Tuesday - March 2nd, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Inhutani I Siap Bersaing Kembali
Post Info Tuesday, March 2nd, 2010 11:52 by agroindonesia Print Print this page

Konsistensi kebijakan jelas kebutuhan mutlak bagi dunia usaha. Perubahan drastis tidak hanya menyulitkan, bahkan bisa mengancam maut bagi perusahaan, BUMN sekalipun. PT Inhutani I contohnya. Untungnya, beleid pemerintah segera diubah dan PT Inhutani I pun siap bersaing lagi setelah berbenah dalam waktu panjang.

PT Inhutani I benar-benar merasakan pahitnya inkonsistensi kebijakan pemerintah yang nota bene pemegang saham perusahaan. Bayangkan, “nyawa” usaha berupa produksi kayu dari hutan alam terhenti total. Bahkan, izin konsesi pun dibetot. Kejadian itu terjadi secara beruntun sejak tahun 2003.

Inilah puncak penderitaan Inhutani I. Seluruh karyawan maupun direksi sudah putus harapan. Apalagi, BUMN yang nota bene pionir pengembangan bisnis kehutanan di luar Jawa ini juga sempat berhenti operasi. “Banyak pemutusan hubungan kerja alias PHK ketika itu. Pengalaman pahit bagi seluruh karyawan dan mudah-mudahan tidak pernah terjadi lagi. PT Inhutani I siap menatap masa depan yang lebih baik,” jelas Direktur Utama Dr Irsyal Yasman kepada Agro Indonesia pekan lalu.

Penderitaan panjang Inhutani I usai ketika MS Kaban masuk memimpin Depertemen Kehutanan. Satu per satu izin HPH milik PT Inhutani I dicairkan kembali. Setidaknya, tahun 2006 sebanyak empat izin HPH  diperpanjang dan tahun berikutnya empat izin HPH lagi dikeluarkan, sehingga seluruh aset milik perusahaan negara yang sempat mandeg beroperasi itu memiliki izin baru. Itu artinya, “darah” perusahaan berupa Rencana Kerja Tahunan (RKT) juga mengalir kembali.

Namun, ‘kerusakan’ dan demoralisasi yang sempat terjadi butuh waktu panjang untuk pemulihan. Bahkan sejak tahun 2007 sampai 2009, Inhutani I pun hanya sibuk berbenah.

Kini, memasuki tahun 2010, Inhutani I mulai berani memasang ancang-ancang untuk kembali ke jalur bisnis dan mengejar ketertinggalannya. “Mudah-mudahan harga produk kehutanan tahun 2010 di pasar internasional sudah pulih menyusul ambruknya ekonomi dunia yang sudah berlangsung sejak 2007 - 2009,” ujar Irsyal optimis.

Selesai sertifikasi HPH

Namun, tak ada pengalaman yang tak berhikmah. Menyusul diperolehnya kembali konsesi HPH, Inhutani I pun meningkatkan profesionalitas pengelolaan. Dalam kurun tiga tahun ke depan, pihak manajemen berusaha mendapatkan sertifikasi seluruh unit manajemen hutannya.

Kewajiban ini sekaligus menjawab tuntutan pasar internasional yang menginginkan produk kayu olahan yang berbahan baku ramah lingkungan dan harus bersertifikat. Inhutani I pun tidak mau kecolongan” dengan tren tersebut. “Pada dasarnya, areal yang kami kelola sudah menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari. Dengan adanya sertifikasi, maka kami bisa makin meyakinkan pasar,” kata Direktur Produksi Inhutani I, Ir Sutomo MM.

Untuk mendukung aktivitas produksi kayu ramah lingkungan, perseroan juga akan melakukan kegiatan pendukung, seperti pemantapan areal kerja dengan melaksanakan tata batas keseluruhan areal kerja.

Inhutani I, lanjut Sutomo, juga menerapkan tata usaha kayu secara digital di lima unit manajemen hutan. “Penerapan Sistem Penatausahaan Hasil Hutan secara on line sesuai dengan misi kami untuk menerapkan sistem chain of custody (CoC/lacak balak) sebagai bagian dari perwujudan visi sebagai perusahaan hijau,” paparnya.

Inhutani I juga menggandeng dua LSM kelas internasional untuk kepentingan tersebut. Keduanya adalah The Nature Consevancy (TNC) dan Global Forest Trade Network (GFTN) yang merupakan divisi dari WWF.

Nantinya, TNC akan membantu Inhutani I dalam persiapan sertifikasi pada unit manajemen yang dikelola di hutan alam produksi. Sementara GFTN akan mendukung persiapan sertifikasi di hutan tanaman dan industri pengolahan kayu.

