisi target pengadaan beras dalam negeri tahun ini dari 3,8 juta ton setara beras menjadi 4 juta ton.
“Kita akan tambah pengadaaan beras sebanyak 200.000 ton dari target 3,8 juta ton, sehingga target tahun ini menjadi 4 juta ton. Penambahan ini dilakukan untuk cadangan mengantisipasi El Nino,” kata Direktur Utama Perum Bulog, Mustafa Abubakar.
Selain mengangkat target pengadaan, Bulog juga akan menambah cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 500.000 ton, sehingga totalnya menjadi 1 juta ton. Untuk itu Mustafa mengakui, pihaknya telah mengirim surat ke Menteri Koordinator Perekonomian, Selasa (21/7) lalu. Sebab, penambahan CBP ini harus menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2009. “Kalau menunggu APBN 2010 sudah terlambat, karena baru bisa dipakai pertengahan tahun,” kata Mustafa.
Langkah Bulog patut dihargai. Mundurnya musim tanam berarti memperpanjang musim paceklik dan ini rawan spekulasi. Apalagi, pemerintah selalu menetapkan harga pembelian gabah/beras di akhir tahun. Dengan antisipasi ini, semoga angka ramalan BPS bahwa produksi naik 2,24 juta ton menjadi 62,56 juta ton gabah kering giling (GKG) dibandingkan 2008 masih bisa terealisasi. AI