Tuesday, December 29th, 2009 15:31 by
agroindonesia
Print this page
Direksi PT Inhutani IV (ki-ka) Hari Rosikin (Dirkeu), Mustoha Iskandar (Dirut) dan Indro Siswoko (Dirprod)
“Minder, grogi dan tak percaya ketika kami memasuki ruangan untuk mendengar pengumuman siapa yang bakal menjadi pemenang. Maklum saja, perusahaan kami masih kecil. Bahkan ibarat perusahaan yang baru “sembuh” dari sakit. Sementara pesaingnya perusahaan-perusahaan besar ternama.”
Komentar spontan itu dikemukakan Dirut PT Inhutani IV, Dr Mustoha Iskandar kepada Agro Indonesia yang menyapanya sebelum memasuki Flores Ball, Hotel Borobudur, tempat digelarnya acara Anugerah Business Review 2009.
Begitu panitia menyebut nama PT Inhutani IV masuk peringkat III sebagai Korporasi Non Tbk Terbaik 2009, rasa minder, grogi dan tak percaya tadi sirna menjadi kebanggaan. Wajah Mustoha berseri dan bangga begitu Agro Indonesia mendekat untuk memberi ucapan selamat.
Tak lama kemudian, Agro Indonesia mendekat kembali untuk memberi selamat kedua kalinya begitu mendengar Mustoha juga dinobatkan sebagai CEO (Chief Executife Officer) Terbaik 2009 bersama PT TB Bukit Asam (Sukrisno), dan PT Arwana Citramulia Tbk (Tandean Rustandy), dan PT BFI Finance Indonesia Tbk (Francis Lay Sioe Ho), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (Somyot Ruchirawat), dan PT Inhutani IV (Mustoha Iskandar).
Cukup? Belum, ternyata. Tak lama, panitia memanggil namanya lagi. Kali ini Mustoha Iskandar, Direktur Utama PT Inhutani IV, dinyatakan sebagai The Best Potential CEO 2009. “Saya benar-benar haru sekaligus bangga. Terima kasih teman-teman Inhutani IV yang dengan susah payah mau bekerjasama untuk membesarkan dan menyehatkan Inhutani IV,” ujar Mustoha haru.
Tiga penghargaan
PT Inhutani IV masuk dalam daftar 100 perusahaan yang dinominasikan sebagai perusahaan terbaik versi majalah ekonomi Business Review setelah mencatat kinerja mengesankan dalam tiga tahun terakhir. Daftar nominasi disusun dari 400 lebih perusahaan yang dinilai. Dan Inhutani IV menjadi satu-satunya perusahaan di sektor kehutanan yang masuk dalam daftar tersebut.
Penilaian perusahaan-perusahaan yang masuk nominasi berdasarkan kepada kinerja laba ekonomi tahun 2008 dan pertumbuhan tahun 2006-2008. Penilaian dilakukan berdasarkan laporan keuangan yang sudah dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia untuk perusahaan yang tercatat di bursa dan laporan keuangan yang sudah dipublikasikan melalui internet. Pesertanya dijaring dari perusahaan emiten (perusahaan go public), Non go public serta BUMN di Indonesia. Dari 18 finalis, dewan juri yang diketuai Prof. Dr Sidharta Utama dengan 30 anggota, akhirnya pemilih pemenangnya menjadi 9 katagori. Dari perusahaan yang tidak go public inilah Inhutani IV menyabet 3 penghargaan sekaligus.
Mustoha pertama naik panggung untuk menerima penghargaan sebagai perusahaan non go public terbaik tahun 2009. Lalu dipanggil naik panggung kembali untuk menerima sertifikat sebagai Direktur Utama Terbaik peringkat lima (5). Terakhir, dan ini jadi catatan emas Mustoha, dia dipanggil kembali untuk menerima anugerah The Best CEO Potential 2009. Anugerah ini sekaligus membuktikan dirinya sebagai CEO dengan kombinasi potensi pikiran, hati dan jiwa yang mampu menelurkan inovasi brilian untuk menjawab tantangan perubahan yang dihadapi perusahaan.
