Monday - September 28th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Menjual Keindahan Bunaken
Post Info Monday, September 28th, 2009 14:49 by agroindonesia Print Print this page

Rencana pemerintah mengembangkan pariwisata alam memang tidak main-main. Sangat serius. Lima tahun belakangan, Departemen Kehutanan terus berbenah. Setelah menetapkan 50 Taman Nasional dan kemudian menunjuk 21 TN Model (2006), tahun 2010 mendatang kembali dikembangkan enam TN Model Mandiri (TNMM). Sasarannya apalagi kalau bukan menyedot wisata, mendulang dolar.

Untuk mencapai agar program 6 TNMM tersebut segera terealisir tahun depan, maka pertengahan Agustus 2009 lalu enam kepala balai besar (baca halaman 13) yang wilayahnya ditetapkan menjadi mandiri telah melakukan ekspose. Terutama untuk mengali potensi perolehan dana dari kawasan konservasi yang dikelolanya. Hasilnya memang belum final, apakah nantinya akan dibentuk sistem Badan Layanan Umum (BLU). Soal teknisnya sedang dibahas dan dimatangkan untuk kemudian ditetapkan menjadi peraturan yang mengikat.

Menurut Dirjen Pelestarian Hutan Konservasi Alam (PHKA), Darori, semangat tentang Taman Nasional Model Mandiri adalah mengoptimalkan kekayaan sumber daya hayati yang berupa hutan  untuk kemakmuran bangsa dan negara.

Pasalnya, bangsa ini memiliki kekayaan yang luar biasa, namun belum dioptimalkan. “Jadi, arah makronya kesana. Kalau selama ini kita selalu mengedepankan seolah-olah hanya menjual kayunya saja, maka kebijakan lain harus berorientasi untuk memanfaatkan sumber alam non timber yang berupa keindahan alam itu untuk kita jual ke luar negeri,” katanya.

“Program ini harus mulai dikerjakan sekarang dan jangan sampai ditunda-tunda lagi. Dan inilah saatnya kita bangkit. Apalagi, saat harga pasar produk kayu dunia sedang lesu,” tambah Darori mantap.

Untuk memulai rencana besar itu, enam taman nasional dipersiapkan menjadi pioner dan diharapkan menjadi model mandiri. Mandiri dalam pendanaan dan profesionalisme. Jika program ini berhasil ke depan, seluruh TN yang ada di Indonesia akan di-mandiri-kan. Karena itu, konsepnya harus dipersiapkan secara matang, sehingga diminati oleh pemilik dana maupun pengunjung atau turis.

Tradisional

Pengelolaan TN yang ada selama ini sangat tradisional dan umumnya kurang profesional dari sisi tertentu. Bayangkan, tarif masuknya sangat murah  sekali untuk ukuran turis asing, jika dibandingkan dengan apa yang bisa dijual. Padahal, keindahan alam yang ada di dalam kawasan taman nasional bukan saja keajaiban dunia, namun juga keindahan yang sulit di dapat di negara lain.

Jika tarif masuknya saja murah, bagaimana mungkin TN mampu membiayai operasionalnya. Alhasil, sistem keamanan maupun pengawasan untuk menjaga keutuhan keindahan flora dan fauna yang berada di dalam kawasan taman nasional juga tidak optimal.

Terkait dengan pendanaan pengelolaan kawasan konservasi, Darori punya catatan. Menurutnya, dana pemerintah sendiri tidak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan peningkatan anggaran bagi konservasi. Menyadari hal ini, maka Pimpinan Departemen Kehutanan akan mencari terobosan kebijakan pendanaan guna mengatasi masalah ini khususnya dalam pengelolaan taman nasional agar menjadi efektif.

Untuk mencapai tujuan pengelola taman nasional efektif, maka diperlukan gebrakan kebijakan untuk mencari terobosan dalam soal pendanaan. Membentuk TN Model Mandiri tanpa harus mengorbankan tujuan utama dari konservasi kawasan itu sendiri. Perlu diingat pula bahwa tidak semua kawasan mempunyai potensi yang dapat dikembangkan untuk jadi uang.

TN Bunaken, gerbang utara

Dalam kesempatan itu, Darori menyebut Taman Nasional Bunaken bisa menjadi model mandiri. Bunaken merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan dan pesisir tentu menjadi produk yang punya nilai jual tinggi dalam menyerap wisatawan asing maupun domestik.

Potensi yang menarik dan banyak peminatnya, terletak di bagian utara yang terdiri dari P Bunaken, P Manado Tua, P Montehage, P Siladen, P Nain, P Nain Kecil, dan sebagian wilayah pesisir Tanjung Pisok. Sedangkan bagian Selatan meliputi sebagian pesisir Tanjung Kelapa.

Potensi daratan pulau-pulau taman nasional ini kaya dengan jenis palem, sagu, woka, silar dan kelapa. Jenis satwa yang ada di daratan dan pesisir antara lain kera hitam Sulawesi (Macaca nigra nigra), rusa (Cervus timorensis russa), dan kuskus (Ailurops ursinus ursinus).

Jenis tumbuhan di hutan bakau Taman Nasional Bunaken, yaitu Rhizophora sp, Sonneratia sp, Lumnitzera sp, dan Bruguiera sp. Hutan ini kaya dengan berbagai jenis kepiting, udang, moluska dan berbagai jenis burung laut seperti camar, bangau, dara laut, dan cangak laut.

Jenis ganggang yang terdapat di taman nasional ini meliputi jenis Caulerpa sp, Halimeda sp, dan Padina sp. Padang lamun yang mendominasi terutama di P Montehage, dan P Nain yaitu Thalassia hemprichii, Enhallus acoroides, dan Thalassodendron ciliatum.

