Tuesday - December 29th, 2009
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Harga Gula Makin Tidak Rasional
Post Info Tuesday, December 29th, 2009 14:44 by agroindonesia Print Print this page

Tingginya harga gula sampai penghujung 2009 ini nampaknya akan terus berlanjut dan kemungkinan mencapai puncaknya pada tahun 2010. Pemerintah pun mengakui, meski dari sisi pasok dijamin ada stok, tapi dari sisi harga masih sulit untuk ditekan. Data Departemen Perdagangan memperlihatkan, harga rata-rata gula menjelang akhir tahun justru naik cukup tinggi dari Rp9.500/kg menjadi Rp9.900/kg.

Kalangan produsen gula menilai, harga gula dunia sekarang sangat tidak rasional dan di luar batas kewajaran. Kenaikan tersebut menurut Corporate Secretary PTPN XI, Adig Suwandi, sangat mungkin merupakan sentimen atas rencana Indonesia mengimpor 500.000 ton gula kristal putih (plantation white sugar).

Di tengah terbatasnya stok yang dapat dialirkan ke Indonesia, apalagi dengan ukuran butiran ICUMSA lebih dari 120 yang diminta, pasar meresponnya dengan kenaikan harga.  Pada penutupan Bursa Berjangka London pekan lalu (18/12), gula untuk pengapalan Maret 2010 diperdagangkan pada harga 678,30 dolar AS/ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium) atau naik 15,30 dolar AS/ton dibanding penutupan (17/12).

Sedangkan harga untuk pengapalan Mei 2010 tercatat 662,30 dolar AS/ton (naik 14,10 dolar AS), Agustus 617,80 dolar AS/ton (naik 8,60 dolar AS), Oktober 567,80 dolar AS/ton (naik 5,10 dolar AS), dan Desember 547,40 (naik 5,10 dolar AS).

Ini artinya, kalau importir melakukan pembelian gula di pasar global, setelah membayar bea masuk, PPN, PPh, asuransi, biaya bongkar muat, susut, dan cost of money, harga sampai gudang pelabuhan saja sudah di atas Rp10.000/kg.

Dengan kata lain, ungkap Adig, meski pemerintah sudah memberikan izin impor, tetapi harga tetap mahal. Kecuali pemerintah menurunkan bea masuk dan memberikan subsidi kepada konsumen. Besarnya subsidi tergantung berapa harga impor, margin importir dan harga riil yang diinginkan pemerintah.

”Langkah lain adalah kesediaan masyarakat untuk mengurangi konsumsi gula, minimal hingga datangnya giling sebagian besar PG. Pengetatan konsumsi tidak terlalu lama, sehingga juga tak perlu dibuat panik,” saran Adig.

Pasar murah

Untuk membantu masyarakat konsumen, khususnya masyarakat miskin, pemerintah tidak punya daya mengingat keterbatasan stok.Itu sebabnya, jurus lama pun dikeluarkan kembali, yakni menggelar pasar murah seperti yang pernah dilakukan untuk minyak goreng. “Kita memang tidak punya rencana untuk melakukan operasi pasar (OP), tapi yang mungkin akan kita lakukan menjual gula dalam pasar murah seperti minyak goreng,” kata Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu.

Tapi menggelar pasar murah juga tidak gampang. Yang jadi persoalan, berapa harga eceran tertinggi yang ingin diberikan? Maklum, berbeda dengan minyak goreng, di mana negeri ini adalah eksportir CPO terbesar di dunia, komoditi gula Indonesia masih impor. Dengan harga internasional yang mengamuk, dan gula lebih banyak di tangan pedagang, siapa sudi melepas dengan harga Rp7.000/kg. Padahal, itu saja sudah lebih tinggi dari HET sebelumnya yang ditetapkan Mendag yang tak “bergigi”.

Peliknya besaran HET itu diakui Mari. Menurutnya, hingga kini masih dalam pembahasan dengan importir produsen (IP), yakni PTPN, PT RNI, PT PPI dan Perum Bulog. Sebab, perusahaan tersebut yang mendapat jatah impor. “Dengan perkiraan harga impor seakarang ini ditambah bea masuknya, harga gula kemungkinan masih di atas Rp9.500-9.600. Untuk harga pasar murah nanti kita bahas dengan IP,” katanya.

Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi juga menegaskan, ketika stok di dalam negeri sudah ada, pemerintah bisa mengatur kebijakan lebih lanjut. Misalnya meminta importir dalam hal ini BUMN untuk menjual gula melalui pasar murah, seperti yang telah dilakukan dalam penjualan minyak goreng.

”Mekanismenya bisa saja seperti pasar murah minyak goreng. Nantinya masyarakat miskin akan mendapat kupon untuk membeli gula bersubsidi,” ujarnya.

