Tuesday, December 29th, 2009 15:19 by
agroindonesia
Print this pageApa yang bisa diharapkan dari sebuah perusahaan yang membayar gaji karyawan pun sudah sulit? Tutup jelas pilihan paling logis. Namun, ketika perusahaan itu kebetulan milik negara, BUMN, tutup belum tentu pilihan tepat. Selain “aneh” bagaimana sebuah persero bisa sesengsara itu, mungkin ada banyak faktor penyebab yang masih bisa diurai dan diterobos hingga perusahaan pun bangkit kembali. Kasus itu yang terjadi pada PT Inhutani IV dan berhasil diatasi.
Masa keemasan bisnis kehutanan era Orde Baru benar-benar dinikmati BUMN kehutanan. Namun, masa keemasan itu sekejap sirna ketika reformasi memasuki masanya. Perubahan politik dan ekonomi membuat mesin ekonomi perusahaan nyaris ambruk. Tanda-tanda “kematian” makin kasat ketika pembayaran gaji karyawan pun tersendat.
Kondisi getir itu yang dialami PT Inhutani IV, BUMN yang mengelola kawasan hutan di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Barat. Sejak reformasi, bisnis hutan terus meredup yang berujung aksi “perumahan” sejumlah karyawan. Sementara laskar yang tersisa dan masih bertahan harus rela mengalami pembayaran gaji tersendat.
Dalam rangka bertahan, perusahaan melakukan penghematan besar-besaran. Bahkan, kantor [perwakilan] direksi di Jakarta sempat dikontrakkan dengan perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) patungannya. Sementara karyawan di kantor pusat juga rela membuka usaha sambilan berupa usaha fotocopy.
Pemerintah cq Departemen Kehutanan pernah punya niat melikuidasi Inhutani yang merugi atau memerger untuk menghasilkan Inhutani dengan core business berbeda. Seperti diketahui, ada lima Inhutani yang mengelola kawasan hutan di luar Jawa. Untungnya, niat itu tak terlaksana. Seiiring pergantian pemerintah, pembenahan dipilih dan Februari 2007, Inhutani IV pun memiliki jajaran direksi baru yang dipimpin Dr Mustoha Iskandar, mantan direksi Inhutani III, dibantu Direktur Produksi Ir Indro Siswoko dan Direktur Keuangan Drs Hari Rosikin.
Inilah masa pembenahan total. Meski hanya tiga direksi, namun hasilnya luar biasa. “Yang jelas, gaji dan hak-hak karyawan bisa diterima tepat waktu,” ujar seorang karyawan. Tak hanya itu. Kewajiban terhadap negara seperti pembayaran pajak, mampu dilakukan tepat waktu.
Bahkan, lewat kerja keras pimpinan dan karyawan, perbaikan sudah bisa dirasakan tahun itu pula. Kondisi keuangan tahun 2007 mampu mencapai kategori sehat. Tahun 2008 pun Inhutani IV sudah bisa mencicipi keuntungan sesuai dengan aset yang dikelolanya. Kinerja tahun 2009 diperkirakan lebih baik lagi.
Ganti logo dan efisiensi
Perbaikan dan keuntungan yang diraih tiga tahun terakhir memang cermin keberhasilan kepemimpinan baru. Apalagi, kondisi ekonomi global dalam dua tahun terakhir tidak bagus, yang dipicu oleh ambruknya ekonomi AS dan menjelma menjadi krisis global. Komoditi kehutanan salah satu yang terpukul. Tidak heran, perusahaan masih bisa meraih untung adalah luar biasa.
Keuntungan ini bisa terjadi karena Inhutani IV sendiri tidak lagi bergantung pada penjualan log dari hutan alam maupun HTI, tapi pada bisnis jasa kehutanan. Misalnya menyadap getah pinus, merehabilitasi hutan lewat proyek Pembangunan Model Unit Manajemen Hutan Meranti (PMUMHM) di Sumatera Barat dan Rehabilitasi Hutan lewat Gerhan). Bahkan, mereka pernah jadi kontraktor penebangan HTI di Sumatera Selatan.
Awalnya, kesan “serabutan” itu terpaksa dilakukan untuk bertahan hidup. Namun, itu jelas tak bisa diandalkan untuk tumbuh besar. Kondisi itu yang belakangan berhasil diubah Mustoha dan mengembalikan pride karyawan dari kuli kembali menjadi majikan. Peluang usaha lain pun digenjot dan tahun 2010 ini nampaknya menandai era lepas landas bagi Inhutani IV.
