Wednesday - August 5th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Pangan Organik Tidak Lebih Sehat
Post Info Wednesday, August 5th, 2009 12:54 by agroindonesia Print Print this page

Pangan organik lebih mahal karena mengandung nutrisi yang lebih baik serta bebas pestisida. Itulah citra yang terbentuk selama ini. Namun, dari kacamata ilmiah, klaim tersebut ternyata tidak benar. Pangan organik tidak punya manfaat nutrisi atau kesehatan yang lebih dahsyat dibandingkan pangan biasa.

Inilah hasil kajian para peneliti London School of Hygiene & Tropical Medicine yang dimuat dalam jurnal The American Journal of Clinical Nutrition pekan lalu. Dengan kata lain, masyarakat konsumen dinilai telah membayar harga yang lebih tinggi untuk pangan organik dengan alasan memiliki manfaat kesehatan. Bahkan, gembar-gembor tersebut telah menciptakan pasar pangan organik global dengan nilai sekitar 48 miliar dolar AS pada 2007.

Berdasarkan kajian sistematik terhadap 50.000 makalah ilmiah — di mana 162 makalah dinilai relevan dengan topik — yang diterbitkan berbagai literatur keilmuan selama 50 tahun terakhir sampai 29 Februari 2008, ternyata tidak ditemukan adanya perbedaan berarti antara pangan organik dengan pangan biasa.

“Memang ada sejumlah kecil perbedaan dalam kandungan nutrisi yang ditemukan antara bahan pangan yang dibuat secara organik dengan konvensional. Namun, perbedaan itu tidak ada relevansinya dengan kesehatan masyarakat,” ujar Alan Dangour.

“Berdasarkan kajian kami, saat ini tidak ada bukti yang mendukung pemilihan pangan yang dihasilkan secara organik dibandingkan yang konvensional dari sisi keunggulan kandungan nutrisi, tambahnya.

Selama ini, masyarakat konsumen cenderung mau membayar harga yang lebih tinggi untuk pangan organik didasarkan pada persepsi lebih sehat dan memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi. Apalagi, banyak kajian yang berkseimpulan pangan secara organik punya komposisi nutrisi yang lebih superior dibanding pangan konvensional.

Kajian yang dilakukan London School of Hygiene & Tropical Medicine sendiri memang difokuskan pada kandungan nutrisi dan tidak memasukkan kandungan bahan pencemar atau residu pestisida pada pangan dari berbagai pola produksi pertanian yang berbeda.

Untuk memenuhi tuntutan metodologi, maka kualitas artikel yang ada juga dinilai. Agar bisa memenuhi kualitas yang memuaskan, studi yang dilakukan juga memberikan informasi mengenai peneribit skim sertifikasi organik dari pangan organik yang dimaksud, analisis varietas tanaman atau jenis ternak, analisis kandungan nutrisi atau susbstansi nutrisi yang relevan, metodologi analisis laboratorium yang digunakan serta metode analisis statistik yang dipakai.

Dengan cara itu, tercatat 55 makalah diidentifikasi memiliki kualitas memuaskan, dan analisis dilakukan dengan membandingkan 13 kandungan kategori nutrisi dari pangan yang dihasilkan secara organik dengan cara konvensional.

Para peneliti menemukan, pangan yang dihasilkan secara organik maupun konvensional ternyata sebanding dalam hal kandungan nutrisi saat dibandingkan. Sebanyak 10 dari 13 kategori kandungan gizi yang dianalisis, ternyata tak ada perbedaan signifian.

Perbedaan yang ditemukan sebagian besar terjadi karena perbedaan dalam penggunaan pupuk (nitrogen, phospor), dan tingkat kematangan saat panen (keasaman). Dari sisi ilmiah, perbedaan kadar nutrisi ini saat dikonsumsi pada pangan organik tidaklah memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar.

Studi ini diselenggarakan dan dibiayai oleh pemerintah Inggris melalui Badan Standar Pangan (Food Standards Agency). Penyandang dana sendiri tidak punya peran dalam merancang studi, pengumpulan data, analisis, penafsiran ataupun penulisan laporan.

Yang jelas, penjualan pangan organik sendiri merosot di banyak negara, termasuk di Inggris, menyusul resesi global yang beraibat turunnya daya beli konsumen. Menurut Asosiasi Pertanahan (The Soil Association) pada April 2009, angka pertumbuhan penjualan produk pangan organik di Inggris melemah 1,7% pada 2008. Angka ini jauh menurun dibandingkan angka rata-rata pertumbuhan tahunan pada dasawarsa lalu yang mencapai 26%. AI

Leave a Reply