Meski tidak mengetahui angka pastinya, Bayu mengungkapkan, untuk menjaga stabilisasi bahan pangan pokok pemerintah telah mengalokasikan anggaran khusus dalam APBN 2010. ”Memang untuk intervensi pasar kita butuh energi besar, terutama anggaran. Tapi kita punya pengalaman keberhasilan menjaga stabilitas harga beras,” katanya.

Tak ada lagi pembedaan

Pemerintah sebetulnya punya jurus penting dalam komoditi gula dan hal itu sudah diwacanakan beberapa bulan lalu. Hal itu bisa dilakukan sebelum negeri ini mampu melakukan swasembada. Jurus itu tak lain penghapusan segmentasi gula, yang selama ini dikenal dengan istilah gula konsumsi dan gula industri (rafinasi). Padahal, sejatinya, kedua-duanya adalah gula yang bisa langsung dikonsumsi.

Namun, untuk mencapai ke arah itu, pemerintah tidak berani bertindak drastis. Untuk tahap awal, pemerintah akan melakukan standarisasi mutu gula yang dipasarkan melalui SNI. Dengan menerapkan SNI wajib ini, maka tidak ada lagi perbedaan antara gula konsumsi dengan gula rafinasi. ”Kita tidak ingin ada perbedaan gula rafinasi dan gula konsumsi. Apalagi dua-duanya adalah gula dari tebu,” tegas Dirjen Perkebunan Deptan, Achmad Mangga Barani. Karena itu lanjutnya, pabrik gula dalam negeri harus mempersiapkan agar produksinya sesuai dengan SNI.

Namun, rencana menghapus segmentasi gula pagi-pagi sudah mendapat peringatan. Adig Suwandi meminta pemerintah lebih berhat-hati dalam mengelola regulasi gula. Regulasi yang tidak kondusif dan kontraproduktif justru berdampak terhadap harga jual produk petani yang tidak kompetitif. Petani dipastikan beralih ke usaha tani lain yang dianggap lebih menguntungkan dibanding tebu.

Pengalaman memburuknya harga gula sepanjang 2008 yang tercermin dalam beberapa kali tender. Saat itu harga lebih rendah dari harga pokok penyanggaan (floor price) dan patokan dana talangan yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp5.000/kg. Ini menjadi antiklimaks yang telah mengamputasi animo petani tebu, sehingga luas areal tebu selama 2009 berkurang hingga 20.000 ha.

Bagaimana dengan tahun 2010 mendatang? Menurut Adig, dengan kondisi harga gula tahun 2009 sangat baik, tapi karena nilai sewa lahan cukup mahal ditambah biaya produksi tebu yang juga tidak lagi murah, perkiraan areal 2010 masih sulit diprediksi. ”Tapi secara umum, kemungkinan penambahan areal tetap terjadi kendati besarannya tidak terlalu signifikan,” ujarnya.  Julian

Stok Dijamin, Harga Nanti Dulu

Kenaikan harga gula dalam negeri saat ini memang tidak wajar, mengingat stok masih ada. Namun, stok yang ada jika dibaca dari sisi produksi gula dalam satu tahun memang pincang. Maklum, target produksi gula konsumsi 2009 dipatok 2,8-2,9 juta ton hanya bisa dicapai 2,62 juta ton. Kondisi ini yang memicu efek psikologi pasar alias spekulasi, karena akan terjadi kelangkaan barang mulai Januari-April 2010 saat pabrik berhenti giling. Produksi 2009 itu juga lebih rendah dari realisasi produksi 2008 sebesar 2,74 juta ton.

Di tengah ketatnya produksi, tiba-tiba harga internasional ngamuk dan berimbas mahalnya gula rafinasi yang bahan bakunya masih impor, raw sugar. Industri makanan dan minuman skala UKM pun beralih membeli gula konsumsi.

Wakil Menteri Pertanian, yang juga Deputi bidang Kelautan dan Pertanian, Kantor Menko Perekonomian, Bayu Krisnamurthi mengakui, produksi gula tahun ini tidak mencapai target yang ditetapkan. ”Januari-April pabrik gula kita sudah tidak ada giling, produksi kita juga tidak sesuai harapan. Karena itu, kita buka kesempatan impor. Kalau kita tidak impor, berat,” katanya.

Data Dewan Gula Nasional (DGN) memperlihatkan, di Indonesia kini terdapat 61 pabrik gula (PG). Rinciannya, 51 PG adalah perusahaan plat merah alias BUMN dan 10 lainnya swasta. Pada 2009, luas total areal tebu sekitar 436.504 ha. Dari jumlah itu 275.811 ha (63,19%) adalah milik BUMN, sisanya 160.693 ha (36,81%) milik swasta.