Untuk menandai semangat baru, sejak 2009 direksi memutuskan mengubah logo perusahaan. Tujuannya memberi spirit serta motivasi karyawan menuju masa depan yang lebih baik. “Perubahan logo untuk motivasi saja. Kita tunjukkan bahwa kita mampu bekerja dengan baik dan berhasil. Jadi, semangat itulah yang ingin dicapai perusahaan, sementara pergantian logo itu sendiri hanya momen untuk sebuah akhir tujuan, yaitu keberhasilan,” ujar Mustoha kepada Agro Indonesia, pekan lalu.
Sebagai pemimpin tertinggi, Mustoha bisa dibilang sukses memotivasi karyawan. Apalagi, dia mampu memberikan hak-hak karyawan tepat waktu, sehingga semangat dan etos kerja pun kembali terbangun. Hanya saja, doktor pulp dan kertas jebolan Universitas Padjajaran ini tak mau mengungkit kondisi “suram” Inhutani sebelum dirinya masuk. “Tidak elok,” katanya. Yang pasti, katanya, sejak 2007, perusahaan sudah mampu membukukan laba Rp2,9 miliar.
Keuntungan itu juga bisa dipertahankan tahun 2008, yang tercatat Rp2,4 miliar. Dengan kinerja selama dua tahun itu, tak heran keuangan perseroan dinyatakan sehat dengan nilai A1.
Semua itu dinilai Mustoha terjadi berkat jurus efisiensi. Dia mengaku terus terang, keuntungan diraih berkat kemampuan perusahaan mengoptimalkan kontribusi dari perusahaan hutan tanaman patungan. Di samping itu, struktur permodalan juga diperbaiki. Modal tersebut didapat dari hasil pelepasan saham-saham minoritas perseroan di beberapa anak perusahaan yang dianggap merugi serta tidak prospektif. Sebaliknya, perseroan mengakuisisi saham di sejumlah anak perusahaan yang dinilai punya masa depan cerah.
Ia memberi contoh. Tahun 2009, ada 1 unit HPH patungan dan 3 unit HTI patungan yang sahamnya akan didivestasi Inhutani IV. Sementara akuisisi akan dilakukan terhadap 1 unit HPH dan 1 HTI patungan.
Inhutani IV juga siap untuk menggelontorkan dana Rp62,09 miliar untuk memperluas areal HTI karet di salah satu unit HTI-nya. Total investasi yang bakal dikucurkan Inhutani IV dalam lima tahun ke depan mencapai Rp83,56 miliar. Semua itu dulu mungkin hanya “mimpi”. Namun, sekarang mimpi itu menjadi kenyataan berkat kerja keras yang dihadirkan manajemen baru dan dilakukan seluruh karyawannya. AI
Logo baru benar-benar membawa berkah buat PT Inhutani IV. Bahkan, dengan semangat kerja baru, pada tahun 2009 persero ini mampu membangun pabrik gondorukem dan terpentin di Tanah Datar, Sumatera Barat. Peresmian pabrik tersebut langsung dilakukan Menteri Kehutanan MS Kaban, 29 Juni 2009. “Pabrik mini ini sengaja dibangun untuk membuktikan kami tidak main-main atau ngomong doang. Ya sambil belajar mengembangkan industri yang lebih besar lagi,” ujar Direktur Utama Inhutani IV, Dr Ir Mustoha Iskandar kepada Agro Indonesia, pekan lalu.
Keputusan itu lahir dari niat perusahaan memperoleh nilai tambah dari getah pinus yang dimiliki dan tak sekadar menjual barang mentah. Selama ini, Inhutani IV memang sekadar menjual getah pinus yang keuntungannya kecil. Padahal, setelah diproses, keuntungan yang diperoleh meningkat drastis. Itu sebabnya, persero pun berani menanamkan modal membangun pabrik.
Investasi ini juga bagian dari strategi persero untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk tertentu, seperti kayu. “Pembangunan pabrik gondorukem ini bagian dari antisipasi bila produk kehutanan lain mengalami fluktuasi harga. Jadi, jika satu produk harganya anjlok, maka produk lain bisa menutupnya,” jelas Mustoha.
Soal pabrik yang berkategori mini, hal itu disesuaikan dengan pasokan getah pinus yang ada. Oleh karena itu, pengembangan kapasitas pabrik sangat terbuka tergantung ketersediaan pasok getah. Inhutani IV juga siap menyuntik dana Rp2 miliar untuk membangun 8 unit pabrik pengolahan gondorukem dan terpentin.
