Tuesday - March 2nd, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Inhutani I Menuju Keuangan Sehat
Post Info Tuesday, March 2nd, 2010 11:58 by agroindonesia Print Print this page

Selain membenahi pengelolaan hutan, PT Inhutani I juga melakukan revitalisasi terhadap aset-aset perseroan. Langkah-langkah yang dilakukan diharapkan bisa mencatatkan laporan keuangan  perseroan tahun 2010 dalam kategori sehat.

Krisis finansial global memang membuat gerak cepat pembenahan yang dilakukan PT Inhutani I sedikit terhambat. Hal itu tergambar dari torehan omset dan laba perseroan yang turun tahun 2009 kemarin. Padahal, dua tahun sebelumnya, Inhutani I selalu berhasil membukukan kenaikan laba dan omset.

“Dampak krisis memang terasa pada tahun lalu. Tapi dengan dukungan dari pemerintah kami optimis kinerja perseroan akan jauh lebih baik tahun ini,” kata Direktur Keuangan PT Inhutani I, Novian Zen SE, Ak.

Novian memaparkan, perseroan menargetkan omset perseroan akan melonjak menjadi Rp272,4 miliar tahun ini setelah pada tahun lalu hanya sekitar Rp92,18 miliar. “Sementara laba bersih yang kami targetkan adalah Rp6,4 miliar,” kata Novian. Jumlah tersebut melompat dari laba bersih perseroan yang tertahan krisis tahun lalu yang sebesar Rp2,14 miliar. Sementara total aset tahun 2010 dalam anggaran perseroan tercatat Rp423 miliar.

Menurut Novian, proyeksi omset dan laba perseroan memang masih bergantung kepada hasil hutan. Meski demikian, untuk membenahi rekam laporan keuangan, pihaknya akan merevitalisasi sejumlah aset potensial.

Aset yang dimaksud adalah tanah milik perseroan yang tersebar di sejumlah lokasi di Kalimantan Timur seperti di Balikpapan dan Nunukan.

Aset tersebut, kata Novian, kini memiliki potensi yang luar biasa seiring dengan pengembangan wilayah. “Nilai total aset tanah tersebut tidak kurang dari Rp200 miliar dihitung berdasarkan nilai jual objek pajak. Itu adalah jumlah yang cukup berarti jika dioptimalkan untuk memperbaiki struktur permodalan perseroan,” kata Novian.

Selain bisa dipasarkan, aset tersebut juga terbuka untuk dioptimalkan lewat pembangunan hotel atau perumahan dengan bekerjasama dengan pihak ketiga. “Lokasinya yang strategis membuat peluang pembangunan hotel atau hunian, terbuka untuk dilakukan,” kata Novian.

Potensi kerjasama aset juga terbuka untuk kantor pusat PT Inhutani I di kawasan Kebayoran Baru, Jaksel. Karena berada di pusat bisnis Jakarta, maka lokasi tersebut bisa dikerjasamakan dengan swasta yang ingin mengembangkan perkantoran atau kondominium. Menurut Novian, sebuah BUMN konstruksi sudah menyatakan ketertarikannya untuk bekerjasama mengembangkan potensi di lokasi tersebut.

Novian juga memaparkan, pabrik pengolahan kayu di Bekasi yang lokasinya sudah tidak layak untuk pengembangkan industri karena dekat perumahan juga sedang ditawarkan untuk dikerjasamakan menjadi perumahan. “Kami sudah melakukan penawaran kepada pengembang. Karena luasnya 4 hektare, maka layak dijadikan perumahan atau apartemen. Lokasinya strategis dekat jalan raya, sehingga apabila dijadikan perumahan akan laku keras,” jelasnya.

Menurut Novian, dari sisi bisnis melanjutkan pabrik pengolahan kayu di Bekasi — yang kini sudah menjadi kota satelit bagi Jakarta — sangat berat. Pengalaman selama 12 tahun terakhir untuk mendatangkan bahan baku kayu bulat dari Kalimantan ke lokasi itu sangat mahal. Di samping biaya angkutan laut mahal, untuk mengangkutnya dari pelabuhan kayu, Marunda, Jakarta Utara ke pabrik di Bekasi juga sangat berat, mengingat sepanjang jalan yang dilalui truk ukuran panjang (tronton) juga sudah macet.

Dengan alasan itu, maka manajemen akan menggandeng pengembang atau bila ada investor yang ingin membangun rumah sakit juga bisa melamar ke Inhutani I. “Yang penting kerjasama itu sama-sama menguntungkan,” jelas Novian.

Pinjam bank

Selain mengoptimalkan aset-aset, perseroan juga akan merevitalisasi sejumlah perusahaan patungan. Langkah tersebut dilakukan dengan mengevaluasi mana saja yang masih berprospek dan mana yang tidak. Saat ini Inhutani I memiliki 20 perusahaan patungan baik pada bidang usaha pengelolaan hutan alam, hutan tanaman maupun industri. Revitalisasi perusahaan patungan akan dirahkan pada perusahaan patungan yang bergerak di bidang hutan tanaman.

“Saat ini due diligence untuk revitalisasi sejumlah perusahaan patungan sedang dilakukan. Ini diharapkan bisa membawa kinerja Inhutani I lebih baik,” kata Novian.

