Wednesday - August 19th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Awas, Bibit Lilium Asal Belanda Terinfeksi Virus
Post Info Wednesday, August 19th, 2009 13:28 by agroindonesia Print Print this page

Bagi penggemar bunga Lilium (Lili sp), khususnya jenis Sorbonne dalam waktu cukup lama bakal sulit menjumpai tanaman tersebut. Soalnya hasil pemeriksaan Karantina Pertanian menemukan bibit tanaman dari Belanda itu terinfeksi virus membahayakan. Namanya Strawbery latent ring spot virus (SLRSV). Dengan terpaksa, bibit itu harus dimusnahkan.

Bahkan Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok sudah dua kali menemukan bibit Lilium impor terinfeksi virus yang tidak ada di Indonesia. Pertama pada impor 40 ribu bibit (22 keranjang) milik PT Surya Pralabda. Kasus kedua, sebanyak 32 ribu bibit atau sebanyak 160 keranjang (3.427 kg) bunga Lili yang diimpor PT. Graha Flora Indonesia terdeteksi terinfeksi SLRSV.

Terhadap dua kasus tersebut, Karantina Pertanian melakukan pemusnahan dengan cara membakar. Pada kasus pertama dilakukan April lalu, sedangkan kasus kedua pada Rabu (12/8) di Sukabumi.

Kepala Seksi Penindakan Karantina Tumbuhan Balai Besar Karantina Tanjung Priok, Karsad kepada Agro Indonesia mengatakan, bibit Lilium milik PT Graha Flora Indonesia terinfeksi OPTK (organisme pengganggu tanaman karantina) SLRSV yang tidak dapat hilang dengan tindakan karantina melalui fumigasi.

“Berdasarkan hasil uji di laboratorium karantina di Tanjung Priok dan laboratorium standar karantina ternyata 32 ribu umbi Lilium itu positif OPTK yang tidak ada di Indonesia,” kata Karsad. Bibit impor itu masuk pada 28 Maret 2009 melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Di Indonesia jenis Lilium itu dipasarkan dengan nama Sorbonne atau Lilium merah.

Dia menegaskan, untuk menghindari penyebaran ke daerah lain yang bisa membahayakan atau menular ke tanaman lainnya, Karantina Pertanian tidak bisa melepas atau mengijinkan masuk ke Indonesia. Karena itu bibit Lilium tersebut kemudian dimusnahkan untuk melindungi aumberdaya alam Indonesia. Pemusnahan dilakukan di lokasi kebun milik PT Graha Flora Indonesia di Kampung Cipamingkis, Desa Titisan, Kecamatan Sukalaras, Sukabumi.

“Jika OPTK dari negara lain sampai masuk, maka sulit bagi Indonesia memberantasnya sampai habis. Jika sampai menyebar yang bisa kita lakukan hanya mengendalikan,” ujar Karsad.

Perlu diketahui SLRSV merupakan jenis OPTK kategori A1 dan golongan I. Artinya OPTK tersebut termasuk jenis yang membahayakan dan tidak ada di Indonesia. Karena itu jika ada produk pertanian impor yang masuk ke Indonesia dan terdeteksi ada OPTK dari golongan tersebut harus dimusnahkan.

Selain bibit Lilium Sorbonne, selama tahun 2009 ada beberapa bibit tanaman hias yang masuk ke Indonesia yakni Lilium Crystal Blanca, Nova Zembla, Rialto, Robina dan Santander. Total jumlahnya 363 cases, 65.800 pcs, 7.775 kg. Namun bibit tersebut aman dan tidak terdeteksi hama penyakit membahayakan bagi tanaman yang ada di Indonesia.

Baru pertama kali

Sementara itu, Kepala Bagian Personalia dan Umum PT Graha Flora Indonesia (GFI), Rahman mengakui, bibit Lilium tersebut dipesan dari Belanda yakni Jan De Wit and Zonen. Perusahaan mengimpor bibit Lilium Sorbonne sejak tahun 2000. “Memang ada penyesalan karena baru kali ini bibit Lilium yang kita impor terdeteksi virus SLRSV,” ujarnya.

Ke depan menurut Rahman, agar tidak terjadi kasus yang sama pihaknya mengusulkan agar pemerintah dalam hal ini Karantina Pertanian menggunakan sertifikasi bebas OPTK dari negara asal. Cara ini, selain memudahkan Karantina Pertanian, bagi perusahaan pengimpor akan memberikan jaminan terhadap produknya. Diperkirakan kerugian akibat pemusnahan bibit Lilium ini sekitar Rp250 juta.

Dengan adanya pemusnahan bibit ini diprediksi dalam enam bulan ke depan pesanan bunga Lilium ini tidak bisa terpenuhi. Sebab, bibit Lilium jenis Sorbonne termasuk yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Bahkan kini perusahaan memproduksi hampir 50% bunga Lilium adalah jenis Sorbonne.

Jenis bunga lain yang bibitnya diimpor adalah bunga Lilium putih yakni Cassablanca, Realto dan Novazembla. Sedangkan bunga lain yang diproduksi PT Graha Flora Indonesia adalah Rose, Anturium, Anggrek, Orchidium. “Sebagian besar pemasarannya di wilayah DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, khususnya Bandung,” katanya.

Selain kasus bibit Lilium terinfeksi virus, Karantina Pertanian pada tahun ini juga menemukan kentang asal Kanada yang ditemukan OPTK. Kentang yang terdeteksi virus sudah dimusnahkan di lokasi kebun importir di Garut, Jawa Barat.

Sejak Mei lalu, Badan Karantina Pertanian, Departemen Pertanian mengubah mekanisme pemeriksaan produk pertanian impor, baik hewan dan tumbuhan. Semula dilakukan di gudang pemilik kini tindakan karantina atau pemeriksaan di lini satu pelabuhan pemasukkan. “Tindakan karantina di lini satu untuk memaksimalkan pemeriksaan awal dengan pengambilan sampel, selanjutnya dilakukan pengujian laboratorium,” kata Kepala Balai Besar Karantina Pertanian, Hadi Wardoko.

Selama ini pengambilan sampel baru dilakukan ketika barang-barang impor sudah keluar dari pelabuhan atau berada di gudang importir yang ditetapkan sebagai instalasi karantina atau tempat pemeriksaan. Namun mekanisme itu justru membawa konsekuensi produk pertanian impor itu sudah tidak ada di gudang.

Contohnya pernah terjadi pada kasus impor bawang. Selama ini importir diberikan kemudahan, tindakan karantina dilakukan di gudang pemilik agar dapat cepat keluar dari area pelabuhan. Tapi setelah keluar dari pelabuhan dan petugas karantina akan memeriksa dan mengambil sampel, ternyata barang tersebut sudah diedarkan, bahkan habis terjual. Padahal produk pertanian impor itu belum mendapat sertifikat pelepasan dari Badan Karantina. Julian

Leave a Reply