Monday, February 22nd, 2010 12:30 by
agroindonesia
Print this pageOleh: Hoesodo Sudarisman
Hubungan antara lahan dengan masyarakat di mana pun sejak dahulu tidak dapat dipisahkan. Di samping sebagai sumber penghidupan, lahan juga berfungsi sebagai tempat manusia hidup. Nyaman dan tidaknya dia hidup tergantung lingkungan di mana dia hidup.
Namun, keberadaan lahan sebagai sumber penghidupan kerap menimbulkan konflik kepentingan, khususnya dalam membuat skala prioritas antara kepentingan jangka pendek dan kepentingan jangka panjang. Konflik kepentingan menjadi lebih tajam dan kompleks apabila daerah itu padat penduduknya dan sebagian besar sumber kehidupan masih bertumpu pada lahan. Dalam kehidupan sehari-hari, desakan kepentingan jangka pendek acap kali mengorbankan kepentingan jangka panjang.
Luas daratan Pulau Jawa kurang lebih 132.186 km2 atau kira-kira 13,2 juta ha, sementara jumlah penduduk yang menempatinya kurang lebih 120 juta jiwa,. Dengan demikian, rata-rata setiap hektare daratan di Pulau Jawa ditempati hampir 10 jiwa. Ini jelas jumlah yang sangat tinggi dikaitkan dengan daya dukungnya. Dalam tingkat kepadatan yang demikian, maka sangat jelas penduduk Pulau Jawa tidak mungkin lagi menyandarkan sumber kehidupan utamanya dari usaha-usaha yang berbasis lahan, seperti pertanian, tetapi harus bersumber dari sektor-sektor non lahan seperti industri atau jasa.
Namun dari aspek angkatan kerja diperoleh suatu kenyataan mengagetkan. Kurang lebih 60% angkatan kerja nasional berada di Jawa, yang sebenarnya hanya menempati 6% dari daratan Indonesia. Di pulau ini, jumlah tenaga kerja sektor pertanian masih cukup dominan, yakni mencapai 44% dari total angkatan kerja yang ada. Memang, akibat tumbuhnya industri pada tahun 1980-an sampai 1990-an, tenaga kerja sektor industri menjelang tahun 2000-an meningkat kira-kira 5,5%.
Namun, kenaikan itu tidak banyak mengurangi tenaga kerja sektor pertanian yang hanya turun kira-kira 3%. Akibatnya, sektor pertanian — yang dari sisi ekonomi regional hanya berperan 15% dari PDRB — digeluti oleh hampir 44% angkatan kerja yang ada. Terlalu padatnya jumlah angkatan kerja sektor pertanian tersebut mengakibatkan produktivitas rata-rata tenaga kerja sektor ini sangat rendah. Sejalan dengan itu, upah tenaga kerja sektor inipun menjadi rendah. Akibatnya, kemiskinan pun terlihat di desa-desa pertanian. Sektor pertanian benar-benar menanggung beban tenaga kerja yang sangat berat.
Dari gambaran di atas jelas kiranya bahwa akibat beban tenaga kerja yang sangat berat tersebut, tekanan terhadap lahan pun menjadi tak terhindarkan. Di banyak tempat terlihat pengolahan lahan yang berlebihan, bahkan lahan di pucuk gunung pun diolah secara intensif. Akibatnya, produktivitas rendah, tapi dampak lingkungannya besar.
Pulau Honshu
Sementara itu pada tahun 2000-an ini pertumbuhan investasi menunjukkan kondisi yang pincang. Investasi baru cenderung berkembang di Jawa. Ini dapat dimaklumi karena kondisi infrastruktur dan kondisi sosial di Jawa jauh lebih memungkinkan berkembangnya investasi. Interaksi antara akumulasi modal dan tenaga kerja sebagai faktor produksi yang penting inilah yang akan mendorong semakin cepatnya perkembangan pemukiman di Pulau Jawa. Karena dorongan keadaan seperti inilah banyak ahli meramalkan Pulau Jawa akan berkembang menjadi Mega city.
Pemusatan industri dan pemukiman di Jawa ini jelas akan membutuhkan air yang makin besar, serta memerlukan penambat polusi yang efektif — yang kalau tidak ada langkah serius akan mengakibatkan krisis air dan rusaknya lingkungan.
Dalam pada itu, dilihat dari fisiografi lapangannya, Pulau Jawa sendiri merupakan pulau yang relatif kecil dengan deretan gunung di tengahnya. Kondisi fisiografi yang demikian mengakibatkan sempitnya ukuran DAS sebagai penampung jatuhnya hujan, panjang sungai yang umumnya pendek, serta topografi sungai relatif curam. Dengan kondisi bentang lahan demikian, secara alami memang memiliki kemampuan menyimpan air rendah. Diperkirakan, saat ini hanya 30% air hujan yang jatuh termanfaatkan untuk kehidupan manusia, sedangkan 70% sisanya terbuang lari ke laut, yang kadang-kadang berupa banjir dengan membawa material erosi.
