Monday, February 22nd, 2010 12:03 by
agroindonesia
Print this pageSempat porak-poranda akibat penjarahan, hutan yang dikelola Perhutani kini terus dibenahi. Target untuk menghijaukan seluruh kawasan hutan pada tahun ini pun diproyeksi tak bakal meleset.
Euforia reformasi memang sempat membuat kawasan hutan Perhutani berdarah-darah. Banyak oknum masyarakat yang dimodali cukong, melakukan penjarahan dan perambahan hutan Perhutani.
Namun, kondisi tersebut tak disesali secara berlarut-larut. Perhutani justru melakukan sejumlah langkah strategis untuk mengembalikan hutan kembali ijo royo-royo. Di sisi lain, keterlibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan hutan juga semakin ditingkatkan. Hal itu untuk meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap hutan sehingga mencegah terulangnya penjarahan.
Mengusung Perhutani Hijau 2010, perseroan menargetkan seluruh hutan Perhutani tertanami. “Lahan kosong yang tersisa tinggal 50.000 hektare (ha). Saya optimis seluruh lahan tersebut bisa ditanami tahun ini,” kata Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Hutan Perum Perhutani, Haryono Kusumo. Haryono juga menambahkan, pihaknya menggunakan bibit unggul dalam melakukan penanaman.
Asal tahu saja, di awal tahun 2006 luas tanah kosong di Perhutani masih sekitar 400.000 ha. Tiga tahun belakangan Perhutani melakukan penamanan besar-besaran. Bahkan di tahun 2007, Perhutani pernah menanam hingga 200.000 ha dalam satu tahun.
Haryono menegaskan, untuk memastikan Perhutani Hijau 2010 tercapai, pihaknya tidak mentolerir terjadinya kegagalan tanam. “Kami menerapkan kebijakan yang ketat terkait pengelolaan hutan. Kami menerapkankan reward and punishment dalam penanaman dengan persentase tumbuh tanaman 90%. “Jika kurang dari itu dikenakan denda. Tapi kalau di atas 90% diberikan reward. Alhamdulillah tercapai dan sampai kini kebijakan tersebut tetap dilakukan,” kata dia.
Haryono mengaku pencapaian Perhutani hijau 2010 bukan perkara mudah. “Ini memang sulit. Di satu sisi kami mesti menghemat dalam pembuatan tanaman. Di lain pihak persentase tumbuh harus ditingkatkan. Tapi teman-teman bisa melaksanakan itu dengan baik,” puji dia.
Untuk jenis pohon yang ditanam, Haryono menyatakan saat ini Perhutani menuju klaster tiga jenis tanaman, yaitu Jati, Pinus, dan Fast Growing Species – termasuk di dalamnya sengon. “Itu disesuaikan dengan tempat tumbuhnya. Untuk Pinus kami mengarah kepada hasil non kayunya berupa getah. Itu sebabnya sudah dua tahun ini kami tidak melakukan tebangan Pinus,” katanya.
Sukses dengan pencapaian kuantitas tutupan hutan, tak membuat Perhutani berhenti melakukan transformasi peningkatan kualitas sumberdaya hutan. Sebaliknya, Perhutani justri semakin agresif.
Menurut Haryono, untuk meningkatkan kualitas sumberdaya hutan, maka Perhutani melakukan konversi tegakan. Tegakan yang punya kualitas rendah akan diganti dengan Jati Plus Perhutani (JPP), baik yang berasal dari biji maupun stek pucuk. JPP punya produktivitas antara 200-250 m3/ha dengan umur tebang 20 tahun saja. “Nantinya kami merancang sekitar 600.000 ha hutan produksi yang dikelola bisa ditanami dengan JPP,” kata Haryono
Untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan hutan, Perhutani saat ini juga sedang dalam proses sertifikasi berdasarkan standar Forest Stewardship Council (FSC). Dalam proses tersebut, Perhutani bekerjasama dengan SGS (Societe Generale de Surveilance) dan WSA (Woodmark Soil Association). Dalam proses sertifikasi tersebut Perhutani didampingi oleh LSM Internasional WWF dan Tropical Forest Trust (TFT).
