Monday, May 10th, 2010 15:53 by
agroindonesia
Print this pageMungkin sebagian besar masyarakat awam menganggap pejabat maunya dilayani. Namun tidak demikian dengan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Titik Sugiharto. Jabatan terhormat yang disandangnya justru membuat dirinya mau melayani masyarakat. Turun ke lapangan pun dipilihnya malam hari, mengingat masyarakat bekerja di siang hari.
Wajar jika sekitar 7.000 nelayan yang ada di 3 kabupaten: Bantul, Sleman dan Gunung Kidul di Provinsi DIY tengah mentas dari kemiskinan. “Pendapatan rata-rata nelayan Yogyakarta mencapai Rp2 juta/bulan. Pendapatan pembudidaya lele, gurame dan nila sekitar Rp1,7 juta/bulan. Pendapatan ini paling tinggi di seluruh provinsi di Indonesia,” ujar Titik sumringah.
Kiatnya, ungkap Titik, nelayan dan masyarakat pesisir DIY sepakat mengharamkan 5 m: madon (berhubungan dengan perempuan yang bukan pasangan sahnya), minum (mabuk-mabukan), main (judi), madat (narkoba) dan maling (mencuri). Jadi, penghasilan yang diperolehnya pun halal. “Nelayan Yogyakarta menghindari 5 m. Bahkan nelayan pendatang pun diwajibkan mentaati aturan ini. Pernah 2007 lalu ada nelayan pendatang yang diusir karena melanggar salah satu dari 5 m,“ kata pria kelahiran 1954 ini.
Yang lebih penting lagi, semua itu merupakan cermin keberhasilan Titik yang sejak 2007 mengemban tugas sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Provinsi DIY. Ayah dua anak ini mampu mengubah pola pikir masyarakat Yogyakarta yang tadinya, hanya berkutat di dunia pertanian namun pelan-pelan mau melirik dan menekuni usaha perikanan.
Guna mengetahui lebih jauh upaya Titik dan jajarannya untuk mensejahterakan nelayan, masyarakat pesisir dan pembudidaya di DIY, berikut bincang-bincang dengan AgroIndonesia di Bandara Adisucipto, DIY beberapa waktu yang lalu.
Untuk tahun 2010 ini apa Rencana Strategis Dinas Kelautan dan Perikanan, Provinsi DIY?
Rencana strategis kami ada 2: budidaya dan perikanan tangkap. Yang budidaya mengembangkan kelompok-kelompok pemula. Di samping itu memanfaatkan lahan-lahan yang tidak produktif. Juga pengembangan budidaya dengan kebun rakyat atau minakra.
Minakra adalah budidaya di bawah kebun kelapa atau pohon mangga dengan memanfaatkan air hujan. Maka dari itu sekali pun di Gunung Kidul tengah kemarau dan dianggap lahannya kering serta susah air, disana masih bisa panen lele karena memanfaatkan air hujan.
Menurut perhitungan saya, bumi Indonesia ini diberi sumber daya alam yang cukup oleh Yang Maha Kuasa. Tinggal bagaimana kita yang mengatur dan mengelolanya. Jadi sebenarnya air cukup.
Di Yogyakarta sendiri curah hujan perharinya rata-rata 12 milimeter dan ini termasuk tinggi. Kalau hujan 4 bulan, kita bisa membagi air dan mengaturnya hingga akhir musim kemarau.
Seperti apa teknologi budidaya lele yang diterapkan di Gunung Kidul yang dikenal kering dan susah air?
Di Gunung Kidul kita terapkan teknologi kolam-kolam plastik yang dirancang khusus dan sangat mudah dilakukan oleh masyarakat. Kita buatkan kolam-kolam kecil dari terpal plastik, seukuran 24 meter persegi dengan kedalaman 50 centimeter.
Kolam plastik atau terpal dipilih karena kalau kehabisan air, kolam bisa dilipat lain dari pada memakai tembok yang akan pecah dan rusak jika mulai kering.
Kita mulai mengembangkan teknologi ini secara besar-besaran pada Januari 2007 hingga sekarang dan kegiatan ini sudah melibatkan lebih dari 40.000 orang. Sekarang sedikitnya, ada 25 orang yang datang ke kantor dinas setiap harinya untuk diskusi dan meminta bantuan benih lele.
Kita pun bekerja sama dengan dinas tenaga kerja untuk melatih kelompok-kelompok pemula terutama generasi mudanya. Selain melatihnya, kita juga memberi gratis terpal plastik, benih lele dan pakan untuk 1 periode panen saja, 50 hari. Setelah itu mereka beli benih dan pakannya sendiri.
Berapa hasil produksi lele dari teknologi kolam kecil plastik tersebut?
Di Gunung Kidul pertahunnya tak kurang dari 3 ton. Saat ini untuk kolam kecil seukuran 24 meter persegi dengan penebaran 2.500 benur, petani bisa panen hingga 250 kilogram untuk 50 hari.
Setiap kolam memiliki keuntungan bersih hingga Rp316.000 untuk sekali panen. Jika tiap KK (Kepala Keluarga) memiliki 6 kolam maka pendapatan mereka sudah melebihi UMR Yogyakarta.
Apakah ada kendala budidaya lele di kolam-kolam plastik mini ini?
Kendala utama adalah ketergantungan pakan dari pabriknya. Dulu ada maggot namun dari sisi higienis produk ini susah diterima pasar karena maggot berasal dari kotoran. Dulu juga di Yogyakarta ada pembuatan pakan alami yang menggunakan daun-daunan tapi tidak bisa mengejar kuantitas dan berat ikan. Karena itu kita menantang Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk membuat industri pakan kecil-kecilan di sentra perikanan.
Masalah bibit juga jadi kendala. Tahun 2010 ini induk kita beli semua dari UPR (unit pembenihan rakyat) agar benih yang dihasilkan unggul.
Kenapa sih lele yang dibudidayakan di Gunung Kidul? Dan apa jenisnya?
Karena lele mampu membuat oksigen sendiri dalam tubuhnya. Jenisnya lele dumbo karena lebih tahan terhadap minimnya air.
Beralih ke perikanan tangkap. Apa saja rencana strategisnya?
Kita sedang membangun pelabuhan ikan, dananya dari PU (Pekerjaan Umum) senilai hampir Rp70 miliar. Kita membangun perikanan tidak hanya mengandalkan dana dinas kelautan dan perikanan saja namun bekerja sama dengan dinas sosial, dinas PU, dinas tenaga kerja dan transmigrasi. Kita berusaha mengajak seluruh instansi terkait untuk membangun dan memajukan industri perikanan. Kita tidak bisa sendiri. Untuk itu kita sudah siapkan lahan 50 hektar untuk pelabuhan ikan yang ada pengolahannya, docking, perkantoran dan cool storage. Fenny YL Budiman