Program 100 hari pertama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono yang berakhir pada tanggal 28 Januari lalu, disambut dengan aksi protes di mana-mana.
Sejumlah elemen masyarakat, mulai dari kalangan petani, buruh, profesional hingga kalangan mahasiswa, pada hari itu menggelar aksi protes di pelbagai kota di negeri ini.
Secara umum, aksi protes itu merupakan ungkapan ketidakpuasan masyarakat terhadap program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono, baik di bidang ekonomi maupun politik.
Masyarakat menilai pemerintah gagal menyelesaikan target-target yang ditetapkan dalam program 100 hari dengan masih banyaknya permasalahan yang muncul di lapangan.
Bentuk ketidakpuasan juga tercermin dari survei yang dilakukan LSI. Menurut hasil survei lembaga tersebut, kepuasan masyarakat terhadap SBY mengalami penurunan dari 85% pada pertengahan tahun lalu, menjadi 70% pada awal tahun ini.
Pemerintah sendiri mengaku kegiatan-kegiatan yang tercantum dalam program 100 hari pertama SBY-Boediono telah rampung 100 %. Bahkan pengumuman telah rampungnya seluruh program 100 hari itu diumumkan oleh beberapa menteri beberapa hari sebelum berakhirnya program 100 hari.
Pemerintah memang boleh saja mengatakan kalau program tersebut sudah rampung dan sesuai target, namun fakta di lapangan membuktikan msih adanya sejumlah program yang gagal atau belum dirampungkan.
Misalnya saja di bidang ekonomi. Sejumlah peraturan pemerintah, ang awalnya digembar-gemborkan oleh sejumlah menteri akan dikeluarkan pada masa 100 hari pertama, ternyata tidak kesampaian.
Mungkin mereka yang bergerak di sektor kehutanan akan tahu program apa saja di sektor kehutanan yang meleset dar target yang ditetapkan pemerintah. Begitu juga di bidang pertanian, sejumlah kebijakan yang tak terealisasi selama 100 hari pertama pemerintah.
Memang, sangat sulit untuk mengharapkan terjadinya perubahan besar dalam masa 100 hari. Hal ini pun sudah dilontarkan Presiden SBY beberapa waktu lalu kalau pemerintah tidak akan mungkin bisa mensejahterakan rakyatnya dalam tempo 100 hari.
Namun, pemerintah juga harus tahu kalau apa yang dilakukan pemerintah dalam 100 hari pertama bisa menjadi pijakan bagi kegiatan-kegiatan selanjutnya.
Jika pada program 100 hari pertama saja ada sejumlah target yang tidak tercapai, maka kondisi itu akan berdampak juga pada usaha pemerintah di periode lima tahun ini.
Hal inilah yang dikhawatirkan masyarakat sehingga mereka mendesak pemerintah untuk bekerja lebih giat lagi dengan menyelesaikan masalah-masalah yang masih mengganjal saat ini, baik di bidang politik, ekonomi maupun sosial.
Masyarakat telah menyampaikan sikapnya dan bola kini berada di tangan pemerintah, apakah sikap masyarakat itu bisa direalisasikan atau malah sebaliknya.
Yang pasti, apa yang akan dilakukan pemerintah akan mendapatkan imbalan dari masyarakat. kita tungga saja imbalan apa lagi yang akan diberikan masyarakat nanti.