Kondisi itu diperparah dengan kenyataan besarnya tekanan penduduk pada lahan di Jawa, baik karena man-land ratio yang sangat rendah maupun beban tenaga kerja di sektor pertanian yang terlalu berat, sebagaimana disampaikan di atas. Pemanfaatan lahan telah jauh melampaui kemampuannya, sehingga kemampuan lahan menyimpan air menjadi semakin menurun.
Pertanyaannya, apakah penutupan lahan dengan hutan dapat menyelesaikan masalah banjir dan pemanfaatan air yang optimal? Melihat kondisi fisiografi Pulau Jawa yang di tengahnya didominasi gunung seperti dijelaskan di atas menandaskan, hal itu tidak dapat diatasi hanya dengan penutupan hutan saja. Secara alami kita mengenal adanya situ, rowo atau bentuk semacamnya sebagai retensi air hujan pada daerah tengah DAS.
Hutan memang diperlukan untuk mengurangi aliran permukaan, sehingga tidak ekstrem. Tetapi tingginya curah hujan pada daerah sempit dan relatif curam serta pengolahan yang berlebihan mengakibatkan lahan cepat jenuh air dan aliran permukaan yang besar tak terhindarkan. Di samping itu, persoalannya bukan semata masalah teknik biofisik, justru pokok masalahnya ada di bidang social, yaitu masalah lapangan kerja sebagai sumber penghidupan masyarakat.
Kondisi fisiografi Pulau Jawa sendiri mirip dengan kondisi Pulau Honshu di Jepang, yaitu pulau yang di tengahnya ada gunung sehingga DAS-nya sempit dan sungainya curam. Yang membedakan kondisi Honshu dan Jawa adalah sebagian besar penduduk Pulau Honshu tidak menyandarkan sumber kehidupannya dari lahan, tetapi di sektor industri, sehingga 67% daratannya tertutup hutan. Pada hulu-hulu sungai banyak dibangun dam-dam kecil, baik berfungsi sebagai retensi air, maupun sebagai pengendali erosi dan longsoran (sabo dam). Dengan begitu, erosi kecil, air dapat dikelola secara optimal dan banjir terkendali.
Belajar dari pengalaman Jepang, maka untuk dapat dilakukan konservasi tanah dan air di Pulau Jawa secara efektif, sebaiknya dibangun dam-dam kecil di setiap anak sungai. Dengan demikian, pengelolaan air dapat dilakukan lebih baik, serta meningkatkan penutupan lahan dengan hutan sekurang-kurangnya 70% agar suface run off dapat dikurangi.
Permasalahannya, mau ditampung di mana 44% angkatan kerja yang ada di sektor pertanian saat ini? Nampaknya masalah tersebut tidak dapat diatasi secara sektoral, tetapi harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu, yaitu:
Pertama, sepanjang masih banyak penduduk di Pulau Jawa yang menyandarkan sumber kehidupannya dari lahan, maka man-land ratio harus dinaikkan. Ini berarti pengurangan penduduk di Jawa harus dilakukan. Untuk itu, program transmigrasi perlu kembali digalakkan.
Kedua, mempercepat kebijakan peralihan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. Untuk ini, pengembangan industri kecil dan home industry di pedesaan perlu dipercepat pelaksanaannya.
Ketiga, intensifikasi pengelolaan lahan pertanian dan lahan hutan harus dilakukan, sehingga dapat menyerap tenaga kerja yang lebih besar. Dalam intensifikasi pengelolaan hutan dapat dikembangkan model agroforestry melalui pemanfaatan ruang tumbuh yang optimal berbentuk hutan yang strata tajuknya bertingkat, sehingga secara ekonomi menguntungkan, menampung tenaga kerja yang lebih banyak serta baik untuk lingkungan. Para ahli dan penelitilah yang harus menjawab tantangan tersebut.
Keempat, rehabilitasi hutan dan lahan harus berbasis bisnis agar dapat menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan usaha baru di pedesaan, sehingga dapat memutar roda ekonomi masyarakat pedesaan. Untuk itu, perlu perencanaan komoditas spesifik sebagai unggulan tiap daerah atau lokasi, sehingga gerakan penanaman yang dilakukan dapat lebih terarah.
Terakhir, tentu saja diperlukan usaha-usaha pendukungnya, seperti pendidikan dan pelatihan bagi angkatan kerja baru secara memadai, pelaksanaan reformasi lahan secara obyektif rasional dan sebagainya. Penulis adalah pensiunan PNS Departemen Kehutanan
susahnya cari duit di indonesia, memaksa banyak dari kita menjadi tenaga asing , bahkan ada yang sampai bunuh diri sepulang dari merantau, karena mereka harus membayar hutang dari biaya yang mereka gunakan berangkat keluar negri, sebuah ironis, ada yang bunuh diri karena disiksa, ada yang bunuh diri karena tak sanggup menerima beban sepulang dari luar negri, tapi dari sekian itu, masih banyak yang sukses jadi TKI. terima kasih tki, pahlawan pejuang devisa