Inhutani IV mulai memproduksi getah pinus di Tanah Datar sejak 1994 dengan produksi rata-rata 600.000-800.000 kg/tahun. Produksi tersebut diperoleh dari hasil penyadapan tegakan pinus di areal seluas 1.700 hektare (ha). Kawasan hutan di Tanah Datar sendiri sangat potensial untuk pengembangan pinus. Di sana terdapat kawasan hutan seluas sekitar 65.480 ha dari total luas kabupaten sekitar 133.600 ha. Di kawasan hutan tersebut terdapat 21.962 ha hutan lindung yang di dalamnya terdapat tegakan pinus (Pinus Merkusii Sp.) — yang merupakan tanaman hasil reboisasi.
Pengembangan industri gondorukem dan terpentin juga mempertahankan citra produk getah pinus sebagai kegiatan berazaskan keseimbangan manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan. Sebab, dalam kegiatan produksinya, tenaga kerja yang terserap sangat banyak serta tidak mengganggu kelestarian lingkungan. Saat ini, untuk menyadap getah pinus di Kabupaten Tanah Datar menyerap 200 orang pekerja. Nantinya, dengan pengembangan dan perluasan areal penyadapan getah pinus, jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 350 orang.
Sumatera sebagai sentra perkebunan kelapa sawit melahirkan limbah yang tak sedikit. Salah satunya batang kelapa sawit yang terbuang percuma. Namun, dari limbah ini justru PT Inhutani IV bisa menciptakan nilai tambah: kayu lapis (plywood).
Berbeda dengan produk kayu lapis selama ini, yang terbuat dari kayu solid, Inhutani IV memutuskan membuat plywood dari kayu sawit. Bahan baku pun melimpah berupa limbah. Impian ini yang akan direalisasikan mulai 2010. Modal pun tak masalah karena sudah ada yang membiayai. Perusahaan sendiri punya dana Rp19,47 miliar.
Dirut PT Inhutani IV Mustoha Iskandar mengaku sudah berhasil menemukan teknologi mumpuni untuk mengolah kayu sawit sebagai bahan baku kayu lapis. Kayu sawit bukan saja bisa dikupas untuk menjadi lapisan inti (core), tapi juga menjadi lapisan muka dan belakang (face and back). Yang menarik, kayu lapis sawit ala Inhutani IV juga lulus uji dengan standar Jepang dan Uni Eropa.
Yang jelas, secara bisnis teknologi tersebut menguntungkan. Limbah kayu sawit hasil peremajaan yang selama ini dibiarkan membusuk bisa diproses menjadi produk bernilai jual. Padahal, banyak industri kayu lapis lainnya justru mengeluh kekurangan bahan baku.
Untuk kontinyuitas pasok bahan baku, Inhutani IV sudah meneken kerjasama dengan BUMN perkebunan (PTPN V). Dari satu perusahaan yang berlokasi di Sumatera saja, volumenya diprediksi mencapai 3 juta m3. “Jika ditambah dengan potensi yang ada di lahan milik masyarakat dan swasta, maka bisa melebihi volume jatah tebangan kayu secara nasional,” kata Mustoha.
Selama ini, kayu sawit hasil peremajaan memang hanya dianggap sampah. Kebanyakan disuntik dengan urea agar cepat mati dan membusuk. Batang yang busuk pun sebenarnya rentan sebagai sarang hama penyakit. Itu sebabnya, tak jarang banyak pelaku usaha perkebunan yang nekad membakarnya. Buat lingkungan, baik dibiarkan membusuk atau dibakar, dua-duanya punya dampak buruk, melepas karbon ke udara.
Langkah Inhutani IV memanfaatkan limbah kayu sawit selayaknya bisa didukung regulasi pemerintah. Misalnya dengan membebaskan PPn untuk produk kayu lapis sawit atau subsidi silang antara kayu lapis yang menggunakan kayu hutan alam dengan kayu lapis dari kayu sawit. “Kalau pemerintah bisa mendukung, maka semakin banyak yang akan tertarik untuk memanfaatkan limbah kayu sawit,” kata Mustoha.
Ditunggu masyarakat Indonesia, peluncururan kayu lapis dari batang sawit ke pasar.
Mohon jangan retorika dan kajian tesis dari Direktur Produksi Inhutani IV yang lagi ambil S3
Kami butuh gondorukem, grade WW.
Terima kasih..