Mustoha sendiri mengaku tidak pernah mimpi jerih payahnya selama tiga tahun di Inhutani IV mendapat perhatian dari tim penjaringan dari majalah ekonomi ternama itu. “Saya benar-benar tidak tahu dari mana mereka menjaringnya. Tapi suatu saat saya pernah diminta hadir di sebuah tempat untuk diwawancarai. Saya jawab semua pertanyaan dari panelis. Sesudah itu, saya tak pernah bermimpi mendapatkan penghargaan,” papar alumnus Program Doktor Manajemen Bisnis Unpad ini.
Penghargaan ini memang beralasan. Maklum, dalam tiga tahun kepemimpinannya, kinerja keuangan Inhutani IV berubah total. Jika tahun 2006 keuangan perseroan masih minus Rp13,19 miliar, namun sejak pria kelahiran Cirebon tahun 1960 ini masuk Februari 2007, pada akhir 2007 perseroan mampu membukukan laba Rp2,9 miliar. Keuntungan itu dipertahankan tahun 2008 dengan laba Rp2,4 miliar. Kinerja keuangan perseroan pun dinyatakan sehat dua tahun berturut dengan nilai A1.
Lima tahap
Bagaimana Mustoha berhasil ‘menyulap’ perusahaan yang minus menjadi untung? Dia mengaku ada lima tahap yang dijalankan. Tahap awal, manajemen fokus pada bisnis produksi getah pinus dan industri pengolahannya di Sumbar dan Sumut. Produksi getah pinus menjadi bisnis inti perusahaan dengan pertimbangan di saat perusahaan plat merah ini tidak mempunyai areal konsesi pengusahaan hutan definitif [baca HPH]. Bisnis ini juga mampu membantu keberlangsungan usaha (going concern) perusahaan.
Kegiatan pengelolaan hutan pinus dikelola dengan memperhatikan fungsi lindung. Sementara itu dalam hal industri pengolahan getah pinus akan dilakukan secara profesional, sehingga produksi yang dihasilkan merupakan kualitas terbaik.
“Tahap kedua, perusahaan tetap mengembangkan HTI karet yang telah dirintis pembangunannya dan nantinya akan menjadi salah satu core business andalan perusahaan. Peluang pasaran industri karet internasional dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan,” paparnya.
Tahap ketiga, usaha jasa bidang kehutanan. Sebagai BUMN kehutanan, Inhutani IV tetap berupaya menjadi rekanan mampu Departemen Kehutanan dengan ikut berpartisipasi dalam mensukseskan program pembangunan kehutanan nasional seperti gerakan rehabilitasi nasional (Gerhan), pembangunan model unit manajemen hutan meranti (PMUMHM). Sementara sarana prasarana tehnologi GIS, GPS dan SDM handal yang dimiliki Inhutani IV akan dioptimalkan dalam rangka usaha jasa perencanaan dan penafsiran citra landsat.
Tahap keempat, ujar Mustoha, usaha jasa agrobisnis (trading) dengan pertimbangan bisnis ini relatif cepat memberikan kontribusi profit kepada perusahaan. Apalagi, potensi produk agrobisnis (rotan, kayu manis, CPO dll) di sekitar wilayah kerja Inhutani IV banyak tersedia dan memberi peluang inovasi, motivasi untuk melaksanakan diversifikasi usaha dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan.
Tahap kelima adalah pengelolaan hutan alam. Memang, saat ini Inhutani IV tidak punya areal konsesi pengelolaan hutan. Itu sebabnya, demi menjamin keberlangsungan usaha, perusahaan sudah mulai memproses permohonan areal IUPHHK seluas 100.000 ha kepada instansi terkait – yang diharapkan proses perizinan selesai pada tahun 2009. AI
Bagaimana perusahaan mampu membayar utang bank, membuat surplus perusahaan dan pada saat yang sama memotivasi karyawan dengan menaikkan gajinya 15%? Reengineering. Itulah konsep yang bisnis yang diterapkan manajemen PT Inhutani IV, sehingga Mustoha Iskandar sebagai nakhoda baru mampu mengubah kondisi rugi Rp13 miliar pada 2006 menjadi untung berturut-turut sejak memegang kendali.
“Kami bersama teman-teman di Inhutani IV mematok target penghasilan tahun 2008 meningkat sebesar 30% dari penghasilan 2007 kurang lebih Rp3 miliar,” imbuh doktor jebolan Unpad, Bandung itu.
