Reformasi di sektor kehutanan sebenarnya pernah dilakukan oleh pemerintah antara tahun 1998/1999. Hasilnya berupa buku putih kehutanan. Siapa tokoh di balik itu? Mungkin hanya sedikit orang yang mengetahui. Hal itu terjadi karena begitu cepat terjadi perubahan politik pada awal reformasi.
Perubahan kekuasaan dengan ditandai pergantian pimpinan nasional beserta kabinetnya membuat reformasi kehutanan tidak nampak hasilnya. Yang jelas, entah di mana dan kemana rimbanya buku putih kehutanan yang berisi sejumlah agenda reformasi di sektor kehutanan, kini sulit untuk didapatkan.
Namun, berbicara tentang reformasi sektor kehutanan yang dituangkan dalam buku putih, salah satu tokohnya masih bisa ditemukan. Masih ingat nama Dr Ir Adjat Soedradjat? Ya, dialah bidannya. Saat itu, Adjat merupakan Kepala Biro Perencanaan, Departemen Kehutanan dan Perkebunan yang mengusulkan untuk menyusun buku putih dan gayung pun bersambut. Menteri Kehutanan dan Perkebunan Dr Muslimin Nasution mendukung gagasan tersebut.
Lalu, bersama tim kecil yang umumnya ‘anak-anak muda’ dan diambil dari masing-masing perwakilan dari direktorat jenderal dalam tempo singkat mampu menuangkan catatannya dalam sebuah buku setebal 800 halaman. Di samping buku putih, tim kecil ini ternyata juga mampu menyelesaikan sejumlah buku penting tentang kehutanan.
Berbekal pengalamannya, baik ketika menjabat Kantor Wilayah Sulawesi Selatan, Kepala Kanwil Kehutanan Provinsi Lampung maupun saat bertugas di berbagai daerah, plus pendidikan formal yang cukup, Adjat yang insinyur kehutanan jebolan IPB ini ternyata tidak pernah sepi dari ide-ide cemerlang.
Walaupun cukup disayangkan bahwa kemampuan intelektualnya yang handal lagi-lagi terganjal hiruk-pikuk politik dalam negeri sehingga ide-ide Adjat belum banyak diimplementasikan dalam kebijakan saat karirnya mencapai puncak menjadi Dirjen Planologi, Kementerian Kehutanan.
Dalam usia produktif sekitar tahun 2000-an, ia memilih ‘bertapa’ di IPB untuk mengejar doktor. Dan ternyata S3 pun disandangnya sejak 2003. Kemana pria kelahiran Banjar itu sekarang ini? Berikut bincang-bincang Agro Indonesia pekan lalu.
Kemana saja Kang Ajat (panggilan akrab)? Bagaimana kabar Bogor Go Green?
Kegiatan saya tetap seperti biasa. Pulang pergi Bogor-Jakarta. Di Bogor, selain tempat domisili, ada saja kegiatan yang bisa dilakukan. Kalau kantor masih di Manggala. Jadi mondar-mandir kaya dulu. Maklum pensiunan. Tetapi soal kegiatan, kita bikin sendiri seperti merangkul masyarakat untuk berbuat sesuatu, yaitu menanam.
Misalnya saat ini kami membentuk Forum Multipihak Peduli DAS Ciliwung-Cisadane Bogor Go Green II ‘Save Our Jakarta’.
Apa yang melatari ide itu? Siapa inisiatornya?
Ceritanya panjang, tentu. Tapi intinya begini. Isu global warming yang menyebabkan berbagai bencana melanda dunia. Mulai dari banjir yang meluas di berbagai belahan dunia, udara semakin memanas, air laut meninggi sehingga Jakarta Utara senantiasa terkena banjir “rob”. Cuaca semakin tidak bersahabat dan banyak lagi fenomena alam yang merugikan umat manusia.
Masih dalam kenyataan ini, Sungai Citarum pun ‘mengamuk’ menggenangi wilayah Kabupaten Karawang dan mengakibatkan hampir 70.000 orang terpaksa mengungsi karena kebanjiran.
