Tuesday - January 26th, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Ramai-ramai Investasi Gula
Post Info Tuesday, January 26th, 2010 12:30 by agroindonesia Print Print this page

Program revitalisasi industri gula berhasil mengundang minat 32 investor, BUMN maupun swasta, untuk menanamkan modalnya di bisnis gula dari hulu ke hilir dengan total investasi Rp24,2 triliun. Dari jumlah itu, akan ada pengembangan kebun tebu baru seluas 187.000 hektare (ha), atau di bawah luas yang ditargetkan Kementerian Kehutanan seluas 400.000 ha. Akankah skenario ini terealisasi?

Di tengah amukan harga gula internasional, yang mencatat rekor harga tertinggi dalam 29 tahun terakhir, pemerintah berhasil mengundang minat puluhan investor, BUMN maupun swasta, untuk membangun industri gula yang pernah mencatatkan negeri ini sebagai eksportir gula terbesar kedua di dunia. Apalagi, Kementerian Kehutanan sudah menyanggupi areal seluas 400.000 ha, terutama di luar Jawa.

Bahkan, menjelang pengumuman program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II, Kementerian Industri mengungkapkan sudah ada 32 investor yang tertarik membangun industri gula dari hulu ke hilir dengan total investasi Rp24,2 triliun. Jumlah ini meningkat dari semula 11 perusahaan. “Calon investor itu berasal dari BUMN maupun swasta dengan minat beragam, mulai dari membangun pabrik baru, merevitalisasi pabrik lama, membangun kebun tebu berikut pabriknya atau sekadar membangun kebun tebu,” ungkap Direktur Makanan dan Minuman, Ditjen Industri Agro dan Kimia, Kementerian Perindustrian, Faiz Achmad.

Sebelumnya, Dirjen Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi mengaku 11 investor siap membangun 187.000 ha kebun tebu dan membangun pabrik gula dengan kapasitas 76.000 ton tebu/hari (TCD)

Yang menarik, pembangunan kebun tebu itu juga terjadi di Jawa. Setidaknya, empat perusahaan menyatakan akan membangun kebun tebu di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dua perusahaan mengaku sudah punya cadangan areal seluas 31.000 ha, yakni di Mojokerto dan Rembang. Sementara dua lagi masih akan mencari areal seluas 25.500 ha, yakni 21.000 ha di Tuban dan 4.500 ha di Malang dan Blitar.

Revitalisasi tak hanya menarik pemain gula tradisional. Penguasa hutan Jawa, Perum Perhutani, juga mulai tergerak masuk. Apalagi, secara lahan, BUMN Kehutanan ini boleh dibilang sangat kaya, menguasai 2,4 juta ha hutan Jawa. Menurut Dirut Perum Perhutani Upik Rosalina Wasrin, Perhutani sudah memetakan areal sekitar 38.000 ha untuk tanaman tebu. “Kita sudah identifikasi lahan di 4 titik, yakni Indramayu, Pati, Malang, dan Banyuwangi dengan total luas 38.000 ha,” kata Upik.

Pemain gula rafinasi juga tak mau ketinggalan. Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), Yamin Rahman, setidaknya ada tiga anggota AGRI mengaku akan berinvestasi, yakni di Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Pulau Jawa. “Namun, bidang apa yang akan mereka geluti, apakah di lahan perkebunan, pendirian pabrik gula raw sugar atau gula putih, masih belum ditentukan,” paparnya.

Jika semua ini terlaksana, maka tak ada alasan gula konsumsi impor. Apalagi, saat ini saja produksi gula kristal putih (GKP) sudah dikategorikan swasembada karena 90% produksi gula domestik sudah mencukupi kebutuhan nasional. Impor 2009 terjadi karena ada defisit untuk menutup konsumsi Maret sampai Mei 2010 — saat musim giling tiba.

Dengan kata lain, investasi baru ini akan lebih banyak untuk menutup “lubang” gula mentah (raw sugar) sebagai bahan baku gula kristal rafinasi (GKR) untuk industri yang masih impor. Tahun lalu saja impor mencapai 2,66 juta ton. Dengan revitalisasi ini, semoga impor raw sugar pun makin menyusut. AI

Leave a Reply