Wednesday - August 19th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Harga Gula Terus Melaju
Post Info Wednesday, August 19th, 2009 13:18 by agroindonesia Print Print this page

Upaya pemerintah menekan harga jual gula sulit terlaksana tanpa mekanisme operasi pasar. Dengan harga di pengecer yang sudah menembus Rp9.000/kg, tak ada jalan lain kecuali membanjiri pasar untuk mencapai angka patokan harga di konsumen sekitar Rp7.500/kg.

Ramadhan menjadi “bulan mahal” memang tak terelakkan. Maklum, pendulum hukum pasar saat itu selalu bergeser ke sisi permintaan. Itu sebabnya, pemerintah kerap menggunakan instrumen operasi pasar untuk menahan laju kenaikan harga-harga kebutuhan pokok.

Kondisi itu pula yang kini mulai terjadi pada komoditi gula pasir. Bahkan dua pekan menjelang Ramadhan harga mulai terbang. Kini, di pasaran harga sudah menginjak angka Rp9.000/kg. Harapan pemerintah mendapatkan harga gula tingkat konsumen akhir (end users) sekitar Rp7.000-7.500/kg dalam waktu dekat pun nampaknya sulit terwujud. Padahal, enteri Perdagangan telah meminta perusahaan plat merah gula menekan harga tender hingga maksimal Rp6.500/kg.

Sebelum terjadinya lonjakan, sebenarnya dalam tiga pekan terakhir harga gula dalam negeri cenderung fluktuatif. Isyarat tersebut setidaknya tercermin dalam tender gula PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI di Surabaya, Senin (3/8).

Untuk tender produksi pabrik gula (PG) PTPN XI di wilayah Pasuruan ke timur sebesar Rp7.054/kg. Sedangkan produksi PG wilayah Madiun dan sekitarnya Rp7.104/kg. Jika menengok harga tender, maka praktis harga tender kali ini melonjak ketimbang tender sebelumnya yang hanya Rp6.376,37/kg dan Rp6.416,40/kg. Dibandingkan dengan tender di PTPN IX yang digelar di Surakarta (31/7) yang mencapai harga Rp7.490/kg, justru tender gula milik PTPN XI lebih rendah.

Wakil Sekjen Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi), Adig Suwandi memprediksi, lonjakan harga gula yang terjadi pada musim giling tahun ini karena memang harga tender gula petani masih sekitar Rp7.360/kg. Selain itu, juga karena faktor harga gula dunia yang makin tidak terbendung.

Di Bursa Berjangka London, akhir pekan lalu, gula untuk pengapalan Oktober 2009 diperdagangkan pada harga 537,20 dolar AS/ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium) atau naik 18,30 dolar AS/ton. Ini berarti, setelah membayar bea masuk Rp790/kg, asuransi, PPN, PPh, bongkar-muat, susut, cost of money, dan lain-lain, harga sampai gudang importir di pelabuhan sudah mendekati Rp8.000/kg.

Tendensi terus melajunya harga gula dunia juga tercermin untuk pengapalan Desember 2009 yang mencapai 549,40 dolar (naik 19,30 dolar). Berturut-turut untuk pengapalan Maret, Mei dan Agustus 2010 adalah 559,40 dolar (naik 19,30 dolar), 549,40 dolar (naik 15,60 dolar), dan 536,20 dolar (naik 12,30 dolar).

“Isyarat terjadinya defisit gula dunia, praktis menjadikan harga makin tak terkendali. Mekanisme pasar mengisyaratkan harga melonjak saat jumlah barang diminta lebih banyak ketimbang yang ditawarkan,” katanya kepada Agro Indonesia.

Adig berpendapat, pemerintah akan sulit menahan laju kenaikan harga gula karena tidak menguasai stok. Upaya mengerem laju harga gula baru bisa dilakukan jika pemerintah membeli gula yang ada sesuai mekanisme pasar. Setelah itu, menjualnya ke konsumen dengan harga dikehendaki. “Kalau imbauan hanya kepada BUMN sulit diharapkan efektivitasnya,” kata Adig yang juga Sekretaris Perusahaan PTPN XI.

Sebab, lanjut dia, dari 2,7 juta ton perkiraan gula produksi dalam negeri tahun 2009, hanya sekitar 850.000 ton yang dikuasai BUMN. Sisanya yang 950.000 ton berada di tangan PG swasta dan 900.000 ton gula milik petani.

Dengan harga gula di pasar dunia yang cenderung naik, Adig memprediksi, kecil kemungikinan impor berjalan mulus. Apalagi, gula hasil penggilingan tebu oleh 59 PG di Indonesia hanya cukup memenuhi kebutuhan konsumsi langsung. Sedangkan untuk bahan baku industri berupa gula rafinasi masih dipenuhi dari impor, yakni impor langsung oleh industri makanan/minuiman dan impor raw sugar untuk diolah menjadi gula rafinasi oleh industri gula rafinasi lokal.

Saat harga gula dunia tinggi, kemungkinan sebagian industri makanan/minuman melakukan substitui bahan baku dari gula rafinasi ke gula lokal. Akhirnya, gula lokal menjadi rebutan antara untuk konsumsi dan industri, meski kini puncak produksi tengah berlangsung.