Sementara itu Kementerian Kehutanan terus mengajak masyarakat untuk mensukseskan penanaman 1 miliar pohon tahun 2010. Mengapa kita tidak ikut ambil bagian? Untuk itu, bersama kelompok lain kami mengajak masyarakat berbuat untuk pengamanan banjir Jakarta. Apabila Bogor dan sekitarnya tidak bisa menahan air, maka Jakarta akan selalu dihantui banjir.
Siapa saja yang masuk dalam kegiatan tersebut?
Ah, mudah kok menggerakkannya. Kebetulan masyarakat di Bogor itu sudah sangat sadar. Mereka yang terlibat dalam Bogor Go Green di antaranya Himpunan Alumni Kehutanan IPB, Pengurus Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kota Bogor, serta 150 kelompok masyarakat serta TNI, dan polisi. Mereka ini menyatakan tekadnya untuk menjadi motor penggerak, khususnya untuk Kota Bogor, untuk melakukan gerakan penanaman pohon dengan motif ‘memerangi pemanasan global dan penyelamatan Jakarta dari bencana banjir’.
Sesuai dengan motonya, Bogor Go Green, berarti sangat sempit sekali. Apakah konsep Kang Ajat ini bisa dikembangkan di wilayah lain?
Terus terang, sangat-sangat bisa. Mengapa kita baru di Bogor? Ini kebetulan saja kami berdomisili di Bogor. Akan tetapi, konsepnya sangat bisa dikembangkan untuk daerah lain di Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia.
Kalau saja Kang Ajat diminta menangani hal yang sama di DAS wilayah lain apa sanggup?
Tentunya siap. Sebagai rimbawan tulen, tidak boleh menolak. Sebab, kami masih punya tanggungjawab selama masih hayat dikandung badan. Ini prinsip hidup saya sejak menyandang sarjana kehutanan.
Ngomong-omong, untuk membangkitkan kesadaran masyarakat agar benar-benar menanam bukan hanya slogan, dari mana kita mulai?
Terus terang, kami tengah merintis apa yang Anda tanyakan itu. Jadi, konsepnya adalah kita ajak anak-anak sejak usia dini, sebut saja mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Mahasiswa. Dalam skala kecil kami mulai merintis Camp Edurec (Camp Education and Recreation — Kampung Pendidikan dan Rekreasi). Lokasinya juga masih sekitar Boogor. Di tempat ini, kita memberikan fasilitas bagaimana caranya menanam pohon, berladang, bertani dan bermain-main. Sasarannya adalah anak-anak kota yang tentunya awam untuk kegiatan seperti itu.
Dengan mengajak secara langsung anak-anak menanam, maka dari situ akan muncul kesadaran untuk menanam. Bisa saja setelah pulang dari sini, sesampai di rumah anak-anak tadi menyuruh orangtuanya menanam pohon di halamannya yang kosong. Banyak sekali manfaatnya untuk pendidikan, sekaligus membuat anak-anak senang.
Konsep mengajak anak usia dini untuk menanam tentu harapan jangka panjang, sementara yang kita butuhkan adalah tempo dekat?
Itu tadi jangka panjangnya, memang. Kan kita belum selesai menjelaskannya. Kita ajak anak-anak muda, baik yang masih SMP, SMA dan Mahasiswa terlibat dalam penanaman langsung. Mereka inilah potensi yang selama ini belum dioptimalkan dalam kegiatan tanam-menanam. Banyak cara untuk menumbuhkembangkan kesadaran mereka melakukan penanaman. Yang penting, kalau kita mau, pasti bisa.
Sebagai rimbawan apa masih ada waktu untuk memperbaiki hutan yang rusak dan mengembalikan kejayaan industri kehutanan?
Kita tidak boleh menyerah dalam kondisi apapaun sulitnya. Memperbaiki hutan adalah soal mudah, sebab bangsa ini dimanja oleh alam dengan adanya hujan, panas dan malam hari. Tanaman akan mudah berkembang dan tumbuh besar dalam kondisi iklim seperti itu. Jadi, tentu akan mudah pula mengembalikan kejayaan industri kehutanan seperti masa emas hijau tahun 1990-an. Yang penting mulai hari ini kita harus berbuat, bukan mandeg karena kebingungan. AI