Tuesday - March 9th, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
RHL di Hutan Lindung akan Dilelang
Post Info Tuesday, March 9th, 2010 14:11 by agroindonesia Print Print this page

Mission Imposible. Buat sebagian orang menjalankan misi untuk menanam dan memelihara pohon sebanyak 1 miliar batang mungkin masuk kategori misi yang mustahil untuk dilakukan. Tapi buat Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) Kementerian Kehutanan Ir. Indriastuti MM, penanaman pohon dengan jumlah yang luar biasa tersebut bukan tak mungkin untuk dicapai.

Apalagi, Indonesia sudah punya pengalaman untuk melakukan penanaman skala besar. Termasuk penanaman satu orang satu pohon yang dilakukan tahun 2009 kemarin.

Indri yang jebolan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada itu menegaskan, jajaran Kemhut di bawah komando Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan akan berupaya sekuat tenaga untuk mencapai target yang dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu. “Kami di Kemhut melihat target tersebut sebagai sebuah tantangan, bukan sebagai beban,” katanya.

Meski penanaman satu miliar pohon tidak semata menjadi tanggung jawab Direktorat Jenderal yang dipimpinnya, namun bisa dipastikan tugas yang diemban Indri tidaklah ringan. Sebab, wanita kelahiran Yogyakarta 22 Desember tahun 1951 silam itu menjadi pengampu penananam untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di Daerah Aliran Sungai, hutan rakyat kemitraan, Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Desa.

Yang juga tak kalah berat adalah soal akuntabilitas dari penanaman yang dilakukan. Mengingat penanaman ini menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk menurunkan emisi sebanyak 26% pada tahun 2020 mendatang.

Untuk tahu lebih banyak yang akan dilakukan untuk menjalankan misi tersebut, berikut petikan wawancara Agro Indonesia dengan istri dari Ir. Hatnan Sasontko MM dan Ibu dari Setyo Agung Wibiwono itu di ruang kerjanya, pekan lalu:

Bagaimana hasil evaluasi kegiatan penanaman tahun 2009?

Berkat dukungan semua pihak kegiatan penanaman one man one tree bisa terlaksana dengan baik. Dari penanaman yang diperkirakan 230 juta batang bibit, berhasil ditanam dan dilaporkan lebih dari 250 juta batang bibit. Ini berlanjut dengan penanaman yang lebih besar lagi yaitu satu miliar pohon pada tahun ini. Kami di Kemhut berharap dukungan seluruh komponen masyarakat tidak berhenti untuk mencapai target tersebut.

Dengan usainya program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan), apakah itu berarti semakin mempersulit pencapaian target penanaman satu miliar pohon?

Gerhan itu kan bagian dari kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL). Dan kegiatan RHL tidak akan berhenti meski programnya telah usai. Anggarannya bisa dari dana yang ada dari APBN, APBD, Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi (DAK-DR) maupun Dana Bagi Hasil (DBH) DR.

Untuk tahun 2010, kegiatan RHL yang sudah pasti akan dilakukan seluas 100.000 hektare. Dananya dari APBN sudah ada, perencanaannya sudah ada. Kemudian di daerah juga ada dana-dana yang ada juga bisa dimanfatkan.

Pada Program Gerhan, BUMN Kehutanan mendapat penugasan untuk melakukan rehabilitasi di hutan lindung, bagaimana evaluasinya?

Penanaman Gerhan yang dilaksanakan oleh BUMN Kehutanan berhasil dengan baik dengan rata-rata keberhasilan tumbuh mencapai lebih dari 90%. Hal itu bisa dilihat dari hasil kajian lembaga independen dan Tim Pemeriksa Pekerjaan yang dibentuk oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai di lokasi tempat pelaksanaan kegiatan. Tentu saja ini sangat menggembirakan kita semua karena dengan demikian pemulihan lahan kritis yang berada pada hutan lindung akan segera terwujud.

Dengan keberhasilan BUMN dalam kegiatan penanaman Gerhan, apakah akan kembali dilibatkan untuk kegiatan RHL tahun ini?