Sejauh ini, sertifikat verifikasi legalitas asal usul kayu (Verification of Legal Origin/VLO) yang distandarisasi oleh Smartwood telah diberikan kepada Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung, Jawa Timur. Menurut Haryono, Perhutani menargetkan seluruh KPH yang berjumlah 57 mendapatkan sertifikat serupa yang mengacu skema FSC. “Sebelum 2015, seluruh KPH diharapkan bisa dapat sertifikasi,” katanya.
Masyarakat
Tak sekadar menggenjot produktivitas sumberdaya hutan, Perhutani juga meningkatkan kesempatan masyarakat desa hutan untuk semakin berperan dalam pengelolaan hutan. Melalui program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yang sejak lama dilakoni, masyarakat pun sepenuhnya terlibat dalam pengelolaan hutan. “Sehingga masyarakat memiliki sense of belonging terhadap hutan dan menyadari hutan yang dikelola dengan baik bisa menjadi jembatan untuk kesejahteraan,” ujar Haryono
Hingga saat ini, ungkap dia, sudah 97% desa yang ada di pangkuan hutan terlibat dalam program PHBM. Dari 5.403 desa hutan yang ada di Jawa, sabnyak 5.229 desa telah terlibat dalam PHBM.
Ke depan, lanjut Haryono, kualitas PHBM akan terus ditingkatkan dengan pembentukan koperasi lembaga masyarakat desa hutan (LMDH). “Dengan dibentuknya koperasi, maka posisi LMDH semakin mandiri dan lincah bergerak untuk kesejahteraan masyarakat desa hutan,” katanya.
Dampak PHBM pun bisa dilihat dari semakin turunnya angka pencurian kayu. Jika di tahun 2002 terdapat 907.173 pohon seniai Rp195,3 miliar yang dicuri, maka di tahun 2009 (sampai November) pohon yang dicuri tercatat 34.480 pohon senilai Rp7,1 miliar. AI
BUMN pengelola hutan Jawa, Perum Perhutani menyatakan siap membantu Kementerian Kehutanan untuk merehabilitasi 13 Daerah Aliran Sungai (DAS) sejalan dengan target pemerintah untuk melakukan rehabilitasi lahan kritis seluas 500.000 ha/tahun.
Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Hutan Perhutani Haryono Kusumo menyatakan Perhutani akan menyumbangkan kemampuan dan pengalamannya dalam kegiatan rehabilitasi untuk membantu pencapaian target pemerintah. “Perhutani siap membantu Dephut untuk menyukseskan program rehabilitasi hutan baik di Jawa maupun di luar Jawa,” kata dia.
Pengalaman Perhutani dalam merehabilitasi hutan bisa dilihat dari keberhasilan membangun hutan kemasyarakat di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Timor Timur.
Sebagai bagian dari upaya pencapaian target rehabilitasi lahan seluas 500.000 ha, Perhutani bersama dengan empat BUMN lain telah membentuk sebuah perusahaan yang bernama PT BUMN Hijau Lestari yang bertujuan untuk mendorong masyarakat Jawa melakukan penanaman dan mencapai tutupan hutan minimal di Jawa sebesar 30% dari luas daratan.
Untuk mendorong rehabilitasi lahan, Perhutani juga telah menawarkan ke beberapa duta besar negara asing untuk ikut dalam program adopsi pohon. Program ini berupa perlindungan pohon dengan dana sebesar 10.000 dolar AS/pohon, di mana setiap pohon yang diadopsi akan dinamai dengan nama penyumbang dan diberi sertifikat. AI
Penyerapan Tenaga Kerja dalam Kegiatan PHBM
|
No. |
Tahun |
Tenaga Kerja |
Tambahan Penghasilan |
|
1. |
2005 |
517.211 |
90.317.212.359 |
|
2. |
2006 |
445.652 |
266.420.219.975 |
|
3. |
2007 |
827.835 |
336.908.591.200 |
|
4. |
2008 |
523.101 |
445.030.296.492 |
|
5. |
Nov- 2009 |
330.589 |
296.105.336.803 |
Sumber: Perhutani