Yang menarik, langkah-langkah strategis yang dijalankan perseroan rupanya mulai menarik pihak perbankan. Sebuah Bank BUMN bahkan sudah menyatakan kesanggupannya untuk menyalurkan pembiayaan sebagai modal kerja senilai Rp10 miliar. “Kami sebenarnya ditawarkan pembiayaan dalam jumlah yang cukup besar. Namun untuk tahap awal, kami ambil sedikit dulu untuk selanjutnya terbuka untuk ditingkatkan,” kata Novian.

Begitulah. Ibarat gadis, Inhutani I kini memang seperti perempuan cantik dan memesona. Tuntas berdandan dengan berbagai pembenahan, Inhutani I pun membuat sejumlah pihak datang untuk mengajak bergandengan tangan. AI

Mensukseskan Program SBY

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan bangsa Indonesia punya cita-cita mulia mencegah dampak negatif perubahan iklim. Cita-cita itu tak lain menurunkan emisi karbon sebanyak 26% pada tahun 2020.

Ambisius? Silakan sebut begitu. Tapi, penurunan emisi 26% bukan mustahil untuk dicapai. Apalagi, jika para pelaku bisnis pengelolaan hutan melakukan upaya seperti yang dilakukan PT Inhutani I.

BUMN Kehutanan yang menjadi pionir pembentukan BUMN Kehutanan di luar Jawa ini menunjukan kepedulian dalam mendukung pencapaian penurunan emisi dengan menjalankan proyek penyerapan dan penyimpanan karbon. Hebatnya lagi, proyek tersebut berjalan seiring dengan roda bisnis perseroan.

Jadi, di saat pemain lain masih sibuk berdebat soal potensi bisnis karbon, Inhutani I sudah melangkah maju dengan melakukan sejumlah langkah kongkret. Menetapkan dua unit manajemen hutan di bawah kendali perseroan dikelola sebagai proyek penyerapan dan penyimpanan karbon. “Ini merupakan komitmen kami untuk mendukung pencapaian penurunan emisi. Ini juga menunjukan kalau bisnis pengelolaan hutan bisa berjalan beriringan dengan komitmen penurunan emisi,” kata Direktur Pengembangan PT Inhutani I, Ir Dadang S. Supardi MM.

Dua unit manajemen hutan yang ditunjuk adalah unit manajemen hutan Mamuju, Sulawesi Barat seluas 29.937 hektare (ha) dan unit manajemen hutan Kunyit Simandurut, Kabupaten Malinau dan Nunukan, Kalimantan Timur seluas 120.760 ha.

Nantinya, kawasan hutan produksi Mamuju akan dikelola dengan pola rehabilitasi hutan. Sebagai kompensasi dari penghentian penebangan, Inhutani I akan Inhutani I mendapat dana yang nilainya sesuai dengan potensi pendapatan penebangan jika tetap dilakukan, plus premium value dari berbagai keanekaragaman hayati yang ada.

Sementara untuk proyek di unit Kunyit Simandurut, Inhutani I akan menjalankan pola pengelolaan hutan lestari dengan mengedepankan penebangan berdampak rendah (RIL/Reduce Impact Logging) yang bisa menahan pelepasan emisi.

Dadang menegaskan, pengembangan proyek seperti itu dimaksudkan untuk menunjang kegiatan konservasi dan rehabilitasi hutan serta mencari peluang sumber pendanaan untuk rehabilitasi hutan dan lingkungan.

Krisis finansial yang mendera dunia internasional memang sempat memperlambat laju dua proyek tersebut. Meski demikian, kata Dadang, mitra Inhutani I berhasil menggandeng investor potensial yaitu bank terbesar di Australia untuk mendanai proyek di Mamuju. Bahkan, dengan areal yang lebih luas, termasuk kawasan hutan di sekitar areal pengelolaan Inhutani I. Sementara, sebuah Bank lain asal Jerman juga sudah menunjukan ketertarikan yang sama. “Proyek tersebut terus berjalan dengan progres yang signifikan. Kami harap di tahun 2010 ini proyek tersebut sudah bisa dijalankan sepenuhnya,” kata Dadang.

Sebagai catatan, pengembangan proyek penyerapan dan penyimpanan karbon merupakan perwujudan dari visi perseroan. Sesuai dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP 2008-2017), Inhutani I memang punya visi Menuju Industri Kehutanan Hijau (Green Forestry Industry) dengan Diversifikasi Usaha untuk keseimbangan Portofolio. Hal itu menurut Dadang, untuk menjamin kelangsungan usaha perusahaan di tengah era isu perubahan iklim.

Sesuai dengan visi tersebut, jangan heran kalau selain proyek penyerapan dan penyimpanan karbon, manuver bisnis Inhutani I lainnya selalu berbau ramah lingkungan. Juga termasuk di antaranya melibatkan diri sebagai pelaksana kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) di kawasan hutan lindung. Inhutani mendapat misi untuk menghijaukan Daerah Aliran Sungai Sadang di Sulawesi Selatan, seluas  sekitar 4.000 ha. Selain itu, sebagai bagian dari kegiatan konservasi, Inhutani I juga mengelola bagian dari hutan alam yang masih baik dengan aksesibilitas memadai sebagai kawasan wisata alam. AI

Leave a Reply