Tuesday - March 9th, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Opsi Ekspor Beras
Post Info Tuesday, March 9th, 2010 13:45 by agroindonesia Print Print this page

Beras memang masih memegang peranan penting bagi perkembangan ekonomi di dalam negeri. Komoditas itu masih menjadi kontributor utama bagi peningkatan atau penurunan laju inflasi nasional.

Hal itu tercermin dari laju inflasi yang terjadi pada bulan Januari dan Pebruari 2010. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari inflasi bulan Pebruari 2010 sebesar 0,3%, harga beras menyumbang inflasi 0,13%.

Kontribusi beras terhadap laju inflasi pada bulan Pebruari itu memang lebih kecil dibandingkan kontribusi harga beras terhadap laju inflasi bulan Januari. BPS mencatat dari inflasi Januari 2010 mencapai 0,84%, kenaikan harga beras menjadi ‘bintang’ pemicu inflasi Januari tersebut.

Menurut Kepala BPS Rusman Heriawan, kenaikan harga beras yang mencapai 8,45% untuk beras murah dan 7,8% untuk beras mahal, yang terjadi sejak Januari 2010. Beras menyumbang 0,35% terhadap inflasi bulan Januari 2010.

Beruntung, kontribusi harga beras terhadap laju inflasi bulan-bulan mendatang diperkirakan akan semakin menurun seiring dengan mulai panennya sentra-sentra produksi padi di negeri ini.

Selain itu, BPS juga memperkirakan produksi beras tahun ini akan mengalami peningkatan, walaupun sedikit, dibandingkan tahun lalu.

Diperkirakan produksi beras pada pada tahun ini akan sebanyak 64,90 juta ton atau hanya naik 0,88% dibandingkan dengan produksi tahun lalu.

Meski tumbuh tipis, lanjut Rusman, produksi beras 64,90 juta ton atau setara dengan 35 juta ton beras tersebut dapat memenuhi kebutuhan beras penduduk yang tumbuh 1%.

Dengan pertumbuhan produksi yang tidak terlalu besar, BPS mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati dalam menetapkan kebijakan ekspor beras.

Tahun lalu, Indonesia memang berhasil melakukan swasembada beras dan melakukan ekspor komoditas itu, walaupun jumlahnya diperkirakan tidak mencapai 10.000 ton.

Kedua prestasi ini tampaknya ingin diulangi lagi oleh pemerintah. Hal itu setidaknya tercermin dari pernyataan Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurti, yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian soal opsi ekspor beras.

Menyusul paparan BPS tentang laju inflasi bulan Pebruari dan perkiraan produksi beras nasional, pekan lalu, Bayu mengatakan pemerintah menetapkan opsi ekspor beras tetap terbuka pada tahun ini.

Walaupun opsi ekspor itu hanya diberikan kepada beras jenis tertentu, bukan terhadap beras mediumyang paling banyak dikonsumsi rakyat Indonesianamun pemberian izin ekspor beras tersebut juga harus memperhatikan kondisi nasional.

Pemenuhan kebutuhan masyarakat di dalam negeri harus didahulukan ketimbang membuka kran ekspor demi mendongkrak citra pemerintah di mata masyarakat di dalam negeri maupun di mata internasional.

Apalagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya menanggapi hasil rapat Paripurna DPR soal bailout Bank Century, menegaskan pemerintah saat ini akan memfokuskan pada penerapan kebijakan-kebijakan pro rakyat.

Tentunya, untuk komoditas beras, kebijakan yang perlu dilakukan pemerintah adalah menyediakan kebutuhan masyarakat atas komoditas itu dalam jumlah yang cukup dengan harga yang terjangkau.

Leave a Reply