Lebih lanjut Adig mengungkapkan, kendati harga naik tapi karena konsumsinya hanya 12,6-13,6 kg/kapita/tahun, dipastikan tidak berdampak terhadap inflasi. Karena itu pemerintah tidak perlu terburu-buru mengambil kebijakan mengimpor gula. Apalagi memberikan fasilitas pembebasan bea masuk. “Kenaikan harga diharapkan memotivasi produsen meningkatkan produktivitas,” ujarnya.

Kelancaran distribusi

Sementara itu Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian, Achmad Suryana mengakui harga gula di pasar saat ini masih cukup tinggi di atas Rp8.000/kg. Bahkan diprediksi menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru, harga gula akan naik dengan sudah berakhirnya musim giling tebu. “Untuk mengantisipasi kenaikkan harga gula itu, pemerintah akan meningkatkan kelancaran distribusi dan pengendalian harga gula pabrikan,” katanya.

Namun demikian dari sisi pasokan, hitung-hitungan pemerintah produksi gula nasional cukup untuk memenuhi permintaan hari besar keagamaan. Diperkirakan tahun ini total produksi gula dalam negeri sebanyak 4,57 juta ton, dengan tambahan impor sekitar 379.000 ton sampai akhir tahun 2009 akan terjadi surplus sebesar 1,56 juta ton.

Produksi gula itu berasal dari hasil giling tebu pabrik gula dalam negeri sebanyak 2,87 juta ton, gula eks raw sugar 146.000 ton dan gula rafinasi sekitar 1,7 juta ton. “Kekurangan gula hasil produksi dalam negeri pada akhir tahun, yaitu September-Desember dapat ditutupi dari stok bulan sebelumnya,” katanya.

Data BKP, stok awal Agustus sebanyak 1.446.799 ton, dengan produksi gula pada bulan itu sekitar 712.903 ton ditambah impor sekitar 48.303 ton, maka ketersediaan gula pada Agustus sebanyak 2.208.005 ton. Jika kebutuhan selama Agustus sekitar 456.316 ton, maka ada kelebihan gula sebanyak 1.751.690 ton.

Kelebihan itu bisa untuk memenuhi kebutuhan September sebanyak 786.061 ton. Jika pada September juga ada tambahan produksi gula 592.940 ton dan impor 49.119 ton, maka masih ada ketersediaan sebanyak 2.393.749 ton. “Karena itu menjelang lebaran yang jatuh pada September nanti, umat Islam tidak perlu kuatir kekurangan gula,” ujarnya. Julian

tabel2

Mustafa: Tugas Bulog Sebatas Bantu Pemasaran

Pemerintah kemungkinan bakal sulit meredam lonjakan harga gula di dalam negeri. Faktor utamanya, karena pemerintah tidak mempunyai stok untuk menggelontorkan pasar melalui operasi pasar khusus. Perum Bulog yang sempat mendapat sinyal dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi stabilisator harga gula juga diprediksi akan kesulitan menahan laju harga gula.

Direktur Utama Perum Bulog, Mustafa Abubakar mengatakan, tugas yang diberikan Bulog dalam menangani komoditi gula berbeda dengan beras. Untuk komoditi beras, Bulog mendapatkan dana khusus dari pemerintah untuk membeli beras di petani, kemudian melakukan stok sebagai cadangan beras pemerintah.

Sedangkan untuk komoditi gula, tugas Bulog sebatas membantu memasarkan hasil produksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Artinya Bulog hanya sebagai agen pemasaran gula milik PTPN dan RNI. “Jadi tugas Bulog bukan sebagai stabilisator harga gula, tapi sekadar membantu memasarkan,” katanya kepada Agro Indonesia.

Hingga kini jumlah gula milik BUMN gula yang sudah dipasarkan sekitar 220.000 ton. Tahun ini jumlah gula yang dipasarkan Bulog sebanyak 14% dari total produksi gula di dalam negeri sebanyak 4,5 juta ton atau sekitar 630.000 ton.

Dengan pola kerjasama seperti itu Mustafa mengakui, sulit bagi Bulog menstabilkan harga gula yang kini cenderung terus naik. Sebab, Bulog tidak mempunyai stok di gudang. “Untuk OP kita belum mendapatkan perintah dari pemerintah. Memang tidak ada stok gula pemerintah untuk OP,” tegasnya.

Seperti diketahui, sejumlah perusahaan gula pelat merah telah menjalin kerja-sama dengan Bulog. Perusahaan itu adalah PTPN (II, VII, IX, X, XI, XIV) dan PT RNI. Kerjasama itu bersifat business to business dengan tujuan memperkuat bargaining position produsen melalui penerapan kebijakan satu pintu (one gate policy).

Langkah ini sebagai respons atas surat Menteri Negara BUMN No. S-309/MBU/2009, tanggal 9 Mei 2009 yang menyebutkan bahwa salah satu tujuan sinergi BUMN melalui sistem satu pintu (one gate policy) ini adalah menjaga stabilitas harga jual gula pada tingkatan yang menguntungkan seluruh stakeholders. Sinergi juga melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia selaku pendukung pendanaan. Julian

One Response to “ Harga Gula Terus Melaju ”

  1. Muis Iskandar

    Info yang sangat menarik, terima kasih telah berbagi…trims

Leave a Reply