Dalam konteks kebangkitan usaha, Inhutani IV telah menetapkan tujuan jangka pendek, menengah dan jangka panjang yang tercermin dalam strategic business plan perusahaan antara lain untuk mendapatkan areal kerja definitif seluas 100.000 ha pada tahun 2009. Di samping itu, peningkatan produksi getah pinus sebesar 25% per tahun serta membangun pabrik pengolahan getah pinus pada tahun 2010 dengan kapasitas produksi terpasang 5.000 metrik ton/tahun. Di luar itu juga akan membangun HTI karet atau pertukangan seluas 4.000 ha, mewujudkan usaha jasa perdagangan di bidang kehutanan dan agro bisnis.
Target lain adalah menciptakan diversifikasi usaha di bidang agro bisnis, menciptakan budaya korporasi yang mendukung kemandirian secara terus menerus dengan menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance. Dengan demikian akan memiliki kinerja yang superior di bidang keuangan, produksi dan pemasaran. Jika semua rencana itu berjalan lancar akan membentuk sumber daya manusia (SDM) perusahaan yang bermoral tinggi, profesional dan handal berlandaskan prinsip-prinsip good corporate governance.
Kebangkitan BUMN
Menurut Mustoha, skenario kebangkitan BUMN lingkup kehutanan ini butuh dukungan investasi total sekitar Rp176,26 miliar. Rinciannya, industri pengolahan getah pinus sebesar Rp38,78 miliar, pembangunan HTI karet Rp123,34 miliar. Industri pengolahan kayu sawit membutuhkan Rp14,14 miliar. Sedangkan pelaksanakan program pemerintah dalam proyek Gerhan membutuhkan modal kerja Rp26,13 miliar. Dari usaha ini diproyeksikan akan menciptakan nilai tambah (value creation) sebesar Rp586,47 miliar dan internal rate of return (IRR) sebesar 17, 32% sampai dengan tahun 2017.
Dalam pelaksanaan strategi jangka pendek (1-12 bulan), Inhutani IV akan berkonsentrasi memperoleh pendanaan yang diperlukan, dan mempersiapkan internal resources (HR functional value change). Selain itu melakukan pengubahan portofolio bisnis pada 13 perusahaan HTI patungan. “Untuk pembeayaan ini, Inhutani IV juga mengupayakan perolehan pendanaan dari pihak ketiga dalam bentuk pinjaman,” ujar Mustoha.
Adapun pelaksanaan strategi periode jangka menengah (1-5 tahun), persero akan berkonsentrasi menjalankan proses radical change yang efektif, efisien dan profesional pada seluruh operational value chain, melakukan pemetaan pasar lokal dan internasional dalam menunjang marketing value chain, selain juga mempertimbangkan diversifikasi horizontal (pinus, HTI karet, kelapa sawit, dan lain-lain) dalam pengembangan strategic value chain-nya.
Sementara itu, dalam periode jangka panjang (5-10 tahun), PT Inhutani IV akan berkonsentrasi secara efektif, efisien dan professional. Fokus pada seluruh operasional value chain adalah ketiga core business-nya: industri pengolahan getah pinus (gondorukem), industri pengolahan kayu sawit, pembangunan HTI karet, maupun rehabilitasi hutan & lahan (Gerhan)
Dalam diagram berikut, terlihat bahwa output dari business plan ini akan menjadikan PT Inhutani IV yang saat ini memiliki nilai sebesar Rp101.022 miliar akan memiliki future value sebesar Rp607,49 miliar, dengan value creation dari implementasi business plan mencapai Rp506,47 miliar dalam kurun waktu sepuluh (10) tahun.
Selamat untuk Dr.Ir.Mustoha Iskandar.MDM membawa PT.Inhutani IV melaju siap mengelola kawasan hutan Register 40 dan manufacture plywood. Kapan dapat terealisasi, tolong saya di kabari.
(Redika Hanansyah, DR,Ir,MM, Semarang)
Terima kasih atas responsenya. Untuk register 40 Inhutani IV pertengahan tahun ini sudah masuk me nunggu eksekusi lapangan, begitu juga dg manufacture plywood akan dimulai pembangunan pabriknya yg baru pada pertengahan tahun ini juga.
Selamat Kepada Dr Ir Mustoha Iskandar, secara person dan pihak Inhutani IV secara corporasi . Hebat betul…congrat untuk prosesi perubahan dari jalan di tempat( merugi ) ke proses berlari ( untung )
Maju terus dan go,go,go