Monday - February 22nd, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Perhutani Investasi Industri Pengolahan
Post Info Monday, February 22nd, 2010 12:00 by agroindonesia Print Print this page

Transformasi yang dijalankan mendorong Perhutani untuk menanamkan investasi pada industri pengolahan. Sementara untuk meningkatkan pendapatan, Perhutani meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pemasaran hasil hutan dengan masuk dalam perdagangan secara online.

Direktur Pemasaran dan Industri Perhutani Ahmad Fahrodji beberapa waktu lalu mengungkapkan, Perhutani sudah menggelontorkan Rp60 miliar untuk membangun pabrik kayu lapis. Pabrik yang dibangun di Gresik, Jatim dirancang bisa mengolah sedikitnya 40.000 m3 kayu setiap tahunnya dan diperkirakan bisa segera beroperasi dalam waktu dekat.

Nantinya, pabrik tersebut akan memanfaatkan bahan baku kayu sengon sebagai lapisan dalam (core), sementara untuk lapisan muka dan belakang (face-back) akan mengunakan kayu unggulan Perhutani, Jati.

Selain investasi pabrik baru, Perhutani juga mengoptimalkan industri kayu yang sudah berjalan. Salah satunya dengan melakukan sertifikasi. Saat ini Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Kayu Cepu, telah memperoleh lacak balak (Chain of Custody/CoC) dan akan disusul oleh KBM lainnya.

Dengan sertifikat di tangan, akan memberikan peluang bagi produk kayu Perhutani, seperti flooring dan garden furniture, untuk di ekspor dengan volume yang lebih besar.

Perhutani berharap bisa meningkatkan harga jual dari harga pasar yang berlaku saat ini. Selain peningkatan pangsa pasar, menurut Fahrodji, sertifikasi juga akan meningkatkan buyer (pembeli). “Kalau selama ini kita fokuskan ke Italia, Jerman, Spanyol, Korea, dan Jepang, maka dengan perolehan sertifikat ini diharapkan pembeli dari negara Eropa lainnya berminat,” kata dia.

Industrialisasi juga dilakukan untuk hasil hutan non kayu. Gondorukem dan terpentin yang selama ini sudah menjadi andalan pun makin digenjot. Menurut Fahrodji, Perhutani akan membangun pabrik pengolahan derivatif gondorukem dan terpentin senilai Rp26 miliar. Investasi ini dilakukan untuk meningkatkan pendapatan perseroan dari produk nonkayu tersebut hingga tiga kali lipat.

Dari investasi itu perseroan diperkirakan bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp800 miliar/tahun lewat penjualan produk derivatif gondorukem dan terpentin. “Dengan dibangunnya pabrik pengolahan derivatif gondorukem dan terpentin, diharapkan nilai penjualannya bisa melonjak karena harganya hingga tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan produk mentah,” kata dia.

Pabrik itu sendiri rencananya akan dibangun di Jawa Barat dan diharapkan selesai pembangunan konstruksinya pada pertengahan 2010. Dengan demikian, kata Fahrodji, pabrik sudah bisa beroperasi penuh pada 2011.

Beberapa produk derivatif yang akan dikembangkan diantaranya produk bahan baku cat, bahan baku tinta, dan bahan baku makanan. Nantinya, pabrik tersebut akan menjadi pabrik pengolahan pertama di Indonesia yang mampu mengolah gondorukem dan terpentin hingga menjadi bahan baku makanan.

Pasar Online

Untuk meningkatkan pendapatan, Perhutani juga memeningkatkan transparansi pemasaran kayu bulat. Caranya, dengan masuk dalam perdagangan secara on line bekerjasama dengan penyelenggaran lelang online, i-Pasar.

Menurut Fahrodji, penjualan lelang kayu bulat melalui kantor piutang kekayaan negara dan lelang (KPKNL) hasilnya kurang maksimal. Hal ini disebabkan pencapaian harga lelang dikendalikan oleh peserta lelang. Sehingga harga kayu selalu di bawah limit. “Dengan penjualan secara on line, maka didapat harga yang transparan yang menguntungkan pelanggan dan Perhutani,” kata Fahrodji. AI

Leave a Reply