Tuesday - October 27th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Pemerintah Siap Hapus Segmentasi Gula
Post Info Tuesday, October 27th, 2009 15:49 by agroindonesia Print Print this page

Pemerintah tengah mengkaji penghapusan pembedaan pasar gula dalam negeri. Tidak ada lagi kategori gula rafinasi untuk industri dan gula putih untuk konsumsi, yang secara teoritis memang sama-sama untuk dikonsumsi. Jika terealisasi, maka masyarakat bisa bebas menikmati gula rafinasi yang jauh lebih putih dan bagus tampilannya.

Langkah ini dilakukan setelah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan Industri Gula Nasional (IGN) ternyata tak mampu, kalau bukan tidak mau, merealisasikan impor gula mentah (raw sugar) guna menutup defisit neraca gula tahun 2010. Terbukti, dari izin impor raw sugar 183.000 ton sampai Desember 2009, PTPN IX dan X (yang masing-masing dapat jatah impor 75.000 dan 55.000 ton) malah membatalkan realisasi. PTPN II yang dapat jatah 60.000 ton hanya mampu membeli 20.000 ton. Sementara IGN dikabarkan juga sangat minim. Bagaimana PTPN XI? Mereka jauh-jauh hari malah tak mau mengambil jatah impor.

Kondisi ini jelas berbahaya buat harga gula dalam negeri yang tak terkendali akibat tarikan harga internasional, dan menembus angka Rp10.000/kg. Yang menyesakkan, alasan pun dibuat bermacam-macam. Tapi, ujung-ujungnya PTPN memang lebih suka jika impor dilakukan dalam bentuk gula putih (white sugar).

Simak pernyataan Adig Suwandi, corporate secretary PTPN XI yang juga Wakil Sekjen Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi). Rencana impor gula, baik gula rafinasi dan raw sugar tidak akan menyelesaikan masalah. Jika pemerintah mau mengatasi krisis gula, jangan ada lagi industri makanan dan minuman (mamin) yang melakukan substitusi bahan baku dari gula rafinasi ke gula lokal. Kalaupun terpaksa impor? “Lebih baik bentuknya gula kristal putih,” katanya.

Yang lucu, sulit dan seretnya impor raw sugar tidak terjadi pada industri gula rafinasi. Bahkan, mereka mengaku siap dapat limpahan jika PTPN tak mau impor raw sugar. Padahal, mereka juga baru dapat tambahan kuota impor raw sugar 220.000 ton. “Kami siap jika pemerintah melimpahkan,” kata Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), Yamin Rahman.

Sulitkah impor raw sugar? Tidak, ternyata. “Australia, Thailand dan Brasil masih memiliki stok raw sugar yang cukup,” ucapnya.

Jadi? Buat PTPN, impor gula putih memang lebih enak ketimbang gula mentah. Maklum, tinggal jual dan tak perlu repot keluar biaya giling, meski boros devisa dan nilai tambah dinikmati negara asing. Kelakuan PTPN memang sudah bisa ditebak. Maklum, di belakang mereka adalah para pedagang yang memodali impor. Penyeimbangan neraca gula juga bisa memupus harapan untung besar dari spekulasi pasar. AI

One Response to “ Pemerintah Siap Hapus Segmentasi Gula ”

  1. Adig Suwandi

    Perdebatan Impor Harus Produktif

    “Jadi? Buat PTPN, impor gula putih memang lebih enak ketimbang gula mentah. Maklum, tinggal jual dan tak perlu repot keluar biaya giling, meski boros devisa dan nilai tambah dinikmati negara asing. Kelakuan PTPN memang sudah bisa ditebak. Maklum, di belakang mereka adalah para pedagang yang memodali impor. Penyeimbangan neraca gula juga bisa memupus harapan untung besar dari spekulasi pasar”, kata Agroindonesia, 27/10/2009.

    Dalam alam demokrasi dan keterbukaan seperti sekarang, pendapat seperti di atas sah-sah saja. Hanya saja, apakah pendapat tesebut accountable atau tidak, itu yang harus dibuktikan. Karena itu perdebatan tentang impor gua harus produktif, bukan provokatif. PTPN XI tidak ikut impor raw sugar bukan karena ingin impor gula kristal putih. Ada beberapa faktor penyebab yang perlu anda ketahui semua : (1) Giling sebagian PG hampir berakhir saat pemerintah merencanakan kebijakan impor raw sugar ; (2) PG tidak didesain untuk mengolah raw sugar, sehingga kalau pun ada raw sugar mesti diolah bersama tebu dalam rangka mengatasi idle capacity.

    Untuk mengurangi impor jelas sejak awal saya katakan bahwa semua industri gula rafinasi harus membangun kebun tebu sendiri, bukan mengandalkan bahan baku dari impor raw sugar secara terus-menerus. Ketentuan ini harus berlaku untuk investasi baru, pabrik yang sudah ada, maupun pabrik yang berniat meningkatkan kapasitas produksi. Ini baru logis, jangan asal tuduh PTPN berkeinginan impor gula kristal putih dan menghindar raw sugar.

Leave a Reply