Wednesday, April 14th, 2010 08:05 by
agroindonesia
Print this page
Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) akan membeli biji kakao petani dengan patokan harga internasional, walaupun pemerintah menerapkan Bea Keluar (BK) terhadap biji kakao
“Kami tetap akan membeli bahan baku kakao sesuai dengan patokan harga yang terjadi di pasar internsional, seperti di Singapura dan Amerika Serikat,” ujar Ketua Umum AIKI, Piter Jasman, usai bertemu dengan Menteri Perindustrian MS Hidayat, di Jakarta, Selasa (13/4).
Hal ini dilontarkan Piter menanggapi adanya kekhawtiran kalangan petani kakao jika industri pengolah kakao akan menjadikan besaran BK biji kakao sebagai komponen dalam pembelian komoditas tersebut dari petani.
Menurutnya, BK kakao tidak akan merugikan petani kakao did alam negeri. justru kebijakan tersebut akan meningkatkan harga jual komoditas tersebut di petani.
“Isu yang beredar bahwa harga ditingkat petani turun hingga Rp.17.000 per kg tidaklah benar, kami masih membeli diatas Rp.20.000/kg bahkan tanggal 5 April yang lalu kami membeli dengan harga Rp.24.000 per kg,” kata Piter.
Dia juga berharap penerapan BK kakao tersebut diharapkan bisa mendorong para petani sekaligus eksportir yang selama ini mengekspor biji kakao untuk terlebih dahulu memproses biji kakao di dalam negeri sehingga produksi kakao fermentasi bisa meningkat dan membangkitkan industri di dalam negeri.
Pasalnya, akibat kekurangan bahan baku, beberapa industri pengolahan kakao, seperti industri makanan dan minuman tutup. Oleh karena itu, saat ini kapasitas industri pengolahan kakao terpasang sebenarnya mencapai 300.000 ton per tahun, namun yang terealisasi hanya separuhnya.
Terkait dengan itu, Dirjen Industri Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian, Benny Wachjudi mengatakan pihaknya akan meningkatkan upaya pemberian bantuan kepada petani kakao untuk melakukan kegiatan fermentasi.
“Walaupun ini rugas pokok Kementerian Pertanian, namun Kementerian Perindustrian telah melakukan pemberian bantuan ke lokasi-lokasi petani kakao untuk mendorong mereka melakukan fermentasi,” ujarnya.
Benny mengatakan proses fermentasi tidaklah sulit dan cukup menggunakan teknologi yang sederhana saja, seperti daun pelepah pisang dan drum.
Walaupun begitu, dia mengakui kegiatan fermentasi tidak begitu berkembang karena tidak adanya perbedaan harga jual antara biji kakao yang difermentasi dengan yang tidak difermentasi.
“Padahal, proses fermentasi itu akan menyusutkan bobot biji kakao. Begitu juga memakan waktu untuk memprosesnya,” katanya. buyung
Dear Team,
Setelah membaca pasaran harga Kakao, saya tertarik untuk mengetahui harga Kakao Kering saat ini. Maksud saya berapa harga jual/kg di pasaran saat ini.
Mohon advice….