Total produksi gula sampai akhir 2009 sebanyak 2,77 juta ton yang terdiri produksi gula dari PG dalam negeri sebanyak 2,62 juta ton dan sekitar 150.000 ton dari impor raw sugar. Dengan total jumlah penduduk sebanyak 230,6 juta jiwa diperkirakan Indonesia memerlukan 4,85 juta ton gula. Dari jumlah itu, sebanyak 2,7 juta ton untuk konsumsi langsung masyarakat dan sekitar 2,15 juta ton untuk industri.

Januari-Februari aman

Meski membuka kran impor gula putih, pemerintah menjamin kebutuhan gula pada Januari-Februari masih bisa dipenuhi dari carry over produksi gula 2009, impor gula mentah yang telah diolah PG dan produksi gula dalam negeri.

Hasil perhitungan Dewan Gula Nasional, pada tahun depan stok gula akan dipasok dari gula putih yang berasal olahan gula mentah sebanyak 122.000 ton (PTPN II sebanyak 55.200 ton, PT IGN 57.900 ton dan PG Pakis Baru 9.200 ton), produksi gula dari PTPN II, PTPN VII dan PT Gunung Madu Plantantion (GMP) sebanyak 96.000 ton. Artinya, pada Januari-Februari akan ada tambahan pasokan sekitar 218.000 ton gula konsumsi.

Sedangkan untuk menutupi kebutuhan pada Maret-April, pemerintah berharap dari gula impor. “Stok gula yang ada sekarang masih cukup memenuhi kebutuhan sampai Februari. Kita impor untuk mengisi kebutuhan setelah Februari sampai Mei. Jadi, dari sisi stok tidak akan ada masalah,” kata Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu di sela pemantauan kebutuhan pokok menjelang Natal dan Tahun Baru, pekan lalu.

Mari menegaskan, berdasarkan laporan importir, stok gula di pasar internasional tidak masalah. Sebab, pada Februari mendatang di Thailand sudah masuk musim panen tebu, sehingga akan ada tambahan stok gula di pasar dunia.

Namun demikian, Mari mengakui harga gula masih akan cukup tinggi. Ini akibat India yang selama ini menjadi eksportir gula kini justru mengimpor gula. Bahkan jumlahnya sangat tinggi. ”Laporan dari importir soal barang tidak ada masalah. Kalau harga memang masih tinggi. Harga gula sudah naik sejak awal tahun lalu, sekarang ini kenaikan harganya hampir 80%,” kata Mari Elka.

Sementara itu Corporate Secretary PTPN XI, Adig Suwandi mengungkapkan, jika melihat stok dan produksi gula kondisinya tidak terlalu parah, sehingga gula impor tidak diperlukan dalam waktu terlalu dekat. ”Impor memang perlu, namun tidak terlalu cepat digunakan. Artinya, masih cukup waktu untuk menata ulang, sehingga pelaksanaannya tidak perlu tergesa-gesa,” katanya.

Adig memperkirakan, dari stok yang ada sekitar 550.000-610.000 ton cukup untuk memenuhi konsumsi setidaknya hingga Februari 2010.  Bahkan pada Februari sudah ada dua pabrik gula di Sumatera Utara yang akan melaksanakan giling, sehingga produksi mulai ada titik terang meski tidak banyak. Sementara pada akhir Maret atau April, lima PG di Lampung dan satu PG di Sumsel menyusul giling dengan produksi jauh lebih banyak. Sedangkan PG-PG di Jawa umumnya  melaksanakan panen raya tebu pada Mei. Julian

Proyeksi Kebutuhan Gula

No

Jenis gula

2009

2010

2011

2012

2013

2014

1

GKP*)

2.700.000

2.749.410

2.799.724

2.850.959

2.903.132

2.956.259

2

GKR**)

2.150.000

2.247.500

2.370.375

2.488.894

2.613.338

2.744.005

Jumlah

4.850.000

5.006.910

5.170.099

5.339.853

5.516.470

5.700.264

3

Raw sugar

a. IGR

b. Lainnya***)

2.365.000

300.000

2.483.250

300.000

2.607.413

300.000

2.737.783

0

2.874.672

0

3.018.406

0

Sumber: Ditjen Tanaman Pangan

Keterangan:

*) Pertumbuhan kebutuhan Gula Kristal Putih (GKP) untuk konsumsi langsung diasumsikan setara dengan pertumbuhan penduduk 1,23%/tahun dan peningkatan daya beli 0,6%/tahun

**) Pertumbuhan kebutuhan Gula Kristal Rafinasi (GKR) untuk industri diasumsikan tumbuh 5%/tahun

***) kebutuhan industri lainnya (MSG, suplemen pakan ternak, gula cair, dll) diperkirakan turun dengan meningkatnya produksi tetes tebu/molasess.

Leave a Reply