BUMN Kehutanan kalau mau ikut dalam kegiatan RHL yang dibiayai pemerintah boleh-boleh saja. Tapi tidak ada penugasan. Bapak menteri kehutanan menghendaki agar semua pihak bertanding sehingga ada persaingan. Nantinya sekitar 25.000 hektare hutan lindung akan dibiayai kegiatan RHL-nya dari APBN. Saat ini kami sedang mengajukan agar pelaksanaannya dilakukan dengan penganggaran multiyears. Namun belum ada persetujuan dari Menteri Keuangan.

Salah satu tantangan dari kegiatan RHL adalah soal Pengawasan, Pelaporan dan Verifikasi (MRV) jumlah bibit yang ditanam. Mengingat kegiatan penanaman yang akan dilakukan ke depan menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk mengurangi emisi. Bagaimana menjawabnya?

Untuk MRV, kami sudah melakukan pelaporan secara berjenjang untuk penanaman yang dilakukan dilengkapi dengan pemetaan termasuk titik koordinatnya sehingga bisa diverifikasi. Nah, untuk meningkatkan kepercayaannya maka nantinya laporan penanaman juga akan dilengkapi dengan foto yang dilengkapi dengan titik kordinat. Sehingga orang suatu ketika bisa mengecek lagi, dan koordinatnya kelihatan.

Ini juga yang akan dilakukan untuk kegiatan penanaman yang dilakukan oleh masyarakat. Kalau masyarakat menanam dalam jumlah sedikit memang agak susah, namun yang menanam dalam jumlah besar seperti yang dilakukan oleh komunitas, hal itu bisa dilakukan.

Kami juga berharap masyarakat pro aktif untuk melakukan pelaporan terhadap kegiatan penanaman. Selain itu, saya juga memerintahkan agar Balai Pengelolaan Daerah Alran Sungai bisa langsung jemput bola untuk mendapat laporan jika ada informasi penanaman yang dilakukan masyarakat.

Apakah sudah ada sinyal untuk penambahan dana mengingat yang dibutuhkan untuk penanaman satu miliar sangat besar?

Saat ini kami masih menunggu tambahan dana pemerintah. Tapi kami juga punya strategi. Kami akan menggiatkan hutan rakyat kemitraan. Banyak kelompok masyarakat yang punya lahan 10 hektare, 4 hektare, tapi kami tidak bisa menyediakan bibitnya. Nah salah satu caranya dengan hutan rakyat kemitraan menggandeng industri pengolahan kayu.

Saat ini banyak tanah-tanah telantar atau di Jawa barat di sebut ‘tanah gontai’. Tanah tu adalah tanah milik orang-orang kaya yang ditelantarkan. Mau diserahkan penggarapannya kepada masyarakat tapi takut justru malah diserobot. Nah ini yang akan dikomunikasi bersama komunitas masyarakat. Nantinya komunitas akan berhubungan dengan rakyat sekaligus dengan industri pengolahan kayu. Mirip dengan yang sudah dijalankan Koperasi Perumahan Wanabhakti Nusantara (KPWN).

Kami mendorong model ini karena rakyat bisa menikmati hasil penanaman, sementara pemilik tanah tidak perlu khawatir tanahnya diserobot. Sedangkan pemerintah terbantu karena lahan direhabilitasi

Yang juga perlu diperhatikan dalam mendorong hutan rakyata adalah kepastian soal harga dan kemudahan dakam pengakutan hasil panennya. Jangan lagi ada halangan.

Strategi lain yang akan didorong?

Kami juga akan mendorong kebun bibit rakyat. Jadi, di masing-masing provinsi ada beberapa kabupaten yang kami faslitasi untuk kebun bibit rakyat sehingga rakyat tidak selalu mendapat bibit bantuan atau beli tapi bisa sendiri bibit yang dibutuhkan. Nantinya kalau ada sisamya bisa dijual. Pemerintah pasti perlu untuk kegiatan rehabilitasi. Sugiharto

Leave a Reply