Tercatat 13 genera karang hidup di perairan Taman Nasional Bunaken, yang didominasi jenis terumbu karang tepi dan terumbu karang penghalang. Yang paling menarik adalah tebing karang vertikal sampai sejauh 25-50 meter.

Sekitar 91 jenis ikan terdapat di perairan ini diantaranya ikan kuda gusumi (Hippocampus kuda), oci putih (Seriola rivoliana), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira), goropa (Ephinephelus spilotoceps dan Pseudanthias hypselosoma), ila gasi (Scolopsis bilineatus) dan lain-lain.

Jenis moluska seperti kima raksasa (Tridacna gigas), kepala kambing (Cassis cornuta), nautilus berongga (Nautilus pompillius), dan tunikates/ascidian.

Habitat Dataran

Potensi biologi daratan di pulau-pulau TN Bunaken kaya dengan jenis-jenis flora palma, sagu, woka, silar dan kelapa. Pohon mangga, pisang dan buah-buahan lain tersebar di mana-mana, yang menjadi makanan bagi aneka serangga burung dan kelelawar. Jenis-jenis faunanya antara lain Yaki (kera hitam Sulawesi) dan Kuskus yang merupakan penghuni hutan di Pulau Manado Tua. Rusa terdapat di rawa-rawa pulau Mantehage pada siang hari dan keluar merumput di senja hari.

Rumput Laut

Padang lamun dan rumput laut merupakan jenis-jenis tumbuhan laut. Rumput laut tidak seperti ganggang. Memiliki akar dan menghasilkan biji, sehingga dapat membentuk hamparan luas yang merupakan tempat ikan bertelur dan berkembang. Padang lamun dan rumput laut banyak terdapat di TN Bunaken terutama dekat Arakan Wawontulap. Habitat lamun dan rumput laut merupakan habitat bagi jenis duyung dan penyu laut.

Hutan Bakau

Lebih kurang 1.800 ha luasan hutan bakau di TN Bunaken. Hutan bakau ini berperan sebagai penyaring endapan lumpur dari daratan dan mencegah erosi garis pantai. Hutan ini kaya dengan berbagai jenis. Kepiting, udang, moluska, dan ikan-ikan muda dari berbagai jenis. Juga sebagai tempat bertelurnya kebanyakan jenis ikan. Beraneka jenis burung laut dan pantai seperti camar, bangau, dara laut, cengak terdapat disini.

Terumbu Karang

Terumbu tepian mendominasi perairan pesisir, selain terumbu penghalang. Yang paling menarik adalah tebing karang vertikal, menghujam di bawah permukaan air hingga 25-50 meter. Terdapat 58 jenis keluarga binatang karang sudah teridentifikasi. Karang berkulit keras yang berjasa membangun terumbu karang. Belalainya yang, walau hanya 1 mm, mengeluarkan zat kapur yang membentuk terumbu karang.

Tebing bawah air memiliki banyak ceruk, celah dan rekahan, tempat persembunyian berbagai jenis vertebrata dan invertebrata laut. Selain karang keras, terdapat biota laut, bintang laut, teripang, dll. Terdapat pula jenis kima (Tridacna sp.), bahkan kima raksasa (Tridakna gigas) yang ukurannya bisa mencapai satu meter. Dataran terumbu karang ini lebarnya bisa mencapai 2,5 km. Jenis-jenis ikan yang umum dijumpai antara lain wrase, dansel, trigger, sweetlip, unicorn dan lain-lain. Jumlah jenis-jenis ikan lebih dari 2.000 jenis.

Laut Dalam

Salah satu keunikan TN Bunaken adalah kedalaman laut yang memisahkannya dengan daratan Sulawesi, yang bisa mencapai 1.000 meter. Kedalaman ini menjadi semacam tekanan berbagai aktifitas manusia di daratan Sulawesi yang dapat berpengaruh buruk terhadap TN Bunaken. Mungkin inilah yang menyebabkan TN Bunaken sampai saat ini intensitas kerusakan masih lebih rendah dibandingkan banyak taman laut lainnya. Jenis-jenis Ikan-ikan besar seperti ikan tuna, marlin, hiu kepala palu, pari, layar, cekalang, barakuda, lumba-lumba dan bahkan paus kerap melewati perairan ini.

Sosial Ekonomi

Lebih dari 20.000 jiwa penduduk yang hidup dalam kawasan TN Bunaken. Penduduk di kawasan ini umumnya mencari makan di laut atau bertani. Banyak yang masih menggunakan perahu cadik dan jala tradisional. Sebagian penduduk Pulau Nain ahli pertukangan dan membuat cendera mata dari kulit kerang. Penduduk suku Bajo melewatkan sebagian besar waktu di daseng (bagan), perkampungan di atas air sekitar Pulau Mantehage. Penduduk yang berasal daratan Sulawesi kebanyakan dari suku Minahasa, terlihat dalam cara menggunakan berbagai pohon woka. Penduduk yang lain umumnya pendatang dari Kepulauan Sangir Talaud.

Interaksi antar budaya relatif tinggi, terlihat dari penggunaan dialek bahasa yang sama, serta kesamaan teknik-teknik pemanfaatan potensi sumber daya alam. Beberapa akomodasi dilakukan oleh etnis tertentu, sebagai hasil interaksinya dengan kelompok lainnya. Pemilikan lahan umumnya masih bersifat hak adat, berupa tanah warisan (pasini). Tidak terdapat sistem pemilikan atas rataan terumbu dan perairan dangkal.

Keberadaan masyarakat setempat, terdiri dari sekitar tujuh kelompok suku, yang lebih dari tiga generasi lalu, diperkirakan telah membentuk suatu keseimbangan ekologis tertentu. AI

Leave a Reply