Thursday, November 12th, 2009 17:10 by
agroindonesia
Print this pagePemerintah Indonesia dan Brunei Darussalam akan mengadakan kerjasama pengembangan investasi pertanian. Kerjasama tersebut telah dibicarakan dalam pertemuan bilateral di sela-sela sidang Menter-menteri Pertanian dan Kehutanan (AMAF/Asean Ministers on Agriculture and Forestry) di Bandar Seri Begawan 10-11 Nopember lalu.
“Dalam pertemuan di sela-sela sidang AMAF, belum sampai ke detail teknis. Tapi MoU sudah kita tawarkan untuk dipelajari. Setelah itu baru ada ikatan kerjasama,” kata Menteri Pertanian Suswono saat jumpa pers mengenai hasil sidang AMAF ke 31 dan AMAF+3 ke 9 di Jakarta, Kamis (12/11).
Suswono mengharapkan, penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dapat dilakukan saat kunjungan balasan Menteri Industri dan Sumberdaya Alam Brunei Darussalam, HE. Pehin Dato Yahya ke Indonesia dalam waktu dekat.
Dalam pertemuan bilateral kedua negara telah dibahas beberapa kerjasama prioritas. Misalnya, Pemerintah Brunei Darussalam mengusulkan program pengendalian hama terpadu dan pengembangan lahan gambut. Dalam hal ini, Indonesia bersedia menyiapkan tenaga ahli di bidang tersebut dan merancang pelatihan.
Sedangkan Indonesia mengundang investor Brunei Darussalam usaha patungan dalam pengembangan peternakan kambing, domba dan ayam untuk tujuan ekspor Timur Tengah. Disamping itu kemungkinan Indonesia bisa mengekspor sayur dan buah.
Bidang kerjasama lainnya adalah pengembangan varietas padi yang banyak diminati konsumen Brunei. Selama ini negara tersebut masih mengimpor beras cukup besar. Sebab, produksi padi Brunei Darussalam hanya mampu memenuhi 20% dari kebutuhan, sedangkan 80% harus diimpor. “Ada peluang usaha cukup besar untuk kerjasama investasi bidang pertanian,” katanya.
Sementara itu dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian dan Irigasi Myanmar, HE. Major General Htay Oo, Indonesia memberikan bantuan 10 unit mesin penggiling padi. Bantuan itu akan tiba pada Nopember ini, sekaligus dalam rangka promosi produk Indonesia ke Myanmar.
Begitu juga hasil pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Kamboja, Chan Tong Yvess. Indonesia memberikan bantuan alat mesin pertanian sebanyak 15 unti traktor tangan, 15 unit power thresher dan dua unit mesin penggilingan padi.
Dua agenda
Adapun dalam sidang AMAF ke-31 dan AMAF+3 yang berlangsung 10-11 Nopember lalu ada dua agenda utama yang dibahas. Pertama, memperkuat kerjasama regional untuk ketahanan pangan melalui rencana aksi strategis. Kedua, kerangka kerja multi sektoral dalam rangka adaptasi dan mitigasi dalam mengatasi dampak perubahan iklim.
“Dua agenda utama ini sebagai tindak lanjut kesepakatan Asean Summit yang berlangsung akhir Oktober 2009 di Thailand,” kata mantan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI
Kesepakatan lainnya adalah, pengesahan enam dokumen mengenai harmonisasi standar dan kriteria produks pertanian dan kehutanan. Diantaranya, mengenai Batas Maksimum Residu untuk lima jenis pestisida dan standar Kriteria Asean untuk akreditasi unit pengolahan susu. Lima jenis pestisida itu yakni, carbendazim (anggur dan jeruk), chlorpyrifos (longan dan leci), phosalone (durian), ethion (pamelo) dan deltamethrin (cabe).
Menteri-menteri Pertanian dan Kehutanan Asean juga mengesahkan dan menandatangani MoU on Asean Co-operation in Agriculture and Forest Products Promotion Scheme. Dengan MoU ini diharapkan makin melengkapi kerjasama negara-negara Asean untuk melakukan promosi komoditi unggulan masing-masing negara. “Termasuk memperkuat kerjasama, posisi tawar dan saling mendukung dalam forum internasional,” kata Suswono. Julian