Sutomo menegaskan, agar pemanfaatan hasil hutan bisa terus berkelanjutan, pihaknya juga secara ketat terus melakukan pembinaan hutan dan pelestarian lingkungan. Misalnya dengan menerapkan sistem silvikultur (Tebang Pilih Tanam Indonesia/TPTI) tanpa kompromi pada unit manajemen hutan alam. “Kami juga melakukan pembinaan hutan alam lain dengan tujuan meningkatkan produktivitas kawasan,” katanya.

Pasar ekspor

Pembenahan yang dilakukan pada pengelolaan hutan diharapkan melempangkan jalan menembus pasar internasional. Pasar yang diincar terutama Eropa yang daya tahan terhadap krisis-nya lebih baik ketimbang Amerika Serikat. “Secara umum kami melihat sudah ada tanda-tanda ke arah pemulihan,” kata Sutomo.

Untuk memenuhi pasar tersebut, diharapkan tahun 2010 ini rencana produksi kayu bulat Inhutani I sebanyak 274.000 m3 dapat direalisasikan secara penuh. RPK tersebut terbagi atas kayu bulat dari hutan alam sebanyak 250.000 m3 dan kayu bulat dari hutan tanaman sebanyak 24.000 m3.

Sebagian dari produksi kayu bulat tersebut akan diolah sendiri oleh Inhutani I di pabrik pengolahan kayu yang berada di Gresik (Jatim) dan Tarakan (Kaltim). Apabila ekonomi internasional sudah pulih, maka pabrik-pabrik tersebut akan digenjot produksinya untuk mengisi pasar ekspor. “Ekspor itu dalam produk kayu olahan, moulding, E4E, decking, house flooring, S4S, solid laminating dan finger-jointy laminating. Pasarnya diharapkan menembus celah pasar yang ada. Tahun ini mencapai 5.618,50 m3,” tegas Sutomo.

Di samping produk di atas, pasar produk engineering door kini juga terbuka lebar mengingat tren konsumen saat ini masih luas. Untuk pasar dalam negeri, pabriknya sanggup memproduksi berbagai bentuk kayu olahan seperti bentuk RST, pintu, jendela, kusen, serta garden furniture, dengan kemampuan 7.000 m3. AI

Mengoptimalkan Potensi Hasil Hutan Non Kayu

Selain memanfaatkan hasil hutan kayu secara lestari, PT Inhutani I juga mulai mengoptimalkan potensi hasil hutan non kayu yang ada. Termasuk pemanfaatan getah pinus dan karet. “Proyeksi produksi getah pinus sebanyak 282.000 kg sementara getah karet sebanyak 225.000 kg,” ungkap Dirut PT Inhutani I, Dr. Irsyal Yasman.

Produksi getah pinus akan semakin dioptimalkan mengingat potensinya juga masih besar. Saat ini, getah pinus perusahaan dihasilkan dari kawasan seluas 7.000 hektare (ha) di Tonga, dan 3.000 ha di Sopeng (Sulsel).

Perseroan, kata Irsyal, juga merancang untuk mendirikan pabrik pengolahan getah pinus menjadi gondorukem skala kecil. Pabrik gondorukem punya bandrol jauh lebih tinggi ketimbang hanya getah pinus mentah. “Saat ini kami sedang melakukan kajian untuk membangun pabrik gondorukem skala mini, seperti yang sudah dilakukan PT Inhutani IV di Sumbar,” kata dia.

Sementara untuk meningkatkan produksi getah karet, perseroan akan meningkatkan kualitas hutan tanaman industri (karet) di Batu Ampar seluas 16.521 hektare. “HTI karet akan kami revitalisasi dan kami tingkatkan kualitasnya dengan menanam variteas unggul yang bisa menghasilkan getah dan kayu dengan nilai nilai ekonomis tinggi,” kata Irsyal.

Namun diakuinya, tahun 2010 masih merupakan tahun yang penuh tantangan. Pasalnya, kondisi makro perekonomian nasional maupun regional belum pulih sepenuhnya dari dampak krisis ekonomi dunia yang terjadi sejak awal triwulan tahun 2008. “Oleh karenanya, upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja terus-menerus akan menjadi prioritas dalam setiap aktivitas kegiatan usaha perseroan yang dilaksanakan,” ujar papar Irsyal yang doktor budidaya meranti jebolan Belanda itu. AI

One Response to “ Inhutani I Siap Bersaing Kembali ”

  1. hasani

    kami bersyukur sekali bila PT. Inhutani mau membina dalam upaya penampungan hasil kayu pinus berupa getah gondorukem, dengan harapan bila menampakkan hasil bagi pemilik lahan maka diharapkan membawa dampak kepada pemilik lahan kritis yang tidak ada tanaman sama sekali perhatian mereka untuk menanam pinus, sehingga Kab. Kerinci sebagai hulu DAS Batang Hari dan beberapa DAS lain di luar propinsi Jambi setidak-tidaknya bisa menekan kejadian banjir dan erosi apa lagi akhir-akhir ini terjadi banjir bandang

Leave a Reply