Wednesday, May 19th, 2010 17:51 by
agroindonesia
Print this page
Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun, mengatakan belanja barang dan modal pemerintah tahun 2010 ini akan meningkat 19,2% dibandingkan tahun lalu. “Jika pada 2009 total belanja barang dan modal pemerintah mencapai Rp158,8 triliun, maka jumlah itu akan meningkat menjadi Rp189,2 trilun tahun ini,” ujar Alex di sela pembukaan Gelar Cinta Produk Dalam Negeri dan Gebyar TeknikIndustri 2010, di lobi Kementerian Perindustrian. Rabu (19/5) .
Alex juga mengatakan, belanja modal dan operasional 63 BUMN strategis diperkirakan meningkat dari tahun lalu yang mencapai Rp950,78 triliun yang sekitar Rp143,93 triliun diantaranya untuk belanja modal.
“Jika alokasi yang diberikan kepada kementerian dan non kementerian itu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk penggunaan produk dalam negeri, maka tujuan utama program P3DN (peningkatan penggunaan produk dalam negeri akan tewujud,” ujarnya.
Dia mengingatkan bahwa sesuai Keppres Nomor 2 tahun 2009, tentang Penggunaan Produksi Dalam Negeri, instansi pemerintah sesuai kewenangan masing-masing diminta memaksimalkan penggunaan barang/jasa hasil produksi dalam negeri, termasuk rancang bangun, serta
penggunaan barang/jasa nasional.
“Belanja pemerintah untuk pembelian barang dan jasa sangat besar nilainya, apalagi bila digabungkan dengan belanja BUMN dan BUMD,” katanya.
Alex menghimbaui nstansi pemerintah dan BUMN meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri dalam belanja barang/modal menyusul peningkatan anggaran belanja tahun ini, guna membantu peningkatan daya saing produk nasional di tengah pelaksanaan perdagangan bebas dengan negara lain.
Dia menguraikan sejak Januari 2010 Indonesia mulai mengimplementasikan kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China dan pada Juni Indoesia juga akan melaksanakan kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-India, serta akan menyusul kesepakatan perdagangan bebas lainnya.
Diakuinya, dalam perdagangan bebas tersebut, Indonesia berharap dapat memetik keuntungan dengan memanfaatkan peluang pasar yang besar di China dan India. Namun di sisi lain, ia mengingatkan pasar dalam negeri juga akan dibanjiri produk dari negara-negara tersebut, jika daya saing industri nasional tidak kuat dan penggunaan produk dalam negeri melemah. Dia menaruh harapan besar pula pada dukungan kalangan pelaku usaha dan akademisi untuk meningkatkan daya saing industri nasional.
Sementara itu, Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Anshari Bukhari mengatakan sampai saat ini terjadi tren peningkatan penggunaan produksi dalam negeri baik pada instansi pemerintah maupun BUMN/BUMD
Menurut dia, saat ini rata-rata penggunaan produksi dalam negeri pada belanja modal/jasa di kalangan instansi pemerintah telah mencapai sekitar 40 persen. “Empat puluh persen sudah bagus, itu
target minimal dan hal ini (penggunaan produksi dalam negeri) akan didorong terus,” ujar Anshari yang juga ketua penyelenggara pameran itu.
Ia mengatakan penggunaan produksi dalam negeri belum bisa mencapai 100 persen karena masih banyak barang dan jasa yang dibutuhkan belum bisa diproduksi di dalam negeri. “Bisa karena belum diproduksi atau spesifikasinya tidak pas,” ujarnya. buyung