Tuesday, April 13th, 2010 14:02 by
agroindonesia
Print this pagePemerintah Indonesia berniat mengimpor lupin, kedelai dari Australia Barat, yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu Indonesia. Kebijakan itu dilakukan dikarenakan harga lupin yang jauh lebih murah dibandingkan dengan kedelai impor asal AS.
Sebagai perbandingan, saat ini harga lupin sebesar Rp3.500/kg sedangkan harga kedelai AS lebih mahal Rp1.500 atau sebesar Rp5.000/kg.
Selain itu, produksi domestik jika menggunakan lupin akan meningkat sedikit dibandingkan dengan menggunakan bahan baku kedelai. Jika 100 kg kedelai dapat menghasilkan 150 tempe, maka 100 kg lupin dapat menghasilkan 160 tempe.
Kesempatan untuk mengganti bahan baku produksi tempe dari kedelai asal Amerika Serikat dengan lupin terbuka lebar karena pemerintah
Australia Barat siap memenuhi 70% dari kebutuhan impor lupin bagi industri tahu tempe domestik sebesar 1,2 juta ton.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, lupin merupakan grain legume yang sebenarnya telah digunakan cukup lama sebagai bahan pangan. Namun, manfaat dan nilai gizi dari komoditas tersebut baru diketahui beberapa dekade belakangan ini. Pengembangan dari lupin tersebut meliputi mie, tahu, tempe, biskuit, pasta dan roti.
Adanya diversifikasi terhadap bahan baku pembuatan tahu-tempe dari kedelai dengan lupin merupakan suatu kabar yang menarik. Pasalnya, dengan adanya bahan baku alternatif, produsen tahu dan tempe di dalam negeri tidak perlu lagi bergantung pada gejolak harga kedelai di pasar internasional.
Selama ini, produsen tahu-tempe di dalam negeri sangat bergantung dengan pasokan kedelai dari luar negeri. Akibatnya, harga jual komoditas tersebut sangat bergantung pada fluktuasi harga kedelai di luar negeri. Kini, dengan adanya lupin, setidaknya impor bahan baku tahu-tempe tidak lagi bergantung pada komoditas kedelai.
Walaupun begitu, kita juga harus berhati-hati dalam menggunakan lupin. Produsen tahu-tempe di dalam negeri harus mengetahui dengan jelas bagaimana kelangsungan pasokan lupin tersebut. Apakah komoditas tersebut bisa dikembangkan juga di Indonesia? Jangan sampai kita hanya memindahkan ketergantungan terhadap bahan baku tahu tempe dari satu komoditas ke komoditas lainnya, yang Indonesia tidak bisa memproduksinya.
Selain itu, pemerintah juga harus memperhatikan nasib petani kedelai di dalam negeri. Apakah mereka akan terus didorong untuk melakukan budidaya kedelai atau dibiarkan begitu saja karena sudah adanya bahan alternatif lain.
Pemerintah telah melancarkan program untuk meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri 20% per tahun sehingga target swasembada kedelai pada 2014 dapat tercapai.
Untuk mencapai target di atas, pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. salah satunya seperti membuka lahan-lahan baru.
Berdasarkan data BPS, rata-rata kebutuhan kedelai per tahun sebesar 2,1 juta ton, namun total produksi dalam negeri baru mencapai 900.000 ton, karena itu masih dibutuhkan impor sebesar 1,2 juta ton. Diperkirakan, dengan peningkatan produksi 20% per tahun, maka kebutuhan nasional akan bisa dipenuhi dari dalam negeri pada tahun 2014.